<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484</id><updated>2012-02-16T05:46:53.163-08:00</updated><category term='Melancong'/><category term='Bad Story'/><category term='Iseng'/><category term='Good Story'/><category term='Renungan'/><category term='cerpen'/><category term='Tipsaranekat'/><title type='text'>badutampan</title><subtitle type='html'>Sebuah uraian isi kepala yang samasekali tak berisi. Tanpa isi yang terisi dengan isi yang berisi. Kalopun terlihat berisi itu hanya ilusi. Meski lo semua bilang basi, gue ucapkan beribu terimakasih..</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-6388713824683355319</id><published>2010-08-30T08:18:00.000-07:00</published><updated>2010-08-30T08:21:52.173-07:00</updated><title type='text'>Home Sweet Home</title><content type='html'>&amp;quot;Apakah kau rasakan, getaranku pada dirimu? Ku hanya duduk terdiam, hanya untuk tahu namamu..&amp;quot;&lt;p&gt;Lagu dari Maliq terdengar jelas di mobil gue. Jam menunjukkan pukul 04:50. Dan gue masih dalam perjalanan pulang ke rumah. Mengejar waktu biar bisa subuh bareng bunda (istri_red) gue tercinta di rumah. Melewati jalur tol Simatupang, dan gue memutuskan buat keluar di BSD. Menghindari jalur bintaro penuh polisi tidur yang biasa gue lewati hampir 15 hari semenjak gue harus mondar-mandir Bintaro-Pondok Gede buat kerja. &lt;p&gt;Gue mau balik ke rumah. Rumah yang meski labelnya baru tapi udah sering bikin gue naik darah. Bukannya gak mau bersyukur karena masih saja mengeluh meski udah punya rumah sendiri. Hanya saja harus gue akui, keputusan gue buat beli rumah yang gue tempati sekarang adalah keputusan yang salah. &lt;p&gt;Kenapa gue bilang salah? &lt;br&gt;Karena dari awal, pada saat mau serah terima kunci dari developer ke gue, rumah itu ternyata banyak cacatnya. Meski kerusakan-kerusakan kecil, tapi tetep aja kalo jumlahnya banyak bikin gue jadi sewot sendiri. Gak senilai dengan uang yang harus gue keluarin buat membeli rumah itu. Harga tinggi, kualitas rendah.&lt;p&gt;Kamar utama gue aja udah jadi langganan bocor. Dari awal gue tempatin sampe dua minggu kemarin. Sementara gue baru serah terima februari. Belum ada setahun. Yang sempet bikin gue malu ketika pernah bokap istri gue tidur di kamar itu, beberapa hari sebelum hari pernikahan gue berlangsung, dan tiba-tiba beliau harus terbangun karena ada tetesan air yang jatuh di kakinya. Parahnya, air itu jatuh dari rumah lampu yang terpasang tepat di atasnya dan lampunya sendiri berada dalam posisi on, alias menyala. Beliau sampe teriak &amp;#39;banjir&amp;#39; ketika tetesan air itu membuatnya tersadar secara tidak terhormat. Huuufff..&lt;p&gt;Itu baru satu cerita dari sekian banyak cerita yang pernah gue alami bersama rumah itu. Selain tembok dindingnya yang banyak berjamur, atap bocor, kaca yang gak kedap air dan pintu-pintu yang bermasalah.&lt;p&gt;Sssttt.. Gue udah sampai rumah. Habis subuh juga. Kepala gue pusing. Gue terusin nanti yah, sebangun gue tidur.. &lt;p&gt;To be continued..&lt;p&gt;Ciluuuk.. Baaaaaa..&lt;br&gt;Gue balik lagi. Buat nerusin cerita gue tentang rumah &amp;#39;idaman&amp;#39; gue yang lebih sering bikin gue gak nyaman. Sebenernya gue sih gak nyalahin rumahnya. Soalnya dia kan benda mati. Yang gue lagi pengen kutuk jadi batu bata sebenernya oknum-oknum pembuat rumah itu. Entah kontraktor atau developernya. Masalahnya, gue tetep belum  bisa terima aja kalo kualitas rumah gue yang notabene &amp;#39;mahal&amp;#39; buat gue itu ternyata &amp;#39;murah&amp;#39;.&lt;p&gt;Pasti ada permainan. Dan sepertinya itu sih udah rahasia umum juga. Kualitas material tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Dinding keramik kamar mandi gue aja kopong. Begitu juga dengan tembok-tembok dinding rumah gue, keliatan rapuh dan gampang hancur. Kena tekanan dikit aja langsung retak. &lt;p&gt;Kamar utama gue udah terlalu sering di grepe-grepe sama tukang bangunan, tapi tetep aja bocor sama netes jadi santapan gue saat hujan mengguyur. Arrrrgghh.. Kaya rumah beratapkan kawat ayakan pasir. Kaya tinggal di rumah perahu. Akrab sama air dan genangan. Yang lebih parah lagi, sebulan kemarin tiba-tiba semua pintu gue bermasalah dengan pegangan dan kuncinya. Ada yg copot, ada yang gak bisa dikunci, ada yang jebol sendiri lobang kuncinya. Gue harus agak naik omongan juga ketika gue nuntut semua grendel pintu gue diganti. Bener-bener parah. Dan kayanya pihak pengembang lebih sering cuci tangan. Gak responsif dengan masalah yang ada. &lt;p&gt;Sama halnya ketika sebulan kemarin juga terjadi pencurian mobil tetangga baru gue. Namanya Fahmi. Pengusaha kalimantan asal cirebon. Mobil New X-Trailnya raib dari garasi rumahnya. Dari rumah yang sebenernya terlihat jelas dari pos security perumahan. Raib di saat si pemilik rumah metitipkan rumahnya ke pihak keamanan kompleks ketika dia harus bertolak ke kalimantan, tepatnya Bontang untuk berbisnis. Miris banget, karena cerita kaya gitu udah sering banget terjadi. Jadi momok menakutkan buat para penghuni yang sering meninggalkan rumahnya dalam keadaan kosong. Ibaratnya, mending gak usah titip satpam kalo mau pergi jauh, biar barang aman. Daripada titip satpam malah jadi amblas semua barang yang kita punya.&lt;p&gt;It&amp;#39;s true loh..!!&lt;br&gt;Gue sendiri gak habis pikir dan sempat terbesit keinginan buat langsung menjual rumah itu. Gak aman. Padahal konsep awalnya cluster. Tanpa pagar tertutup. Open view antar tetangga. Yang mestinya dengan sistem pengamanan sentral, satu pintu, semuanya bisa lebih terawasi. Tapi tidak pada kenyataannya. Wajar juga sih kalo gampang kehilangan di kompleks gue. Lah wong cukup dengan password senyum sumringah ke satpam, siapa aja bebas keluar masuk kompleks. Padahal sebelum kejadian pencurian mobil itu, gue sempet ngasih peringatan, ngasih masukan biar lebih tegas sama tamu yang mondar-mandir di kompleks. Tapi sepertinya omongan gue cuma masuk kuping kanan, keluar kuping kanan juga. Alias, mentok. Didengerin juga nggak. Hahahaha.. Sial..!! Masukan berupa kritik gak diterima. Kalo masukan berupa duit pasti diterima. Wakakakak..  &lt;p&gt;Dan sekarang, cluster gue bentuknya udah gak jelas. Si korban pencurian mobil malah sekarang udah memagar sekeliling rumahnya dengan pagar besi. Gak bisa gue salahin, karena dia udah merasakan kerugian besar sementara dari pihak developer sendiri gak ada kata maaf atau apalah atas peristiwa kehilangan itu. Datang buat memberikan pernyataan simpati pun tidak. Bahkan Tetangga sebelah rumahnya juga akhirnya memutuskan untuk memasang pintu portal besi sendiri. Meski begitu, tetep aja, sepedanya hilang. Dipotong rantai pelindungnya. Dan hilang begitu saja. Hebaaaaaat..!!&lt;p&gt;To many problem with the house. Nasib oh nasib. Gue sendiri gak tau sampai kapan gue bisa bertahan untuk tinggal di lingkungan itu. Emang bener, kebanyakan lingkungan kompleks justru membuat orang lebih individualis. Sendiri-sendiri. Kekeluargaan susah terjalin, karena kesibukan masing-masing yang juga berbeda-beda. Hehehe.. Dan sepertinya gue sendiri masih belum tau apa rumah yang gue tempati bisa sepenuhnya jadi rumah idaman gue atau sebaliknya, jadi rumah yang ditinggal pergi penghuninya.&lt;p&gt;Home sweet home..&lt;br&gt;Andai itu bisa terwujud, tentunya gue gak perlu ngerasa cape harus terus menerus berhadapan dengan masalah kecil tapi mengganggu. Gue gak perlu ngerasa cape harus mengeluarkan uang buat perbaikan yang itu-itu aja. Hehehe.. Dan gue gak perlu ngerasa was-was kalo meninggalkan rumah gue tak berpenghuni meski hanya sesaat..&lt;p&gt;Just wait and see aja. Toh, jawabannya akan terlihat ketika saatnya telah tiba. Dan pilihannya hanya dua, menetap atau meninggalkannya..&lt;p&gt;&lt;br&gt;Kelapa Gading.&lt;br&gt;30 Agustus 2010. 19:50 wib.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-6388713824683355319?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/6388713824683355319/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2010/08/home-sweet-home.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/6388713824683355319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/6388713824683355319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2010/08/home-sweet-home.html' title='Home Sweet Home'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-2248995756524321000</id><published>2010-08-29T11:25:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T11:27:17.218-07:00</updated><title type='text'>Sebelas</title><content type='html'>Sebelas..&lt;br&gt;Bakatul bin betul..  Puasa tinggal sebelas hari lagi. Gak kerasa. Sudah terlewati setengah perjalanan menuju hari yang fitri. Meski jujur badan udah mulai kerasa letih, tapi gue seneng karena masih dikasih kesempatan menjalani ibadah di bulan yang suci ini. Rezeki juga masih mau singgah di hidup gue. Syukron kepada Allah SWT yang masih mempercayakan rezekinya mampir di kehidupan gue.&lt;p&gt;Ini puasa pertama gue bersama belahan jiwa gue. Meski jujur gue akui gue sedikit sedih karena harus meninggalkan dia untuk mencari nafkah buat masa depan kita berdua. Buka puasa dan sahur gue lebih sering terpisah. Gue di lokasi kerja, istri gue tercinta di rumah. Awal puasa gue sempet ngerasain buka puasa and sahur bareng istri, tapi apa mau dikata, beberapa hari kemudian gue tiba-tiba dipercaya buat menjadi salah satu pengisi acara di stasiun tv nasional. Jadi lah gue kerja saban subuh mencoba menghibur pemirsa di rumah menemani mereka bersantap sahur. Sementara sahur gue sendiri kerasa hambar karena kerasa sepi. Padahal gue pengen banget bisa makan sahur berdua, buka berdua, ibadah juga berdua..&lt;p&gt;Tapi apa mau dikata, Manusia punya rencana, Allah SWT punya kuasa. Mau tinggal mau. Ingin cuma ingin. Ujung-ujungnya gue memang harus mengikuti skenario yang sudah dibikin Allah SWT buat gue dan istri gue. Setidaknya gue tetep harus berpikir positif, bahwa Beliau menginginkan gue buat bekerja. Mencari rezeki yang halal buat hidup gue. Buat salah satu jalan ibadah gue juga. Kerja ibadah. Hasilnya buat sedekah juga bakal jadi ibadah. Jadi.. Jalani saja apa yang ada.. &lt;p&gt;Bicara soal ibadah, ada satu penyesalan terbesar gue di ramadhan kali ini. Buat gue, puasa gue jauh lebih buruk dari tahun kemarin. Batal sih nggak, bolong-bolong juga alhamdulillah tidak. Hanya saja gue berpikir puasa gue tahun ini terasa hambar. Puasa tanpa disertai ibadah pelengkapnya. Kesibukan duniawi gue membuat gue meninggalkan kebiasaan yang dulu masih sering gue lakuin (waktu masih kecil_red), kayak shalat tarawih atau melantunkan ayat-ayat suci Al- Qur&amp;#39;an. Gue juga sering banget gak bisa nahan emosi karena terlalu sensi. Gak tau lah, mungkin karena kondisi gue yang lagi cape atau udah bawaan orok. Huuufff.. &lt;br&gt;Coba gue bisa jauh lebih baik dalam segala hal, pasti gue juga bisa jauh lebih nikmatin indahnya puasa kali ini. Ya, pada akhirnya gue harus terima kalo gue udah masuk kategori orang yang merugi, karena kualitas ibadah gue hari ini jauh lebih buruk dari hari-hari kemarin. &lt;p&gt;Padahal gue pengen banget bisa ngerasain khusuknya shalat tarawih di masjid. Berkumpul dengan saudara-saudara gue sesama muslim. Berangkat ke rumah Allah SWT bersama istri gue tercinta, beribadah bersama-sama. Saling melantunkan ayat-ayat suci-NYA di rumah selepas shalat. Atau mungkin sekedar membaca buku-buku agama buat mempertebal iman dan menambah pengetahuan agama gue. &lt;p&gt;Entahlah..&lt;br&gt;Kadang gue sendiri bingung juga sama kondisi yang gue jalanin. Apa sudah benar atau masih jauh dari benar. Iman gue juga lebih sering naik turun. Terkalahkan nafsu duniawi gue. Kapan gue benar-benar bisa balance dunia akhirat. Padahal kalo ingat umur gue yang udah kepala tiga gue jadi ngeri sendiri. Pahala gue mungkin 0,1:100 sama dosa gue. Gak kebayang jadi apa gue di akhirat kelak. Ampun ya Allah..&lt;p&gt;Beberapa saat tadi adzan magrib telah berkumandang. Aura kebersamaan akhirnya terwujud hari ini di rumah orangtua gue tercinta. Keluarga gue berkumpul buat berbuka bersama. Gue seneng banget, gue akhirnya bisa ngerasain moment seperti ini lagi. Meski jarang terjadi. &lt;p&gt;Buat lo semua yang iseng baca tulisan gue, met buka yah. Tetep semangat menjalani hidup. Tetep sayang dan jaga orang-orang terdekat kalian sepenuh hati. Hargai mereka sebelum mereka menghilang dari kehidupan kalian semua..&lt;p&gt;Gue buka dulu yah. Bukan baju atau celana, tapi puasa. Hehehehe..&lt;p&gt;See u..&lt;p&gt;&lt;br&gt;Graha Raya Bintaro. &lt;br&gt;29 Agustus 2010. 18:25 wib.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-2248995756524321000?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/2248995756524321000/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2010/08/sebelas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/2248995756524321000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/2248995756524321000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2010/08/sebelas.html' title='Sebelas'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-6381313007731924114</id><published>2010-08-28T02:22:00.000-07:00</published><updated>2010-08-28T02:24:35.198-07:00</updated><title type='text'>I'm Back..!!!</title><content type='html'>Finally.. Gue nulis lagi.. Hihihi..&lt;p&gt;Mau nulis apa yah? Mmm.. Kurun waktu vakum yang lumayan lama semenjak terakhir otak gue kepakai buat ngerangkai kata jadi sebuah tulisan. Banyak cerita yang mestinya bisa gue bagi. Tapi seperti biasa, sepertinya jari tangan dan otak gue lagi kurang harmonis hubungannya kemarin-kemarin.&lt;p&gt;Ya sudahlah, kalo Bondan Prakoso bilang. Gak ada yang perlu disesali. Toh, dipaksain nulispun gak akan menghasilkan apa-apa juga nantinya. Lebih baik mengalir saja seperti air. Yang penting gak sampai banjir.&lt;p&gt;Mau nulis novel, tapi selalu stuck tengah jalan. Mau bikin cerpen gak pernah dapet ide nakal yang bener-bener bikin gue nafsu buat ngegarapnya. Mau bikin skripsi gak kuliah juga. Jadi lebih baik nulis gak penting kaya gini. Kalopun gak bagus, gak malu-malu amat. Lah wong yang gue tulis emang bukan karya yang harus dipertanggungjawabkan kepada siapapun kecuali diri gue sendiri. Hihihihi..&lt;p&gt;Tapi gue seneng juga. Gak percuma gue ganti handphone, karena akhirnya justru benda ini yang kayanya bakal memuluskan langkah gue buat terus nulis di tengah kesibukan gue yang gak sibuk-sibuk amat ini. Padahal gue sempet nyesel kenapa gue gak pake Blackberry lagi buat alat komunikasi dan sosialisasi gue. Gue sempet nyesel kenapa gue tergiur buat beli Nokia N97 mini ini. Tapi akhirnya sekarang gue makin yakin, sekecil apapun benda pasti punya fungsi. Pasti punya guna dan manfaat yang bisa kita nikmati dan rasakan. Semua ada hikmahnya. Penyesalan gue berubah jadi kegembiraan yang tak terhingga. &lt;br&gt;Yess..!!! Finally gue bisa nulis lagi..&lt;p&gt;Dan yang pasti laptop gue juga jadi makin terkulai lemah di rumah. Lama tak tersentuh jari-jari telunjuk gue. Mungkin saat ini tuh laptop lagi menjerit sekeras-kerasnya ketika tahu dia kalah saing dengan handphone. Hahahaha.. Maaf, Top! Gak ada maksud apa-apa. Cuma kadang gue malah mati langkah kalo udah berhadap-hadapan sama lo. Besarnya layar lo sama sekali gak merangsang otak gue buat menghasilkan karya yang besar juga. Untuk kondisi gue sekarang gue jadi teringat pesan abadi, &amp;quot;Semua yang besar berawal dari yang kecil&amp;quot;. Dan mungkin aja mimpi gue buat menghasilkan tulisan yang baik dimulai dari benda berukuran mini ini. Nothing&amp;#39;s possible. Gak ada yang gak mungkin. Bener kan?&lt;p&gt;Paling tidak, sekarang, ketika gue ada uneg-uneg atau cerita yang bisa gue bagi (dan siapa tau bisa menginspirasi orang lain), gue bisa lebih up to date. Feel and write it..!! Masalah mau dibaca orang lain itu nomor kesekian dan terimakasih. Hihihihi.. &lt;p&gt;Jadi buat para pembaca-pembaca setia blog gue (kaya banyak aja..), yang kangen sama tulisan-tulisan gue yang ngawur and gak jelas arah anginnya, ijinkan gue dengan segenap jiwa dan raga untuk berteriak dengan narsisnya, &amp;quot;I&amp;#39;m back..!!&amp;quot;&lt;p&gt;&lt;br&gt;On my way home. &lt;br&gt;Bintaro. 28 Agustus 2010. 05:19 WIB.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-6381313007731924114?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/6381313007731924114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2010/08/im-back.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/6381313007731924114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/6381313007731924114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2010/08/im-back.html' title='I&apos;m Back..!!!'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-4150397973505538259</id><published>2009-03-14T05:20:00.000-07:00</published><updated>2009-03-14T06:19:14.153-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Mellow Attack</title><content type='html'>Hihihihi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak pernah terbersit kalo pada akhirnya ada orang yang mau baca tulisan-tulisan gue yang gak berbobot ini. Gue hanya sebatas menulis apa yang gue mau dan gue pikirkan. gak lebih, gak kurang. Mood merangkai kata yang gue punya lebih sering bikin gue terdiam di satu titik dan gak berbuat apa-apa. Malas menuliskan apa yang gue rasa dan gue punya selama ini. So many story to tell, tapi tetep aja, so little time to share..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup gue belakangan ini emang lagi melow-melownya. Bawaan dari orok kali. Atau jangan-jangan tanpa gue sadari, dalam perut nyokap gue, gue udah sering banget ngerasa melow. Murung, sedih, and terpaku sendiri. Hihihihi.. Lebay gila.&lt;br /&gt;Tapi gak mengapa lah. Gue tetep mensyukuri apa yg gue punya. Rasa ini gak semua orang bisa punya. Terlebih lagi ketika orang itu udah mati rasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenernya kalo disuruh memilih, gue gak mau terus-terusan melow gak jelas gini. Tapi apa mau dikata, terlalu banyak story yang bikin gue gak begitu menikmati hidup yang gue punya. Orang mungkin berpikir gue punya segalanya. Bisa mendapatkan segalanya. Tapi ternyata mereka salah. Luar gue gak selamanya mencerminkan isinya. Gue ternyata tetap manusia biasa yang bisa juga merasa sedih dan kecewa. Meski pada akhirnya berlebihan, gue tetep mengganggap itu semua proses hidup belaka. Karena gue yakin, semua ada masanya. Ada waktunya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegembiraan yang gue punya gak selamanya bikin gue tertawa. Begitupun dengan kesedihan yang kadang mendera. Gak selamanya buat gue menitikkan air mata. I'm just try to be balance in everything. Meski mungkin orang lain melihat sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang gue sesalkan, kenapa saat gue melow gue justru bisa menumpahkan semuanya. Mengalirkan kisah dalam bentuk kata. Menelurkan cerita dalam bentuk yang lebih nyata dan bisa dicerna. Sudah kodratnya begitu kali yah. Sama halnya ketika kita mengadu kepada Yang Maha Kuasa. Jarang banget dari kita bercerita kepada-NYA di saat kita sedang happy-happynya. Pasti saat sedih aja. Saat kecewa melanda. Saat gundah menyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shit banget deh. Liat aja. Gue padahal niatnya mau nulis santai dan gak terkesan rapih and teratur, ini malah kaya prosa banget. Jadi terkesan sok puitis. Huuufff.. Knapa sih gak semengalir penulis-penulis edan yang ada di jagat kata Indonesia atau dunia? Atau memang pola otak gue udah ter-mindset buat nulis model kaya gini. Hahahaha.. Gak ngerti lah. Intinya gue cuma pengen nulis aja. Mumpung otak gue mau berpikir sejenak, and jari-jari gue mau diajak kerjasama sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti menulis diary, tapi inconditional. Artinya, gue nulis diary seenak jidat gue aja. Gak pernah ada cerita yang bener-bener spesial and somethin yang gue ceritakan di tulisan-tulisan gue. Ngeblur. Gak jelas. Flicker..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti saat ini. Gue kembali melow dengan hidup gue. Boring dengan rutinitas gue. Jenuh dengan alur hidup gue. Gak bersyukur banget ya gue. Emang dasar si Wendi, tak tau terimakasih. Hihihihi.. Gue terima aja deh kalo lo semua bilang gitu. Emang kenyataannya gue begitu. Kelebihan yang gue punya tertutup semua oleh kekurangan yang jumlahnya kecil adanya. Damn! I'm not good at all. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue kembali diserang melow..&lt;br /&gt;Gimana enggak coba..&lt;br /&gt;Di saat kedua sohib seperjuangan gue sedang asyik-asyiknya menggendong dan menghibur baby mereka, gue masih aja asyik dengan kesendirian gue. Di saat kedua teman gue dengan binarnya menceritakan buah hati mereka, gue malah sedang takut-takutnya mencari calon ibu buat buah hati gue. Hehehe.. Ironis. Miris. Hati gue seakan teriris tipis-tipis. Apalagi ketika banyak mulut mempertanyakan kesendirian gue. Mempertanyakan keeksistensian gue sebagai seorang pria. Hahahaha.. Gue gak menyalakan juga ketika akhirnya orang-orang mempertanyakn kejantanan gue..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis apa mau dikata? Gue selalu berusaha. Tapi waktu selalu berkata beda. Gue terus mencari cinta, tapi parno terus juga menghantui tiap langkah yang gue punya. Ketakutan untuk berkomitmen. Ketakutan akan mengalami kekalahan dan kesalahan yang sama. Ketakutan untuk kembali melukai hati wanita yang gue puja. Ketakutan ini. Ketakutan itu. Dan semua ketakutan itu malah menggiring gue ke dalam kebuntuan yang permanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa iya gue terlalu pemilih? Apa iya gue terlalu menginginkan kesempurnaan yang gak ada sama sekali di dunia ini? Apa iya gue memang tak layak punya hati tuk dibagi? Atau mungkin memang gue tipikal orang yang bener-bener gak tahu diri? Hihihihi.. &lt;br /&gt;Sepertinya pertanyaan terakhir sudah cukup mewakili..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup banyak kisah yang gue alami dan orang lain gak akan pernah bisa pahami. Gak memaksa juga buat ngerti. Toh, gue yang menjalani. &lt;br /&gt;Kalopun gue masih sendiri dan masih terus mencari, gue yakin memang ini yang harus gue hadapi. Gak mau kecewa di kemudian hari. Gak mau terlambat menyesali apa yang telah terjadi. Gak mau patah hati dan bersedih lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue mungkin akan selalu jadi orang yang melow sampai saatnya nanti. &lt;br /&gt;Tapi gue sangat menikmati. Karena menurut gue, itu sebuah hal yang manusiawi. &lt;br /&gt;Dan itu juga yang akan membuat gue selalu rajin untuk tetap merajut mimpi. &lt;br /&gt;Agar cinta sejati gak cuma asa semu di hati..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi..&lt;br /&gt;Biarkan saja melow ini menyerangku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jakarta.14maret2009  &lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-4150397973505538259?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/4150397973505538259/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2009/03/mellow-attack.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/4150397973505538259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/4150397973505538259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2009/03/mellow-attack.html' title='Mellow Attack'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-2155264538630106273</id><published>2008-12-04T12:36:00.000-08:00</published><updated>2008-12-04T12:42:48.132-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Sepi Ini Membunuhku</title><content type='html'>Entah apa yang ada dibenak gue sekarang. Di tengah kesendirian gue yang menyebalkan ini. Banyak teman tapi kadang sering merasa tak nyaman. Banyak kawan tapi sering merasa kesepian. Berusaha untuk gak cengeng tapi kenyataannya gue gak lebih dari seorang manusia biasa yang bisa juga melenceng. Melenceng dari sikap yang semestinya. Sesuai dengan usia yang gue punya. Hahahaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film Alexandria masih bergulir dengan kisah cinta segitiganya. Gue gak juga bisa menikmati sepenuhnya di layar kaca. Serasa sebagian jiwa gue terbang entah kemana. Seperti status YM gue saat ini, “Searching the Missing Soul”. Mencari tapi tak mencari. Menunggu tapi tak menunggu. Gue membiarkan diri gue tersiksa secara perlahan. Mencoba menikmati semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue kadang bertanya dalam hati, siapa yang akhirnya mampu membunuh sepi yang siap membunuhku. Siapa wanita yang akhirnya bisa membuat gue bahagia sepenuhnya. Menemani gue yang sebenarnya jauh dari sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi siang gue jalan bareng Ranger Pink. Someone yang pernah mengisi hari-hari gue dulu dengan indahnya. Meski tak pernah bersatu, gue selalu merasa senang gue pernah mengenal dan dekat dengannya secara hati. Hihihihi... Bukan hal yang berlebihan sih. Gue kadang suka tertawa sendiri mengingat bagaimana kita berhubungan. Bagai minyak dan air. Gak pernah bisa jadi satu. Entah apa cerita sesungguhnya yang digulirkan dalam hubungan kita berdua. Gak tau bagaimana endingnya nanti. Just wait and see..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Back to the jalan-jalan bareng dia ke Ambasador Kuningan.&lt;br /&gt;Rencananya memang udah dari hari Selasa, tepatnya pas gue memaksakan diri untuk jalan ke Gading Mall untuk cari jam tangan yang gue mau, Casio G-Shock. Old fashion banget sih. Tapi entah kenapa gue lagi pengen banget tuh jam. Apa mungkin karena gue tiba-tiba melihat Narji membelinya dan memakainya. Di dia aja keliatan bagus, apalagi di gue. Itu kali bisikan setan yang waktu itu menggerogoti otak gue. Hahahaha.. kaya anak kecil banget emang. Tapi ya udahlah. Gue emang gitu koq. Sering membeli sesuatu untuk alasan yang gak penting and gak masuk akal. Superduperboros. Dan ditemenin Agus gue kelilingin Gading yang berakhir dengan nothing. Gak dapet apa yang gue mau. Saat itulah gue bikin janjian buat nyari barang yang gue mau di Ambasador ditemenin Ranger Pink.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji jam 1 siang, tapi endingnya tetap aja baru take off jam setengah 3 dari flatnya dia. Padahal gue jujur sempet ragu bisa bangun sesuai jadwal apa nggak. Secara Rabu malamnya gue nekat jalan ke Kemang bareng temen-temen Bajaj, sehabis bikin pesta kejutan kecil buat ulang tahun Paman, panggilan sehari-hari gue dan yang lainnya buat Manajer gue. Minta dibangunin jam 12 siang. Gue langsung bersiap-siap. Agak lama gue memutuskan pakaian mana yang gue kenakan siang tadi. Kayak orang mau kencan aja. padahal cuma mau nyari jam and softcase buat si Putih. Mungkin karena gue juga bukan tipikal yang pedean kalo make sesuatu. Gue memilih pakain yang sesimpel mungkin, and yang terpenting bikin gue nyaman. Thanks to Sapri, the guy yang jagain kantor gue, gue memutuskan memakai jeans Frontline yang gue punya plus kaos Yodium dengan design kesukaan gue pada akhirnya. Gue terpaksa jemput Ranger Pink pake Taksi, secara mobil gue dibawa lagi ke bengkel setelah hari sebelumnya udah di servis di bengkel yang sama. Ketidaknyamanan yang gue alamin saat mengendarai si Vitara, membuat si Sam, asisten gue, kembali bersusah payah membawanya ke bengkel. Maaf yah, Sam. Gak ada maksud bikin lo terpaksa nunggu lama lagi mengawasi perbaikan si Vitara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue cabut dari posko (Cagur Office_red) sekitar jam 2an. Padahal gue janji jam setengah 2, atau paling lambat jam 2 udah sampe flatnya Ranger Pink yang ada di daerah Tebet. Maklumlah, gue masih orang Indonesia asli, makanya urat ngaret gue masih agak kentel nempel di badan gue. Tapi ternyata ada yang lebih kentel Indonesianya daripada gue. Siapa lagi kalo bukan Ranger Pink. Karena begitu gue udah sampe flatnya pun, dia belum sepenuhnya siap. Hahahahaha.. Itulah susahnya jadi cewe. Terlalu banyak urusannya, ya mandi lama lah, ya ngeringin rambut lama lah, ya dandan lama lah. Gue akhirnya harus turun dari taksi dan meminta pak Sopir untuk menunggu gue sementara gue menjemput Ranger di kamarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya kita di Ambasador, kita langsung hunting barang yang kita cari. Gue terutama. First destination, Softcase buat si Putih! Setelah keliling beberapa toko akhirnya gue mendapatkan yang gue mau. Softcase semikulit kotak-kotak berwarna putih. Harganya ternyata gak terlalu mahal, cuma 100 ribu dikurang seceng, alias 99.000 saja. Lebih lucunya, Ranger malah dapet duluan hardcase buat laptopnya. Warna Pink, sesuai dengan warna kesukaannya. Hahahaha.. setelah gue membayar sejumlah uang buat softcase dilanjut pembersih layar laptop gue, gue akhirnya memutuskan pindah halua n ke ITC. &lt;br /&gt;Next destination, Casio Watch! Langsung di toko jam pertama yang kita datengin akhirnya gue mendapatkan jam yang gue mau. Dengan harga yang pas juga dan tentunya setelah gue konsultasi dengan Mama Ranger, saudaranya Mama Lauren. Gue juga sempet membeli jam satu lagi buat kado ultah Manajer gue. Selesai itu, gue dan Ranger Pink memutuskan untuk makan di foodcourt yang ada di ITC Kuningan. Cukup puas makan di situ. Gimana nggak, lah wong perut gue belum kebelai nasi dari gue bangun tidur. Hehehehehe.. Lapernya emang dahsyat sih. Gue juga gak mau maksain gak makan, takut maag gue kambuh lagi and nyiksa gue nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum balik gue sempet mampir ke All New Digital, tempat langganan gue kalo mau beli gadget. Kita ke toko yang mayoritas menjual kamera dan segala aksesorisnya itu untuk mancari pesanan memory card buat pocket camera cowo yang lagi deket sama si Ranger. Wuiiihhh.. Ada sedikit rasa gak terima di sana. Tapi mau gimana lagi, gue gak mau jadi cowo yang egois lagi buat siapapun, termasuk dia. Udah saatnya kita berdua emang bener-bener dewasa dan menerima kondisi yang ada dengan mata yang nyata. Sampai di taksi menuju perjalanan pulang pun gue masih asyik ngegodain Ranger Pink. Kita berdua hanya bisa ketawa menikmati canda kita yang nyerempet-nyerempet asmara antara kita dan masing-masing orang yang deket dengan kita. Kaya anak kecil aja! tapi memang itu yang terjadi sesungguhnya. &lt;br /&gt;Gue gak sampai mengantar Ranger sampai ke kamarnya lagi ketika Taksi yang kita duduki tiba di depan flatnya. Kita masih saling menggoda satusama lain sebelum akhirnya bener-bener berpisah dan taksi kembali membelah jalan Jakarta menuju basecamp Cagur tercinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kesepian itu bener-bener menyiksa ketika gue kembali sendiri di tengah belantara kota. Sepanjang perjalanan gue termenung, meski sesekali gue membuka obrolan dengan Sopir taksi asal Cimahi bernama Yayat yang ternyata ngefans sama gue itu. Ceileeeee.. Ngefans! Kipas angin, pak? Hahahahaha... Doi emang ngefans sama gue, terbukti di tengah kemacetan jalan dia sempet-sempetnya minta foto bareng gue pake handphonenya. Oleh-oleh buat istrinya yang ternyata menyukai Cagur juga katanya. Gue seneng banget. Paling nggak, meski sedikit, masih ada orang yang menghargai jerih payah gue dan kedua teman gue untuk membuat sebagian masyarakat Indonesia tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kesepian pula yang membuat gue akhirnya memutuskan jalan lagi ke Gading. Niatnya mau beli tas laptop yang sempet gue liat selasa kemarin. Tapi seperti kata gue di awal, nyatanya nafsu duniawi gue malah membuat gue mengurungkan niat gue membeli tas itu. Sebagai tumbalnya, gue malah nekat membeli jam tangan Ripcurl hitam seharga titik-titik rupiah, sebuah sabuk Ripcurl dan sebuah tas kecil Quicksilver buat nyimpan jam-jam tangan gue yang berceceran gak karuan. Arrrggghhh.. Pemborosan! Sekali lagi, itulah jeleknya gue. Kadang ketika gue sampe pada titik ke’bete’an yang kronis, gue lebih memilih untuk jalan sendiri. Entah ke mall atau ke tempat yang gue mau, cuma buat ngusir kesepian gue. Mau minta ditemenin sama temen cewe, gue takutnya malah salah sangka. Takut terkesan ngasih harapan. Lebay banget yah gue.. Hahahahahaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas dari Gading, gue langsung balik ke basecamp. Berharap bisa nonton FTV di SCTV yang ceritanya sering membuat gue melupakan yang namanya kesendirian. Tapi sayang, harapan gue gak terkabul. Kamis malam saatnya Sinetron Live Action ternyata. Dan gue gak begitu tertarik untuk mengikutinya. &lt;br /&gt;Gue langsung meringkuk di kamar. Tertindih rasa sepi lagi. Memikirkan nasib cinta gue yang masih aja belum jelas sampai detik ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terpenjara sepi, kunikmati sendiri..” seperti single Basisnya Jikustik yang sempet ngetop dulu, mungkin itu yang terjadi sama diri gue saat ini. Gue gak bisa membohongi diri gue sendiri, ketika pada akhirnya gue lebih sering merasa benar-benar sendiri akhir-akhir ini. Untuk mendekati lawan jenis yang coba disodorkan teman-teman terdekat gue demi membantu gue belum berani gue lakonin. Rasa minder dan ketakutan yang sangat akan sebuah kegagalan membuat gue lebih memilih tersiksa dengan kondisi yang ada. Yup.. Gue memang sangat berusaha untuk menikmati setiap detik yang ada dengan cara yang gue punya. Gue gak peduli orang mau bilang apa. Karena kadang mereka sendiri gak peduli dengan apa yang gue rasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tiga jari yang gue gunakan untuk menulis cerita ini masih bekerja, kehampaan yang gue punya juga makin bikin gue jadi gundah gulana. Tapi apa mau dikata, mungkin kini memang belum saatnya gue mendapatkan seseorang yang bisa gue puja dengan segenap asa. Gue mungkin memang harus pasrah menerima semua dengan lapang dada. Mau marah juga percuma. Sama siapa pula gue harus menumpahkan semuanya. Gak ada! Gue gak mau mengadu sama Allah, karena mungkin dia sudah malas menghadapi gue yang samasekali gak pernah mau mengikuti ajarannya dengan sempurna. Ya.. gue memang hanya manusia biasa. Lelaki berambut gimbal biasa yang harus membiasakan diri dengan hidup tanpa seorang terkasih di sisinya. Menjalani semuanya dengan harap cemas. Menanti semuanya menjadi jauh lebih jelas. Dalam rentetan waktu tanpa batas dan balutan cerita yang tak kunjung tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mati satu tumbuh seribu katanya. Tapi itu ternyata cuma isapan jempol belaka. Buat gue mati satu malah membuat gue makin ragu untuk mencari cinta yang baru. Gue takut akan kembali kalah dan mengalah. Gue takut akan kembali disakiti tapi divonis sebagai yang menyakiti. Walau jujur gue akui gue tipikal yang gampang menyukai, tapi bukan berarti gue akan mudah untuk menyayangi. Buat gue, semua tetep butuh proses dan butuh hadirnya “sparkling” dalam hati. Bukan asal dekat lalu saling mengakui dan menjalani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah..&lt;br /&gt;Jalani saja dan nikmati semua yang terjadi. Gue gak mau terus-terusan jadi basi dan mengasihani diri. Gue tetep yakin gue pasti menemukan “dia” suatu hari nanti. Yang akan merubah semuanya jadi lebih berarti. Yang akan membawa gue ke jalan hidup yang lebih hakiki. Meski gue sendiri tak mengerti kapan saat itu akan benar-benar datang menghampiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan saja sepi ini membunuhku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Timur Jakarta.5 Desember 2008. 03:31 Pagi&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-2155264538630106273?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/2155264538630106273/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/12/sepi-ini-membunuhku.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/2155264538630106273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/2155264538630106273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/12/sepi-ini-membunuhku.html' title='Sepi Ini Membunuhku'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-3579214659898246050</id><published>2008-11-28T09:36:00.000-08:00</published><updated>2008-11-28T09:52:56.253-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Melancong'/><title type='text'>Like Kakek Like Cucu</title><content type='html'>Jum’at sore. Sebelum Jum'at malam..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit lagi gelap-gelapnya. Belum bayar listrik kali tuh langit, makanya gelap. Dan gue  jadi penunggu keluarga gue lagi pada main air di Ocean Park, wahana air yang ada di Bumi Serpong Damai. Sedih juga sih gak ikutan nyebur. Tapi daripada badan gue makin ngedrop and jatuhnya malah sakit, gue memilih jadi penjaga pantai aja deh. Kali ini tugasnya agak ringan dikit. Bukan ngawasin orang yang lagi berenang, tapi ngawasin tas and barang-barang keluarga gue. Hehehehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue kebetulan lagi libur. Dan kebetulan juga kakek gue tercinta lagi pengen jalan-jalan bareng keluarga. Minus bokap gue yang emang males kemana-mana. Udah habbitnya dia yang orang rumahan. Susah banget buat dipaksa keluar rumah. Bahkan untuk ke dokter sekalipun untuk sekedar ngecek kesehatannya dia. Mmm.. What a father. One in million. Hehehehe.. Whatever lah! yang terpenting kakek gue seneng. Gak ada angin gak ada kentut, tiba-tiba kakek gue pengen banget holiday. Dengan gayanya yang sok imut dia minta and merajuk. Mirip banget anak kecil yang minta dibeliin permen lolipop. Itulah kakek gue. The one and only.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang gue lagi makan di Kampoeng Aer. Depan Rumah Sakit Omni Bumi Serpong Damai. Tempat gue pernah cek in selama empat hari beberapa bulan yang lalu. Nyambung kebersamaan gue dan keluarga gue dari Ocean Park. Mumpung lagi bareng kaya gini. Secara kakek gue lagi ngidam makan sop buntut juga. Orang tua yang lucu. Gak pernah berhenti bikin gue tersenyum dengan tingkahnya yang kekanak-kanakkan. Waktu foto bareng di Ocean Park aja dia bergaya yang gak kalah sama cucu-cucunya. Serasa bergaul sama anak imut bertampang kisut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan baru aja datang. Pasti enak banget deh. Secara, makanan Indonesia. Bukan sekelas Pizza and the others. Lesehan pula. Emang gue suka juga sama suasana tempat makan kaya gini. Ada viewnya, gak sekedar tembok, lapu dan kaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebersamaan yang mengasyikkan. Jarang-jarang jug ague kayak gini. Secara kerjaan gue bener-bene menuntut gue buat ekstra time and tenaga. Alhasil, waktu gue buat keluarga gue tercinta masih sangat minim banget. Gak apalah. Gue lebih memilih kualitas, ketimbang kuantitas. Jarang ngumpulm tapi sekalinya ngumpul seneng. Ketimbang sering bareng tapi berantem mulu. Hahahaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Main di Ocean Parknya gak lama. Cuma dua jam aja. Secara hujan juga. Gue aja gak bisa berteduh di bawah atap. Airnya mengenai semua barang bawaan kita. Termasuk si Putih, notebook gue tercinta. Makanya tadi sempet terhenti menulisnya. Daripada si Putih kena flu and demam gara-gara kehujanan. Kasihan kan, secara gue belum mau si Putih dirawat Cuma gara-gara kehujanan. Mahal pasti biayanya. Secara gue gak mau keluar banyak uang dulu. Yang ada tar gue gak bias beli rumah and nikah tahun depan. Hahahahaha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue makan ayam baker and tahu goreng isi plus cah kangkung terasi. Enaaaak banget. Gimana gak enak coba, secara gue belum makan siang juga. Mana kepala gue pusing tujuh keliling. Gak tau kenapa. Apa karena perut gue belum keisi makanan yang layak. Hahahaha.. Atau mungkin karena gue abis keramas tadi siang. Dan biasanya kepala gue pasti pusing kalo kena hair dryer. Karena alasan itu juga gue males berenang tadi. Males keramas and ngeringin rambutnya lagi. Yang ada nanti kepala gue bias pecah sendiri. Hihihihihi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue baru aja telepon si Vina. Pramugari Lion Air yang pernah deket ma gue. Udah lama juga sih semenjak terakhir kita ketemu. Udah hampir setahun yang lalu. Hubungan yang aneh. Gue deket sama dia, beberapa kali jalan bareng sama gue and keluarga gue. Tapi entah kenapa gue gak pernah ngerasa ada sparkling saat bareng dia. Padahal gue udah usaha untuk mencintai dia, tapi entah mengapa gak pernah bisa. Aneh, karena justru nyokap gue udah jatuh cinta sama dia. Cuma karena hal simple, nyokap gue merasa sangat dihargai ketika si Vina membukakan pintu mobil buat nyokap gue ketika beberapa waktu lalu kita karaokean di Happy Puppies BSD Juction. Bahkan keesokan paginya, Nyokap gue bilang kalo gue bakal jodoh sama dia. Lucu banget. Mistis banget. Secara nyokap gue tiba-tiba ngungkapin itu ke gue tanpa ada sebab yang jelas juga. Cuma karena keramahan dan ketulusan yang dia kasih ke nyokap gue, yang membuat nyokap gue jatuh cinta sama dia. Padahal mereka baru sekali ketemu juga. Love at the first sight maybe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata dia gak terbang hari ini. Mmm.. Tau gitu gue ajak dia juga! Emang belum jodoh kali. Padahal dia tadi gak ngapa-ngapain juga. Pas gue mau mulai makan, dia baru balik dari muter-muter keliling kompleksnya naik motor yang dia punya. Aaarrrrrggghh.. Sungguh aneh, tapi nyata. Entah apa artinya ini. Sama halnya ketika seminggu yang lalu ketika gue mau sms dia untuk sekedar menanyakan kabarnya, dia malah duluan sms gue. Ketakutan sih guenya. Takut dia bilang gue hubungin dia pas ada maunya atau pas lagi buth temen aja, makanya gue mengurungkan niat gue buat mengirim pesan Ucok Baba (pesan pendek_red) ke si Vina.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudah lah. Semua udah digariskan juga. Gue mah tinggal ngikutin skenarionya Allah SWT. Mau ngarep juga nantinya malah sakit hati. Mau ngasih harapan ke dia juga yang ada dianya nanti malah sakit hati. Gak mau ah! Cukup udah nyakitin dianya. Cukup juga ngebahas dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Back to my family.&lt;br /&gt;Makan udah selesai. Tinggal pulang and tidur. Bayar dulu sih pastinya. Hehehehe.. Jangan sampe gue sekeluarga dimasukin ke rumah bergaris besi hanya karena lupa bayar. Hahahahaha.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udahan dulu ceritanya. Gue mau cabut. Udah kenyang, tinggal tidur dengan kaki mengangkang. Hahahahaha.. seperlima hari yang menyenangkan. Meski gue gak ikutan berenang. Dan lebih senengnya lagi, gue bayar billnya dibantuin kakek gue tersayang. Maklum, dia lagi banyak duit. Abis jual rumah and tanah terakhir yang dia punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;See u again in next story. Ngomong-ngomong, kakek gue tiba-tiba ngebakar rokok gue and menghisapnya dengan gaya. Di saat cucunya yang lain kaget dan melarangnya, dia dengan santai hanya menjawab, "Iseng aja, ngehargain Wendi juga...". Gak nyambung banget jawabannya. Dan dia pun tetap menghisap habis rokoknya dan hanya menyisakan sedikit sebelum akhirnya benar-benar bangun and melangkah perlahan menuju mobil kita. Hahahahahahaha.. what a grandpa of the world.. love u grandpa. Kakek. Engkong.. semoga gue bias menikah dengan disaksikan dirimu. &lt;br /&gt;Amiiiiiinnnn…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampoeng Aer. 28 November 2008.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-3579214659898246050?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/3579214659898246050/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/11/like-kakek-like-cucu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/3579214659898246050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/3579214659898246050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/11/like-kakek-like-cucu.html' title='Like Kakek Like Cucu'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-5187597575745887256</id><published>2008-11-26T14:10:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T14:15:12.692-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Good Story'/><title type='text'>Kopi Darat Para Autis</title><content type='html'>KOPI DARAT AUTIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit teknologi bernama BlackBerry sedang menghantui hampir sebagian pencinta gadget di negara kita. Meski jumlah yang terkena virus ini gak sebanding dengan jumlah mobil yang ada di Indonesia, tapi gak bisa dipungkiri kehadirannya mampu sedikit merubah konsep berkomunikasi. Hehehehe.. sok tau gitu yah gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, gue udah hampir 3 bulan pake BlackBerry. Dari awalnya aja sebenernya dah bikin gue pusing and berniat ngebuang barang ini. Tapi harga yang harus gue keluarkan buat benda yang satu ini akhirnya menahan niat gue buat membuangnya. Sempet kesel sebanget-bangetnya. Apalagi pas temen gue yang sesama user this thing ngatain gue and bilang kalo gue gak pantes pake BeBe (sebutan manis buat BlackBerry_red). Mending pake Nokia pisang aja. Abisnya punya BeBe tapi gak aktif-aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu hampir dua minggu untuk menunggu BlackBerry gue aktif dengan sesungguhnya. Pertama gue niat pake no XL gue buat BeBe gue. Padahal udah dibantu sama temen gue yang kerja di XL, udah didaftarin and diurusin segala tetek bengeknya, tapi tetep aja gak aktif. Setelah satu minggu menunggu, gue pindah ke nomor Hallo gue. Bolak-balik ke Grapari Rawamangun seminggu, tetep gak membuat BeBe gue hidup. Akhirnya malah IM3 yang mampu membuat BeBe gue batal jadi barang rongsokan. Itu juga tetep dengan perjuangan yang panjang. Sehabis gue pulang acara Sahur bulan puasa kemarin gue nekat datengin Galery Indosat 24 jam yang ada di Sarinah. Dengan harapan gue bisa ngaktifin BeBe gue tanpa masalah yang berarti lagi. Agak sial juga sih pada akhirnya, karena ternyata sesampenya gue di sana, mereka justru gak punya nomor IM3 yang bisa buat aplikasi BeBe, yaitu nomor IM3 yang depannya 0856. Hahahahaha..&lt;br /&gt;Tapi masih ada untungnya. Sang penjaga galery berbaik hati memberikan kopian, bukan bandrekan atau bajiguran, petunjuk pengaktifan BeBe menggunakan nomor IM3. Thanks yah, mas penjaga galery! Sudah membantu gue meski lewat selembar kertas. Selembar kertas yang akhirnya membawa perubahan buat hidup gue. Salahsatunya efek positifnya, gue makin banyak teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kita, termasuk gue di dalamnya (Pengguna BeBe_red), kerap dibilang kaum autis, tapi itu gak menyurutkan mental gue buat terus mainin nih benda. Buat gue banyak gunanya juga koq. Apalagi menyangkut dunia kerja gue yang tiap saat harus update sama berita and peristiwa yang terjadi di sekeliling gue. Gak gue pungkiri kalo gue awalnya canggung buat memiliki BeBe. Gue cuma males dibilang sok gaya. Apalagi dibilang sok ngartis papan ngatas. Huuufff.. Gak banget dech! Bukan itu alasan yang gue punya. Paling tidak, itu pembelaan dari diri gue. Hehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempet autis untuk beberapa minggu. Mungkin karena masih baru aja. Manusiawi sih. Gue yakin hampir semua orang yang memiliki barang baru, pasti bakal lebih sering menggunakannya. Walaupun hanya sekedar dipegang tanpa digunakan sama sekali. Intinya sih pamer. Huahahahaha.. Sama halnya dengan gue yang penngen banget mamerin kalo gue gak begitu ketinggalan sama teknologi yang ada. Meski sifatnya ngepop and Happening banget. Entah akan jadi hal musiman atau nggak.  Tapi yang pasti gue begitu asyik dengan segala kemudahan yang gue dapet dari benda yang satu ini. Apalagi yang bersangkutan dengan dunia maya. Chating and browsing, ngecek Friendster atau Facebook gue dan hal lainnya adalah keseharian gue setelah gue terpasung oleh BeBe gue.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue seperti punya dunia sendiri. Kadang malah gak peduli sama kondisi di sekitar gue. OnLine 24 jam nonstop tanpa henti. Dari ngebahas masalah penting sampe masalah yang garing. Di jalan ngarepin kena lampu merah yang lama supaya gue tetep bisa ngobrol sama temen-temen dunia maya gue. Di lokasi kerja berharap ada waktu break yang lama buat ngobrol sesama pengguna BeBe lainnya. Ironis memang, jika pada akhirnya Bebe bisa membuat orang jadi gak bersosialisasi sama sekali dengan sekelilingnya. Tapi apa mau dikata, semua hal pasti ada positif and negatifnya. Gue masih belajar untuk memaksimalkan efek positif BeBe yang gue punya ketimbang ngikutin efek negatifnya. Gue gak mau jadi orang sombong juga cuma karena komputer mungil yang selama ini gue kemana-mana. Dalam berbagai acara and kondisi. Bahkan saat gue bersenang-senangpun gue pasti ngajak BeBe gue. Sekedar menemani and melatih jari gue untuk tetep berfungsi normal. Hahahahahaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan malam ini, gue akhirnya bisa kopi darat sama anak-anak autis Indonesia lainnya. Terutama yang berdomisili di Jakarta. Malah terkesan kaya double date.Ketemu sama orang yang udah kita kenal tapi sebatas kata and suara aja. Hihihi.. &lt;br /&gt;Lucu juga sih. Mungkin karena gue baru pertama juga kopi darat kaya gini. Bertempat di Kemang, awalnya di Ohlala trus dilanjutkan ke Dimsum, gue finally ketemu sama sekretaris-sekretaris amatir lainnya. Gue bilang sekretaris, soalnya kerjaannya ngetiiiiiik terus. Hahahahaha...&lt;br /&gt;Ada Radith yang ternyata salahsatu road manager salahsatu band di Indonesia. Sama juga halnya dengan Harry yang megang lebih dari satu band, dari Julliete sampe Bonus. Jane Salimar sang aktris yang lumayan dah kenal lama sama gue. Akizz yang sehari-harinya siaran di radio 99ers. Vanda, yang gue gak tau kerjanya apa. Hehehehehe.. sebenarnya ada Apito juga yang gue udah kenal lewat BeBe, vokalis Five Minutes yang sayangnya malam tadi gak bisa ikutan kopdar karena masih ada show di Palembang. Di situ juga ada Anggie yang anak band juga, beserta kedua teman wanitanya yang manis-manis. Juga ada Natalie, cewe yang ternyata pernah deket sama si Radith, and temen cewenya. Dan cowo agak gempal berambut bule hasil cat sendiri yang gak sempet gue tau namanya. Lumayan ramelah pokoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dari dua hari yang lalu ketika tiba-tiba BlackBerry Messenger (BeBeeM_singkatan) gue tiba-tiba berkedip menandakan ada yang ngajak chat gue. Gue pikir salahsatu temen gue, ternyata gue tiba-tiba dah ada dalam conference BeBeeM, ada banyak orang disana. Sebagian yang gue sebutin namanya di atas. Pembicaraan ngalir begitu saja kaya sungai Ciliwung. Banjir kata-kata dan candaan. Meski jujur awalnya canggung juga, karena gue samasekali gak tau dengan siapa gue berbicara. Gue mencoba untuk membuka persahabatan dengan orang-orang baru. Orang-orang yang meski satu dunia tapi beda kesibukan. Mereka orang musik, gue orang asik. Hahahahahaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan berjalan dengan lancar. Kita ngobrol and bercanda seperti kita udah kenal lama. Ngalir begitu aja tanpa ada rasa canggung di dalamnya. Jujur sih gue sempet minder juga. Secara gue bener-bener beda spesifikasi pekerjaan sama mereka. Mereka biasa ngurusin alat-alat musik, gue bergaul sama kedua temen gue yang kulitnya pada bersisik. Narji dan Denny tentunya. Hahahaha..&lt;br /&gt;Tadi sempet ada kejadian lucu, tiba-tiba si Akizz yang ternyata pernah sekali ketemu ma gue di Bandung itu, BeBeeM gue and meminta gue buat bilang ke Budi untuk pindah tempat supaya bisa CeLeBeK alias Cinta Lama Bersemi Kembali. Gue nanya balik ma dia, Budi yang mana? Si Akizz yang malam tadi pake kaos ijo and kacamata di kupingnya, eh matanya cuma ketawa lebar. Dia ngetawain kebodohan gue. Karena pertanyaan gue tentang si Budi itu. Gue bilang kalo gue cuma kenal sama si Wati, bukan si Budi. Gak lama gue akhirnya sadar, kalo ternyata yang dimaksud Budi itu si Radith. Orang yang duduk di sebelah gue. Huahahahaha.. How do i know, coba! Secara gue bener-bener baru bertatap muka sama sebagian besar orang-orang di situ malam tadi. Mana gue tau kisah apa yang terjadi di antara mereka semua. Selidik punya selidik, ternyata si Budi alias Radith itu pernah deket sama salahsatu cewe yang juga ikutan gabung makan sama kita di dimsum malam tadi. Alhasil, abis deh si Budi gue jadiin bahan ceng-cengan gue dan yang lain. Sampe mati kutu dia. Gak bisa berbuat apa-apa. Maaf yah, Bud.. Huahahahahaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak nyesel sih gue ngebatalin niat gue buat clubbing malam tadi. Walau sebenernya gue gak enak juga sama si Ranger Pink yang udah nafsu banget pengen begaul malam itu bareng gue. Untungnya gue bisa menjelaskan kondisi yang ada sehingga gak bikin dia terlalu kecewa banget. Yah, pada kenyataannya gue emang gak begitu nafsu buat berajojing ria karena kamis pagi gue harus udah bangun buat acara seminar yang diselenggarain sama SMA gue. Gue gak mau pengalaman pertama gue sebagai moderator jadi gak maksimal cuma karena ada konde besar di kepala belakang gue. Hehehehehe.. &lt;br /&gt;Lagian, gue juga kasian sama Ranger Pink yang masih batuk-batuk aja. Padahal niat awal gue mau menghibur dia dengan menuhin permintaan dia semalam penuh supaya dia gak inget sama kesedihannya batal jalan ke Bangkok bareng Ikka sahabatnya yang sesama dancer itu. Apa mau dikata, mungkin emang udah jalannya gue harus ke Kemang buat kopi darat, bukan mabok darat. Untungnya gue masih bisa sedikit menghibur dia dengan tetep berkaraoke sama dia di Nav Gading, walau hanya 2 jam. Tadinya mau nambah satu jam lagi, tapi batal karena justru dia sendiri yang gak mau pulang terlalu larut. Setelah selesai dengan nyanyi-nyanyinya, gue langsung anterin dia ke Flatnya di bilangan Tebet. Gak pake mampir, karena gak enak ma ortunya juga, gue langsung meluncur ke lokasi Kopi Darat para Autis di Kemang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks for the BeBe yang buat semuanya terjadi, selain karena Allah tentunya. Gue seneng banget bisa nambah temen baru lagi. Which is gue emang butuhkan untuk saat-saat sekarang ini. Di saat gue gak mau bersedih ketika sendiri dan memikirkan pasangan hidup yang sampe sekarang masih ngeblur juntrungannya. Hahahahaha..&lt;br /&gt;Sebuah awal yang cukup indah and bikin gue bahagia. Karena gue makin bisa melebarkan sayap pergaulan gue dan tentunya menambah wawasan gue tentang dunia baru yang tak baru. Musik. Dunia yang pernah jadi persinggahan sementara gue ketika masa-masa kuliah gue dulu. Hehehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks for the kopdar, guys. Hope can see u all again next time with different story. Nice to know u all. &lt;br /&gt;And now my friend makin banyak dech! Huhuuuu.. cenangnyaaaa...!!!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cagur Office. 05:04 wib.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-5187597575745887256?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/5187597575745887256/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/11/kopi-darat-para-autis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/5187597575745887256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/5187597575745887256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/11/kopi-darat-para-autis.html' title='Kopi Darat Para Autis'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-2138624908483425113</id><published>2008-11-26T00:55:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T02:45:51.323-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Melancong'/><title type='text'>A Night To Remember</title><content type='html'>Mendung masih asyik nutupin matahari. Sepanjang perjalanan menuju Jakarta tadi, gue cuma bisa tidur. Selain karena dingin, mungkin energi gue emang udah cukup terkuras habis semalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sekitar 20 orang yang kumpul di salahsatu bangunan yang ada di puncak resort semalem. Kita kumpul bukan karena mau bikin pemberontakan atau arisan panci yang dapetnya sebulan sekali. Kita ngumpul cuma sebatas menghilangkan kepenatan kerja yang sudah kita lalui selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bergembira. Terlebih lagi gue. Gue emang bener-bener ngebutuhin liburan kaya gini. Meski cuma semalem, tapi bikin seneng. Kebersamaannya kali yang gak ternilai. Sayangnya, gak semua dateng tadi malam. Mungkin karena cape. Hampir dua bulan keja tanpa henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yupz.. Malam tadi emang acaranya Cagur Naik Bajaj. Acara yang digagas sama pemilik PH yang kebetulan temen kampus gue, Narji and Denny ini, lumayan bikin kita gak rugi buat perjalanan yang cukup jauh yang kita tempuh kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak Resort emang dingin. Tapi kayanya kita salah hari deh. Dan terbukti, dinginnya udara puncak makin kerasa dingin, karena dari sekian banyak villa yang ada di resort itu, sepertinya hanya Villa yang kami tempati yang berpenghuni. Selebihnya? Kosong melompong kaya kepompong bolong. Wuahahahahaha.. Jadi kaya private party malah. Jauh dari mana-mana juga. Yang ada kita semua bener-bener diem di tempat. Gak kemana-mana. Meski pas tengah malam, ada juga yang nekat turun buat nyari selimut hidup. Hahahahahaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue and Narji plus Agusuboleh, asistennya, nyampe sekitar jam 4 lewat. Udah ada samgong yang digelar di situ. Gak dimana gak dimana, mainnya itu mulu. Judi forever dah! Mohon maaf kalo kata-katanya Bung Rhoma gak berlaku saat itu. Hehehehe.. Abis mau ngapain lagi. Yang ada, sepanjang malam, tuh tempat rame dengan para penjudi kambuhan. Penjudi yang rela ngabisin duitnya cuma buat ketawa-tawa bersama. Bukan buat mata pencaharian. Soalnya kita masih males jalan ke Macau atau Genting juga. Secara kita semua bukan penjudi kelas kakap. Just for fun aja. Hahahahaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, gue kalah 450 ribu aja gitu. Padahal sebelumnya gue udah menang 500 ribu. Damn! Itukah judi. Makin kalah, makin berani. Makin menang, makin tertantang. Apalagi si Isa Winata. Gila tuh anak! Doi harus menelan pil pahit, karena harus merelakan 1,8 juta duitnya di kasur judi saat itu (main judinya di atas kasur_red). Poor boy! Buat dia sih gak ada masalah. Otak judinya dia emang gila. Mungkin karena udah setengah gak sadar juga. Bayangin aja, dia main dari jam 3 sore sampe jam 7 pagi. gak pindah duduk pula. Gimana gak mau kalah coba. Parahnya, Narji yang tadinya kalah and gak diperhitungkan, justru menang 2 juta lebih pada akhirnya. Huahahahaha.. Tai tuh anak! Hoki judinya emang dahsyat. Mau main apa aja pasti menang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak cuma main samgong, PS juga jadi ajang taruhan. tapi gue gak ikutan. Lagi males mencet-mencet and mikit lebih gue. Jadi gue konsen ke samgong aja. Lagian gue juga dah lumayan skip gara-gara dicekokin Chivas murni sama si Mr. Jambul. Sialan dangkalan! Gak cuma gue sih. Yang lain juga jadi korban keisengan dia. Ternyata emang bener. Dia emang seneng nyekokin and bikin orang pada mabok. Gak ada yang marah juga sih. Karena niatnya biar semua ketawa bahagia. Meski semua juga sadar kalo itu bisa bikin kita jadi masuk neraka. Hahahahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 1 pagi gue terpaksa memejamkan mata. Lebih tepatnya, akhirnya tidur juga. Cape badan and dompet juga sih. Makanya ketika yang lain masih asyik berkutat dengan kartu, stik PS dan gitar, gue asyik masyuk ngiler sepuasnya di tempat tidur seadanya. Meski sayup-sayup gue denger teriakan dan tawa kencang manusia edan di tengah tidur gue, tetep aja gue gak mau maksain sadar. Nikmatin tidur yang jarang banget gue dapetin selama ini. Zzzzz..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi tadi, jam setengah 10 gue terbangun. Kedinginan juga sih, selain lapar yang buat gue ngucek-ngucek and bersihin mutiara khatulistiwa di ujung mata gue. Sayangnya gue gak hobi koleksi tuh mutiara. Jadi gue buang aja. Sarapan nasi goreng begitu kerasa nikmat. Meski dengan lauk seadanya, gak mengurangi nafsu gue untuk melahap abis semua yang tersaji di piring gue. Begitu juga dengan makan siang yang gue lahap sebelum gue pulang ke Jakarta dengan yang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kalah, gue bahagia. Meski hujan terus tapi berkumpul dengan yang lainnya bikin gue seneng mampus. Hahahaha.. Moment yang gue harap gak cuma terjadi sekali aja. Apalagi kalo sitkom kita, Cagur naik Bajaj terus lanjut ke season 3 dan season-season selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Special thanks gue kasih ke temen-temen yang hadir malam itu..&lt;br /&gt;My trully friend, Denny and Narji Cagur beserta AgusuBoleh sang asisten, Trio bajaj : Isa, Melky and Aden, Emi Lemu and her husband Jumbo, Saleh Ali plus bininya yang dia takuti, Echi, Mr. Jambul sang pemilik PH, Arif the Pimpro, Dodot si Editor, Trio kameramen cabul : Memethew, Ano the face moon, Pepenk the black dongker, the Boomer : Dwi Play group dan Bayu si tangan panjang (ngeluh trus cuma karena jadi anak buahnya Dwi), Yudha asisten kameraman, Akang the ustad, Agus Citayem yang sakit karena kaget nerima duit 100ribu cuma buat bikinin kopi dari si Denny. Mukti alias si muka tipu yang ternyata diem-diem bandel juga, Rizal dan adiknya yang nyusul and gak nginep malam itu, Darmanto the lighting man yang kalah judi and bingung sendiri mikirin ongkos pulang ke Jogja.. (udah tau mau pulang, masih aja nekat judi. Hahahahaha..), and last but not least si Godil sang pembawa tawa. &lt;br /&gt;Makasih buat kesenangan dan tawa yang kalian berikan malam tadi. Gue bener-bener ngerasain liburan bareng yang menggembirakan. Gak kecewa deh harus jalan jauh ke Puncak Resort meski cuma buat semalem. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam yang gak akan kelupa juga. Kebersamaan yang baru tapi bakal lama terkenang juga. 25 November 2008. Thanks alot guys.. Love u all..&lt;br /&gt;And see you on the next trip..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ay lop yu pul.. Uyeeeeeeeeeeeeeeeeee..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-2138624908483425113?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/2138624908483425113/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/11/tertawa-dan-tertawa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/2138624908483425113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/2138624908483425113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/11/tertawa-dan-tertawa.html' title='A Night To Remember'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-8778873715335439040</id><published>2008-04-17T03:03:00.000-07:00</published><updated>2008-04-17T03:04:47.099-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Jangan Pernah Takut..</title><content type='html'>Who am i? Siapa gue?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya, gue bukan siapa-siapa dan belum jadi siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gilaaa.. Sebulan ke depan, umur gue bakal genap 29 tahun. Insyaallah. Sebuah umur yang lumayan banyak. Seperempat abad lebih. Kadang gue bisa sangat enjoynya dengan hidup gue. Kadang gue juga bisa sangat terpuruk dengan ke'tua'an gue. Hahaha.. Gaya dan laganya aja kaya anak kecil, tapi kalo liat KTP langsung merasa kerdil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, gue sendiri sebenernya gak begitu mau mikirin. Tapi jujur adakalanya gue merasa kalo sekarang bukan saatnya lagi gue main-main dengan hidup gue. Bersantai dengan semua kondisi yang ada. Being Old tanpa pernah jadi apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum banyak yang gue hasilkan selama perjalanan hidup gue ini. Gue rasa terlalu sering jeleknya ketimbang bagusnya. Hehehe.. Secara gue cukup sadar diri dengan kapasitas gue sebagai manusia biasa yang hobi banget bikin dosa ketimbang nabung pahala. Mau jadi apa gue kelak? Gak pernah gue bayangkan. Yang pasti gue memang tipikal cowo standart yang lebih seneng menjalani hidup layaknya air mengalir atau angin berhembus. Bergulir begitu saja tanpa terlalu memikirkan hal yang cuma bikin kepala gue jadi kebelah dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun tentang cinta yang kerap butakan mata. Yang sering gue alamin dan selalu berakhir dengan dilema. Lelah sudah mencari yang tak nyata. Karena sekarang gue sudah punya yang teristimewa. Satu tahun atau mungkin dua tak jadi masalah. Selama gue bisa tetap bersama merajut mimpi walau mungkin hanya akan jadi angan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue bukan dewa. Karenanya gue gak bisa berbuat sesuka jiwa. Keinginan yang menggebu akhirnya cuma semu adanya ketika semua yang gue punya tak berarti apa-apa dan diri gue yang biasa ini cukup puas dengan semua yang gue terima. Gue memang harus terus maju. Gak peduli dengan rintangan yang bakal mengganjal dan mungkin membuat gue jenuh. Gue harus hadapi semua dengan lapang dada karena gue yakin semua pertanyaan ada jawabannya. Semua masalah ada solusinya. Semua keraguan ada penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti juga halnya nilai sebuah cinta. Sekarang atau nanti tak akan berakhir sama. Ada jalan dan cara yang berbeda untuk melangkah menuju ke arah sana. Entah mana yang harus gue pilih. Kanan atau kiri. Bahagia atau kesedihan yang ujungnya mungkin membuat gue mati berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini gue harus bersikap realistis. Satu yang gue ingat, sesuatu yang dipaksakan gak akan pernah berakhir dengan hasil yang manis. Tak beda jauh dengan angan gue yang terlalu puitis dan kerapkali bikin gue tersenyum miris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue punya cerita yang orang lain mungkin tak punya. Gue punya kisah yang mungkin manusia lain ingin mengalaminya. Cerita yang sederhana tapi begitu membuat hidup gue penuh warna. Kisah yang biasa dengan seseorang yang tak biasa. Jujur saja, bukan kegalauan yang coba hadirkan dari awalnya. Tapi keindahan yang coba gue suguhkan dengan segala keanggunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indah dan anggun yang terangkum dalam satu asa. Indah dan anggun yang terbesit dari satu jiwa. Indah dan anggun yang terajut dalam satu nama.. Hanya Dia seorang saja..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya semua memang harus berjalan sebagaimana mestinya. Tak ada yang harus disalahkan dengan kondisi yang sedang kadang membingungkan. Berujar ataupun bersikap semua hanyalah pilihan. Kalah atau bertahan sepenuhnya kita yang menentukan. Suka atau duka harus kita terima sebagai sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At the end..   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah takut untuk berusaha, karena semua ada waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah takut untuk mencoba, karena tiap hidup ada resikonya.                                 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah takut untuk melangkah, karena kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi dalam kehidupan kita selanjutnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PinggirJakarta.SebelasAprilDuaribudelapan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-8778873715335439040?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/8778873715335439040/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/04/jangan-pernah-takut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/8778873715335439040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/8778873715335439040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/04/jangan-pernah-takut.html' title='Jangan Pernah Takut..'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-6178482485620071963</id><published>2008-04-17T03:01:00.000-07:00</published><updated>2008-04-17T03:03:25.152-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Good Story'/><title type='text'>Fuiihh.. Finally..!</title><content type='html'>Horeeeeeee..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fuiihh.. Finally..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 7 April 2008. Malam hari. Dimobil gue perjalan pulang ke rumahnya. She said "I DO..!". Setelah proses penembakan gue yang biasa aja itu. Diawali ketika gue nonton bareng dia dan teman-temannya. Selesai nonton gue dan dia makan. Gue buka semuanya. Eittss.. Cuma omongan, gak sampe ke baju gue. Hehehe.. Intinya pada saat itu gue pengen minta kejelasan sikapnya sekali lagi. Gue cuma pengen tau dia punya perasaan lebih apa nggak. Kalo memang kita ditakdirkan untuk berteman, berarti gue harus move on dengan hidup gue. Dengan kata lain berarti mencoba membuka hati gue buat orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak berat awalnya. Gue gak tau harus mulai darimana. Dia bukan tipikal cewe yang senang basa-basi ternyata. Jadi yang ada begitu gue bilang apa yang gue rasakan, dia juga langsung bilang apa yang dia rasakan. Dengan cara yang standart pula. Gak ada romantis-romantisnya. Malah terkesan kaya orang ngobrol biasa. Hahaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak pentinglah. Yang terpenting sekarang gue akhirnya bisa menjadikan dia wanita paling spesial buat gue. Berusaha menjalani semuanya dengan keterbukaan. Menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Gak berusaha untuk jadi orang lain. Habis mau gimana lagi, Dia memang wanita yang lurus-lurus aja hidupnya. Sometimes gue merasa kalo saking lurusnya, dia ingin semuanya sesuai dengan keinginan dia. Which is fine with me. Gue gak mau kehilangan orang yang paling gue sayang saat ini cuma karena keegoisan gue juga. Intinya gue mencoba untuk ngasih yang terbaik buat hubungan kita berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally gue bisa ngungkapin semuanya. Mungkin ini jawaban yang di kasih Tuhan ke gue. Meski jujur gue masih ngerasa kalo dia ngejalanin hubungan ini dengan banyak ketakutan. Masih wajar sih. Secara perbedaan umur yang cukup jauh antara gue dan dia, memang cukup sanggup juga membuat hubungan jadi agak tidak jelas mau dibawa ke arah mana. Buat gue, ketika gue menjalin hubungan dengan seseorang, gue harus punya 'goal', atau tujuan. Mau ke arah mana hubungan itu dijalani. Masalah jodoh atau tidak itu urusan belakangan. Karena semua udah yang ngatur. Yang penting selama gue ber"relationship" sama dia gue berusaha semaksimal mungkin. Kalo dia selalu takut ngejalanin semuanya, guenya malah jadi ikutan takut gak bisa memenuhi keinginan dia, yang ada kita berdua malah saling menakuti dan jadinya malah takut beneran. Hahaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hampir setengah tahun gue ngejar-ngejar dia gak karuan, akhirnya gue bisa berada di sampingnya. Berjalan beriringan dan saling menautkan kepercayaan. Semoga gue bisa menjaga dia dengan baik. Menjaga hati gue buat dia. Belajar untuk jadi orang yang sedikit bijaksana. Seperti yang diharapkan dia dan teman-temannya. Gue pun berharap sama, dia mau menjaga hatinya hanya buat gue meski gue tahu dia wanita yang sangat membuka hatinya untuk wajah-wajah baru dalam dunia pertemanan dan pergaulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue akan membiarkan semuanya mengalir apa adanya. Gak mau berharap lebih. Karena gue gak mau ujung-ujungnya ada yang tersakiti. Gak mau terlalu mengumbar janji  untuk sebuah hal yang tak pasti. Meski  jujur gue akui, gue seperti berjalan di atas awan  tanpa kaki. Tak ada pijakan yang kokoh , hanya mengikuti kencangnya angin berhembus di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Menari bila ingin menari..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyanyi bila harus menyanyi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersedih bila saatnya bersedih..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertatih bila waktunya tertatih..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhenti bila takdirnya terhenti..&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua memang harus gue jalani dengan sepenuh hati. Bahagia atau tidak itu urusan nanti. Jodoh atau tidak biar waktu yang menjawabnya di akhir perjalanan ini. Yang terpenting sekarang gue sudah sangat bahagia memiliki dia sebagai tambatan hati. Sebagai teman spesial untuk menjalani hari. Sebagai kawan spesial untuk ceriakan hati.  Sebagai seorang wanita tersayang paling hakiki. Hihihi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat kamu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang bukan siapa-siapa dan mungkin tak berharga. Tapi aku bersyukur punya kamu sebagai seseorang yang teristimewa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jakarta.SembilanAprilDuaribudelapan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-6178482485620071963?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/6178482485620071963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/04/fuiihh-finally.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/6178482485620071963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/6178482485620071963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/04/fuiihh-finally.html' title='Fuiihh.. Finally..!'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-6793655432472041399</id><published>2008-04-17T02:58:00.000-07:00</published><updated>2008-04-17T03:00:35.100-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Good Story'/><title type='text'>Mmm.. Bakpauu..</title><content type='html'>Gue cuma bisa mematung. Memandanginya dari jarak jauh. Mengawasinya dengan hati yang tak menentu. Menatap bentuk penuh pesona itu. Mata dan hati gue tak henti mengaguminya. Harap cemas di antara sekian banyak manusia yang juga memperhatikannya. Bahkan mungkin terlanjur terkesima dan juga ingin memilikinya. Memiliki wujud yang sudah kuinginkan sejak lama. Wujud unik bernama..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAKPAU..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa harus Bakpau? Gue sendiri gak ngerti. Padahal banyak banget yang lebih menggugah selera di dunia ini. Ada Pizza, Donat, Coklat, Combro, Lemper, Roti dan lainnya. Ada banyak banget. Tapi gue gak pernah habis pikir. Kenapa harus jatuh cinta sama Bakpau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah! Mungkin karena bentuknya. Mungkin karena warna kulitnya. Atau bahkan mungkin karena isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya gue gak begitu suka Bakpau. Karena menurut gue Bakpau biasa aja. Gak ada yang spesial. Itu sejatinya. Dulu kala, jauh sebelum gue benar-benar mengenal Bakpau itu dengan cara yang benar. Yup.. semua itu jauh sebelum gue tergoda untuk mulai menyukainya dan sering memimpikan untuk mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mmm..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuknya yang unik membuatnya begitu berbeda. Gak sesempurna bentuk lainnya. Tapi sudah sangat cukup membuat gue bertahan untuk tetap menyukainya. Menginginkannya. Menikmatinya? Pengen sih. Tapi bukan sekarang. Save the best for last lah. Seperti anak kecil yang baru diberi permen unik dan beda dari permen biasanya, pastinya ia akan menyimpannya dan merasa sayang untuk menghabiskannya sampai saatnya tiba. Begitu juga apa yang gue ingin dari Bakpau. Untuk saat ini gue hanya ingin menggenggamnya dalam lindungan tangan gue. Bahkan mungkin membungkusnya rapat dengan lembaran kertas sayang gue. Menjauhkannya dari sentuhan dan gigitan manusia lain. Menjaganya dari lalat nakal sampai saatnya tiba gue menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna tubuhnya yang putih itu memang begitu menggoda. Layaknya salju yang tiba-tiba turun di tengah sinar mentari tengah hari buta. Yang lain mungkin lebih putih dari tubuhnya. Tapi entah mengapa gue tetep suka dan gak mau berpaling darinya. Putihnya beda. Entah mengapa gue merasa putih Bakpau yang gue mau itu melambangkan kesuciannya. Bersih. Belum tersentuh kuman dari tangan-tangan jahil manusia yang hendak menginginkannya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isinya sudah pasti menggugah selera gue. Apapun kandungan di dalamnya sudah sangat tercermin dari auranya yang begitu anggun menggoda gue. Isi yang menyehatkan. Meski sederhana dan apa adanya tapi seakan mampu menghapus rasa penasaran gue akan nilai sebuah kenikmatan. Gak berlebihan tapi sanggup membuat gue ketagihan. Meski terselip kekurangan tapi tetap kuat menyihir gue untuk terus kecanduan. Kualitas isi yang dihasilkan dari racikan bahan-bahan berkualitas buatan Tuhan melalui tangan manusia sejati yang penuh kasih sayang dan pengorbanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak ada satu hal pun yang sempurna. Dan buat gue, Bakpau yang gue suka masih jauh dari sempurna. Tapi entah mengapa gue mau belajar untuk terus menyukai Bakpau yang tak sempurna dengan cara yang sempurna..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hal yang pasti adanya. Saat ini gue masih begitu menginginkannya. Meski gue tahu gue belum bisa mendapatkannya. Karena gue belum memenuhi standart untuk menjadi pemilik sejatinya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakpau yang sederhana namun istimewa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jakarta.EnamAprilDuaribudelapan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-6793655432472041399?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/6793655432472041399/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/04/mmm-bakpauu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/6793655432472041399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/6793655432472041399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/04/mmm-bakpauu.html' title='Mmm.. Bakpauu..'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-8766632114077751624</id><published>2008-04-17T02:53:00.000-07:00</published><updated>2008-04-17T02:57:21.704-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Good Story'/><title type='text'>wHat a dAy..</title><content type='html'>Namanya Jasmine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungil, cantik, putih, dan sepertinya agak pendiam. Jujur gue akui kalo gue langsung jatuh cinta kepadanya di saat pandangan pertama. Tatapan kosongnya mampu menghipnotis gue untuk mengaguminya. Kehalusan tubuhnya begitu kuat mendorong gue tak henti menyentuhnya dengan cinta. Dekapan eratnya karuan membuat gue tak ingin melepaskan sosoknya dari pelukan gue. Harus gue katakan sejujurnya bahwa ia begitu mempesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada sepatahkatapun terucap dari bibirnya yang manis. Tapi entah mengapa gue bisa merasakan bahwa ia menyukai gue dengan cara yang berbeda. Jasmine yang imut namun sanggup membuat jantung gue cenat-cenut. Jasmine yang cantik, penuh pikat dan daya tarik. Gue yakin setiap orang yang melihatnya pasti langsung bertekuk lutut padanya dan langsung menyayanginya sepenuh hati dan segenap jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan keelokan yang klise. Semua itu nyata adanya. Semua terangkum indah pada tiap lembar senyum manisnya. Semua tercatat sudah dalam helaian desah nafasnya. Semua terpampang nyata dalam tiap detik tatapan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasmine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama yang indah. Seindah aura yang terpancar dari raut wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue seakan tak pernah lelah untuk memandangnya. Gue seperti tak pernah tua untuk sekedar menikmati kesempurnaan wujudnya. Gue tak bisa berbohong untuk selalu dan selalu menyiraminya dengan pujian yang bergelora. Berlebihan mungkin, tapi tidak bagi gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan sesaat yang begitu memikat. Pertautan sejenak yang membuat gue begitu jinak. Persuaan sebentar yang membuat hati gue begitu bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua karena dia. Hanya karena dia. Tak lama namun mampu membuat gue begitu bahagia dan menggebu untuk memilikinya. Meski hanya bayangannya. Meski hanya dalam mimpi dan angan semata. Meski hanya dia dan gue yang tahu, ketika pelukan erat antara kita berdua telah menghantarkan aroma surga dalam tiap detiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Hanya gue dan Jasmine yang merasa. Hanya kita berdua yang bisa menceritakannya dengan bahasa cinta yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya gue..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasmine saja..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jakarta.EnamAprilDuaribudelapan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-8766632114077751624?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/8766632114077751624/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/04/what-day.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/8766632114077751624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/8766632114077751624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/04/what-day.html' title='wHat a dAy..'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-2834763233031984678</id><published>2008-04-17T02:45:00.000-07:00</published><updated>2008-04-17T02:58:24.734-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>She or Her?</title><content type='html'>Memang gak enak ketika berada di persimpangan dan kita harus memilih arah kiri atau kanan untuk menempuh sebuah perjalanan. Perjalanan hidup gue yang kini berada di titik yang membingungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua sosok yang sama indahnya buat gue. Dua sosok yang sama berartinya buat gue. Dua sosok yang memiliki arti lebih buat gue. Sok laku banget kayany gue. Tapi itulah fakta yang terjadi di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She, adalah sosok dewasa dan penyayang yang baru gue kenal. Rasa nyaman bersamanya sudah menyihir gue untuk menyimpan rasa sayang buat dia. Walau sejujurnya gue mengenalnya pertama kali ketika dia masih dekat dengan seseorang. Tepatnya ada seseorang yang mendekatinya dan berusaha menjadikannya kekasihnya. Tapi benar kalo orang Jawa bilang witing tresno jalare soko kulino (Kalo gak salah begitu spellingnya_red), cinta bisa hadir ketika kita sering bersama. Kebersamaan gue dengan dia membuat gue merasa dia wanita yang sangat mengasyikan. Dan sampai saatnya gue berani menyatakan semua yang gue rasakan tanpa rasa enggan sedikitpun. Gue akan mulai mendekatinya ketika hubungan dia dan lelaki itu benar-benar sudah di titik penghabisan. Point lebih buat gue ketika dia memang bisa bikin gue seneng menghabiskan waktu sama dia. Sering ketemu, sering jalan walau hanya sekedar untuk nonton atau makan sudah cukup membuat gue melupakan kegalauan gue tentang seorang 'Her'..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Her, adalah sosok yang menarik. Enerjik dan pecicilan. Jauh lebih rame ketimbang 'She' memang. Tapi kalo mau jujur, dia juga sosok yang mampu membius gue untuk ngejar-ngejar dia gak karuan. Sayangnya, gue sampai detik terakhirpun masih diyakinkan dia kalo gue hanya pantas menjadi teman atau sahabat buat dia. Mau bilang apa. Rasa emang gak bisa dipaksa. Meski gue mati-matian mendapatkan cintanya, tapi kalo dianya biasa-biasa aja, malah cuma jadi nyampah. Dia memang pintar memainkan hati gue. Untuk ukuran seorang sahabat, perhatiannya gue rasakan lebih. Untuk ukuran seorang teman baik, apa yang dia lakukan buat gue cukup membuat gue bingung menebak isi hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang, entah mengapa gue jadi tak tahu harus mengambil pilihan yang mana. Karena keduanya begitu mempesona. Keduanya dengan caranya masing-masing selalu bisa membuat hati gue berbunga-bunga. Dan keduanya adalah sosok wanita yang diinginkan banyak kaum pria. Sebagai pendamping hidupnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She, yang dewasa?&lt;br /&gt;Atau..&lt;br /&gt;Her, yang ceria?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa jawaban yang dikirim Tuhan buat gue. Tapi yang pasti, gue akan menunggu 'lembar jawaban' itu tiba. Ketika sang waktu mengirimkannya dengan sebuah amplop cinta..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jakarta.EmpatAprilDuaribudelapan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-2834763233031984678?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/2834763233031984678/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/04/she-or-her.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/2834763233031984678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/2834763233031984678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/04/she-or-her.html' title='She or Her?'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-7356570675834431941</id><published>2008-04-17T02:30:00.000-07:00</published><updated>2008-04-17T03:05:59.346-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Searching For The Missing Soul</title><content type='html'>Ketika Cinta Bertasbih. Selesai sudah gue melahap ke dua bukunya sekaligus. What a book.. Satu hal yang pasti gue makin merindukan sosok yang bisa jadi pendamping hidup gue kelak. Jadi ngarep dapet model cewe yang ada di novel itu. The problem is, apa masih ada yah di jaman yang serba modern dan gak jelas ini. Mmm.. sebagian hati gue masih yakin kalo itu bukan hal yang mustahil. Meski mungkin satu banding sejuta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gue membaca buku itu, gue seakan bermain dengan alam bawah sadar gue. Terseret pada asa yang tak tentu arah. Gue tau gue bukan sosok yang sempurna, tapi gue mencari sosok yang bisa membantu gue menjadi sempurna dan menyempurnakan hidup dan agama yang gue punya. Sosok wanita yang mau berbagi suka dan duka, bukan hanya senang tertawa namun tak mau menangis dalam derita. Meski dia bukan wanita yang sempurna, namun sebagian hati gue berteriak gembira dan berujar kalo dia bisa menjadikan gue sempurna. Dengan cintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, semakin hari gue malah semakin seperti orang buta. Hanya bisa meraba dan meraba. Bermain dengan spekulasi dan perasaan yang makin menyiksa. Cinta atau hanya teman biasa. Sayang atau hanya nyaman ketika bersama. Suka atau hanya kebiasaan supel semata. Gue memang menjadi orang yang buta ketika berhadapan dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya gue harus bersikap. Walau gue tahu gue bakal kehilangan sosok itu, mungkin untuk selamanya. Maaf. Tapi sepertinya gue memang harus pergi dan hilang dari dunianya. Gue gak mau merusak semuanya. Gue belum bisa menghilangkan rasa sayang gue ke dia. Dan gue gak mau itu merusak nilai persahabatan yang coba gue jalin dengannya. Apalah artinya pertemanan kalo nyatanya gue masih berharap asa yang lebih dari dirinya. Apalah arti persahabatan kalo gue masih menginginkan dia menjadi belahan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya gue untuk bergerak. Gak mau tertambat pada sebatang pohon anggrek, yang meski indah dan harum tapi gak pernah jadi milik gue. Gue makin yakin kalo sikapnya gak akan berujung pada sebuah keindahan. Gue ragu kalo dia bakal merubah arah stirnya dari seorang teman menjadi seorang kekasih. Gue memang cuma teman yang tak boleh berharap. Gue hanya someone yang gak akan pernah jadi something buat dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup! Gue memang harus bisa memilih mana yang terbaik. Terutama buat dia. Dan sepertinya menghilang dari hadapannya merupakan hal terbaik yang harus gue tempuh pada akhirnya. Dia bisa lebih bebas menjalani harinya. Dia bisa menjadi seorang yang sempurna tanpa gue yang cuma nyampah tanpa guna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahahaha.. Terdengar menjijikan mungkin. Tapi semua yang gue rasa memang membuat gak tau harus berbuat apa. Gak peduli orang mau bilang apa. Gue hanya ingin dia bahagia tanpa gue di sisinya. Gue hanya ingin dia mencinta orang yang hanya di hatinya. Cape jadi pengganggu yang gak jelas juntrungannya. Lelah jadi pejantan yang gak akan pernah diterima sang betina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku cinta. Maafkan aku masih memendam itu semuanya. Maaf aku merusak semua yang coba kita bina. Maafkan aku yang ternyata tak bisa menata hati dengan sempurna. Maafkan aku tak bisa menemani kamu sampai waktunya. Maafkan.. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku harus pergi. Yakinlah, semua itu aku lakukan hanya untuk buat kamu bahagia..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saatnya gue kembali mencari belahan hati gue yang hilang. Entah dimana dan entah kapan saatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'm gonna miss u.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That's for sure..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;jakarta.duasatumaretduaribudelapan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-7356570675834431941?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/7356570675834431941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/04/searching-for-missing-soul.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/7356570675834431941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/7356570675834431941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/04/searching-for-missing-soul.html' title='Searching For The Missing Soul'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-9051610103881459276</id><published>2008-02-24T10:25:00.000-08:00</published><updated>2008-02-24T10:44:05.911-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bad Story'/><title type='text'>Jangan Ngarep..!</title><content type='html'>“Just Friend..!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That’s what she said..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahaha.. Hehehe.. Hohoho.. Hihihi.. Huhuhu.. Hikshikshiks..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya gue memang gak boleh terlalu ngarep. Harusnya gue sudah bisa melupakan semuanya. Melanjutkan hidup gue seperti biasanya. Bukan terpuruk dalam penantian yang memang gak jelas juntrungannya. Udah dua minggu lebih, tepatnya 17 hari, sejak dia menolak rasa gue. Gue ditolak seorang gadis manis yang kerapkali bikin gue tersenyum miris. Hihihi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s been a hard day. Gue harus menerima kenyataan ketika perasaan yang gue punya selama ini ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Gue suka, dia tidak. Gue sayang, dia menganggap itu bukan hal yang membuatnya senang. Gue berharap, dia mungkin menganggap gue sebagai kurap. Bikin gatel, pengen ngegaruk gue, dan pengen menghilangkan gue secepat mungkin dengan cara apapun. Huhuhu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta memang aneh. Dia punya jalan sendiri untuk mengubah dunia ini. Dengan cara bahagianya, atau bahkan dengan cara nestapanya. Gue mungkin salahsatu yang kurang beruntung ketika berada di jalurnya. Terseok, tertatih, dan akhirnya malah mati. Mati secara perlahan. Mati asa. Bukan secara harfiah. Gue masih pengen hidup. Masih pengen mencari cinta sejati gue. Entah sampai kapan. Tapi sayangnya hati gue masih terpaut ke diri dia. Setidaknya sampai dia memang bener-bener gak bisa menerima gue sebagai orang paling special di hatinya. Yah, mungkin sampai akhirnya dia menemukan seseorang yang bisa didaulat sebagai soulmatenya. Hahaha..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalo gue liat sinetron percintaan (bukan yang striping, soalnya ngebosenin, muter-muter aja ceritanya kaya baling-baling bambu), gue jadi ngiri. Pengen banget kisah cinta gue bisa happy ending. Kaya siang ini, gue kebetulan liat sinetron yang menceritakan tentang cewe yang pacaran jarak jauh sama cowonya di Inggris. Dia akhirnya bisa menemukan pengganti cowonya, yang ternyata begitu balik ke Jakarta membawa pacar barunya, yang tak lain dan tak bukan adalah sopir taksi yang selama ini selalu nemenin dia ketika dia sedih. Selalu jadi temen curhat dunia maya yang samasekali tak dikenal sebelumnya. Huuuh.. jadi pengen kentut rasanya. Kesel. Gue jadi ngebayangin andai gue yang jadi taksinya. Eh, maksud gue argo taksinya. Salah lagi, maksud gue sopir mikroletnya. Hahaha.. Dasar tolol! What I mean is the Taxi Driver. Ganteng, baik, meski sopir taksi tapi kuliah psikologi juga, and at the end berhasil dapetin cewe yang udah cantik, baik, pengertian, setia, tajir pula. Hahaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bagian “the girl’s type”, gue gak butuh tajirnya. Gue butuh baiknya. Butuh pengertiannya. Butuh yang menerima gue apa adanya, bukan ada apanya. Setia? Udah pasti. Mungkin terlalu muluk buat gue, secara gue cuma cowo biasa yang gak punya kelebihan. Gak ganteng, jauh dari tajir, dan jarang dibilang baik. Wakakakak.. It’s true! Nothing special bout me. Kekurangan gue mungkin lebih banyak ketimbang kelebihan gue. Nah, mungkin itu juga yang dilihat dia dari sosok gue. Gak yakin dengan gue. Terutama mungkin gak yakin dengan dunia gue. Wajar lah. Kalo mo jujur, dunia gue lebih banyak buruknya ketimbang baiknya. Meskipun semua memang balik ke pribadinya masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rasa putus asa menunggu semuanya. Menunggu kejelasan pengharapan gue. Walau sebenarnya gue dah dapet jawaban jelas dari dia. Gadis itu cuma menganggap gue sebatas teman saja, meski dia ngakuin kalo dia juga sayang dan merasa nyaman dengan kehadiran gue. Damn! Mending dapet nilai 100 pas ujian ketimbang dapet jawaban kaya gitu saat kita menyatakn perasaan kita kepada seorang cewe. Jawaban versi halus yang memang udah kondang banget di kalangan sang penolak cinta. bahkan mungkin sudah dipatenkan dan dibakukan di primbon asmara karangan Ki Joko Tresno, pakar percintaan dari gunung Slamet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue memang masih menjalin komunikasi sama dia. Tapi gue gak mau berharap lebih lagi. Gue mulai belajar untuk menerima semua keputusan dia dengan lebih bijak. Karena gue sadar, rasa itu gak bisa dipaksakan. Yang menyiksa gue adalah ketika gue didera kangen yang kebangetan sama dia. Jadi pusing sendiri gue. Gak tau harus gimana. Gue gak mau juga selalu ganggu dia dengan kehadiran gue lewat sms atau telepon gak penting. Takut pada akhirnya dia malah jadi gak comfort berteman dengan gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup! Cuma teman. Mungkin sebatas itu saja gue harus menggantungkan harap gue. Gak kurang dan gak lebih. Setidaknya kalo itu memang bisa bikin dia seneng, gue ikutan seneng juga. Sepertinya sudah saatnya gue harus memupuk rasa yang lain di hati gue. Karena gue gak mau kehilangan dia untuk yang keduakalinya. Gue udah kehilangan Miss. Worm karena kebodohan gue saat itu, dan sekarang gue gak mau kehilangan dia sebagai sahabat gue. Gue berusaha untuk menjaga persahabatan gue dan dia sesuai jalurnya. Gak mau lebih, kalo akhirnya malah bikin sedih hati. Gak mau kurang, karena berada deket dia, atau sekedar denger suaranya selalu bikin hati gue riang. As a friens tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue cuma pengen bikin dia makin seneng dengan keberadaan gue. Gue mau dia selalu nyaman menjadi sahabat gue. Dengan kelebihan dan kekurangan gue. Dan sekaranglah saatnya gue harus menerima kenyataan, ketika sang cinta memilih siapa yang akan terkena panah asmaranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue memang sudah ter-delete dari daftar cintanya. Tapi gue masih bersyukur karena gue masih tercatat dalam sejarah persahabatannya. Satu yang pasti gue hanya ingin dia bahagia punya sahabat kaya gue. &lt;br /&gt;Thanks banget buat pelajaran yang lo udah kasih ke gue, Miss. Tentang persahabatan. Tentang arti sebuah perasaan. Setidaknya itu yang bisa ucapkan kini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue mungkin memang dikasih waktu buat sendiri dulu sama Yang di Atas. Buat belajar jadi orang yang lebih baik dan berguna dulu buat orang lain. Dan sayangnya mungkin bukan buat dia..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya gue makin sadar hakikat sebuah Cinta..  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Jojo Tresno waktu ditolak Ratu Buaya, pernah berkata..&lt;br /&gt;“Di Kalibata banjir sematakaki, di Cawang panasnya malah bikin keki. Cinta memang asa yang paling hakiki, sayangnya ia tak selalu harus memiliki..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Timur Jakarta. 24 Februari 2008.&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-9051610103881459276?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/9051610103881459276/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/02/jangan-ngarep.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/9051610103881459276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/9051610103881459276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2008/02/jangan-ngarep.html' title='Jangan Ngarep..!'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-4493273730884612960</id><published>2007-12-17T00:26:00.000-08:00</published><updated>2007-12-17T00:45:21.108-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bad Story'/><title type='text'>me VS jarum suntik</title><content type='html'>Woooooiiii.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja.. &lt;br /&gt;Semangat...&lt;br /&gt;Begaul.. &lt;br /&gt;Pake urat..&lt;br /&gt;Finally.. &lt;br /&gt;Ambruuukzzzz….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan..&lt;br /&gt;Terhentilah sejenak semua kegilaan gue. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue terbaring lemah. Tanpa tenaga seperti biasanya. Termenung sesaat ketika tubuh gue tergolek lemas di sebuah kamar berukuran 6x4 meter. Di sebuah Rumah buat para pesakitan di daerah BSD. Tepatnya di Omni International Hospital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pertanyaan mendasar yang bikin gue deg-degan dan bikin gue gak bisa memejamkan mata gue dan ngiler dengan mulusnya adalah.. &lt;br /&gt;Apa bener gue kena demam berdarah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa bener mahluk mungil tapi tengil bernama Nyamuk itu berhasil mengalahkan gue dengan segitu telaknya? &lt;br /&gt;Apa bener gue harus nyerah tanpa syarat menghadapi si Nyamuk yang sering jadi bahan berita dan gossip para wanita dan seluruh waria di seantero dunia?   ( Lebai banget gak sih gue. Hehehehe.. )&lt;br /&gt;Apa bener ya? Bener gak sih? Atau Cuma ketakutan gue aja? Atau semua Cuma rekayasa? Atau ilusi belaka? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fuiiih.. Makin gak jelas aja gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar lebih jelas, gue mau cerita dari awal aja deh.&lt;br /&gt;Make it simple aja. Gue mulai ngerasa gak enak badan pas senin siang. Tepatnya tanggal 10 Desember 2007. Begitu gue bangun dari tidur gue, badan gue kerasa gak bener. Panas dingin campur flu dan lemes tak menentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mmm.. Panasnya hampir sama kaya sakit gue sebelumnya. Pas amandel gue agak infeksi. Sedikit ngerasa resah. Ngebayangin harus berkutat dengan obat lagi nih ujung-ujungnya. Bukan apa, buat gue, meski fungsinya bagus, obat tetep aja bukan jenis makanan atau minuman yang enak dimasukin ke mulut. Mau rasanya semanis apapun. Males nelennya juga gue. Apalagi kalo bentuknya udah segede-gede Gaban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mau gimana lagi. Kekhawatiran gue pulalah yang membuat gue mutusin buat balik ke rumah secepetnya siang itu. Untungnya bisa sampe dengan selamat juga. Tiba di rumah gue langsung calling tukang pijit langganan gue. Biasa. Kerok plus pijat tentunya. Biasanya langsung enakan badan gue. Tapi kali itu gak berhasil. Badan gue makin kerasa ancur aja. Panas gue pun gak turun sampe malam tiba. Alhasil gue mutusin buat cek di klinik terdekat. Nyokap maksa nemenin, selain adik gue yang paling bontot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di klinik itu, akhirnya gue harus superduper pasrah di ambil darah buat diperiksa. Dan yang lebih nyebelin, gue harus disuntik di lengan gue. Untungnya bukan di pantat gue. Bisa nafsu gila tar tuh perawat sama gue. Gue sendiri jujur gak tau suntikan jahanam itu buat apa. Tapi mungkin buat nurunin panas badan gue. Hasil pemeriksaan bilang semuanya normal-normal aja. Gue cukup seneng. Tapi yang bikin gue gondok, gue harus terima dengan lapang dada kalo kenyataannya dalam satu malam gue harus terima dua tusukan jarum bertubi-tubi. Yaaaakzzzz.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But u know what, semuanya gak ngaruh aja gitu. Selasa malam gue gak bisa tidur sama sekali. Badan gue kerasa linu. Kaya kakek-kakek di suruh ngemil besi karatan (Linu gak sih kalo kaya gitu? Hehehe..). Intinya gue kembali terserang demam berkepanjangan, PLUS ngilu seluruh badan. Hikshiks.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu paginya gue akhirnya cabut ke RS. Omni - BSD. Niatnya Cuma mau ngecek and make sure apa sih sebenernya yang lagi menyerang gue. Gue gak mau ada ada musuh dalam selimut. Penyakit yang gak katauan, tapi akhirnya membuat gue jadi lebih gak berdaya lagi nantinya. Sampe OMNI jam setengah tujuh pagi. Sebelnya, ternyata dokter penyakit dalamnya baru datang jam setengah 10 pagi. Dan gue sempet ngegantung gak jelas. Gak tau harus nunggu atau pindah rumahsakit. Berhubung badan gue udah gak kuat lagi dibawa jalan, akhirnya gue mutusin untuk periksa di UGDnya aja. Pahiiit banget dengernya. Gue akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran dari sang dokter jaganya buat dirawat inap. Alasannya cukup masuk akal buat gue. Kondisi gue lemah, obat yang gue konsumsi sebelumnya sebenernya udah bagus, tapi kayanya gak bisa bikin tubuh gue berreaksi ke arah yang positif. Artinya meski gue dikasih obat yang lebih baguspun, badan gue tetep aja nolak. Intinya, gue harus tidur di rumah sakit. Dan gue harus, kudu, wajib dan mesti di INFUS. Damn..! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin sempurna aja hidup gue. Hehehe.. Padahal gue udah sempet mohon gitu sama dokternya. Boleh dirawat, tak boleh diinfus. Tapi ternyata motto gue yang satu itu gak berlaku buat si dokter. Wadezigxxxx.. Kaya zombie yang gak niat, gue menahan sakit ketika jarum infuse mulai masuk ke badan gue. For the first time ever. Hikshikshiks.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai sampe di situ aja. Tangan kanan gue udah tersentuh jarum infuse, seperti gak mau kalah, tangan kiri gue juga ikut ditusuk jarum. Disuntik buat ngetes apa gue bisa menerima obat yang akan dikasih melalui infuse dengan baik apa nggak. Cuma pengen tau gue alergi sama obat itu apa nggak. Cuma kata lo? Wuaaaaaa.. Buat kata Cuma, gue nahan sakit lagi. Karena jujur tangan kanan gue kerasa lebih cenut-cenut ketimbang yang kiri. Selesai acara suntik-suntikan, gue didorong ke kamar rontgent. Buat di foto isi badan gue. Sebelumnya gue juga sempet rekam jantung. Gue udah seneng aja, gue pikir setelah hasil rekamannya keluar gue bisa langsung jual ke toko kaset dan CD terdekat, tapi ternyata gak bisa. Hasilnya jelek kali. Hehehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk juga akhirnya ke kamar gue. VIP room, nomor 340. Enak banget untuk ukuran sebuah kamar rumahsakit. Tapi wajar aja sih, harganya juga enak banget buat kantong gue. Emaaaaakk.. Tapi seenak-enaknya tuh kamar, tetep aja gak bisa bikin gue tidur. Terbukti gue gak bisa tidur sampe jam setengah 5 pagi keesokan harinya. Entah kaget atau norak, tapi yang pasti gue gak merasakan kenyamanan berkendaraan menuju alam mimpi saat itu. Secara tidur gue udah kaya atlit wushu, gak bisa diem, yang ada itu malah bikin gue ketakutan untuk sekedar memejamkan mata. Takut selang infusnya copot. Bisa-bisa darah gue muncrat kemana-mana. Hihihi.. Soalnya darah gue emang sempet keluar gitu pas gue mau pipis pertama kali. Gue gak ngerti, pas ke toilet, cuek aja gue gitu dengan tangan gue yang terbalut jarum infus. Alhasil, gue sempet keringet dingin juga ngeliat darah gue mulai iseng keluar mengisi selang infus gue. Untung gak terlalu banyak. Dan untungnya langsung diberesin sama suster masalah itu. Normal lagi deh infusannya.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu malam terlewat sudah dengan kurang mulus. Jujurnya, kurang istirahat. Sepanjang kamis gue do nothing. Gak bisa tidur juga. padahal gue udah ngantuk banget. Secara ada beberapa tetangga gue yang ikhlas ngejenguk gue. Hanya beberapa jam aja gue bisa memejamkan mata malam harinya. Tidur ayam gak jelas deh. Maaf yah, yam. Bawa-bawa nama lo. Tapi kenyataannya emang begitu. Gue emang komplit gak bisa menikmati kenyamanan kamar gue. Jum’atnya gue baru dijenguk sama temen-temen satu posko gue. Thanks to them all. Meski awalnya gue sempet males. Males dinasehatin. Hehehe.. Juju raja, tanpa harus dinaseahatin, gue udah cukup sadar diri, kalo yang menimpa gue emang hasil perbuatan gue juga. Gue gak bisa menjaga badan gue. Gak bisa memanage waktu istirahat gue dengan baik. Jadinya ngedrop gila deh akhirnya. I’m so fuckin sorry, guys. I love u all deh. Thanks for the ngingetinnya, meski gue bukan tipikal yang gampang ngikutin kalo dikasihtau. Hahaha.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, sebuah pengalaman emang guru yang paling tokcer. Masalahnya adalah, entah gue termasuk murid yang pandai menyerap pelajaran atau nggak. Gue mungkin jera untuk saat ini, tapi entah beberapa minggu ke depan lagi. Tobat gue belum sebener-benernya tobat sih. Jadinya Allah mungkin sebel sama gue. Tapi gue jujur seneng juga. Paling nggak, sakitnya gue nunjukkin kalo Allah SWT masih sayang banget sama gue. Moga-moga, disakitnya gue ada proses pencucian sebagian kecil dosa-dosa gue. Jadi gue nerakanya gak kerak-kerak amat. Masih di lantai satu lah, bukan yang di basement-nya. Hehehe.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue terhibur banget dengan kedatengan teman-teman seperjuangan gue. Meski awalnya gue gak niat ngabarin kalo gue terbaring di Rumahsakit. Tapi setelah gue pikir lagi, gue harus kasihtau mereka. Karena gue gak mau nantinya malah ribet dengan jadwal kerjaan gue. Main oke aja nerima kerjaan buat gue, tapi guenya malah tergolek mirip golek di Omni. Lebih seneng lagi, karena Jum’at malamnya, Manajer gue juga nyempetin datang. Sempet bercanda-canda kecil sebelum akhirnya dia pamit. Dan gue pun berusaha memejamkan mata gue menuju Sabtu. Gak sabar pengen pulang. Meski suster-susternya baik-baik dan cantik-cantik. Pelayanannya emang bikin nyaman banget. Semuanya di set untuk membuat kita merasakan perhatian yang besar dan semangat untuk cepet sembuh. Pertama kali pula gue ngerasa dimandiin sama suster situ. Di lap sih tepatnya. Pake air hangat dan sabun. Lumayan seger. Paling nggak badan gue gak sebau pispot rumahsakit. Hehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hal yang bikin gue gak tenang selama masa pengasingan gue di white house itu Cuma si trombosit. Cuma dia yang bikin gue deg-degan menghadapi hari-hari berikutnya. Dokter said, trombosit gue turun. Prediksi dan diagnosa awalnya ada dua pilihan, Typus atau DBD, alias Demam Berdarah Dech. Pilihan yang sama-sama gak enaknya. Dan keduanya membutuhkan kejelasan si Trombosit. Intinya dokter jaga gue cuma berharap trombosit gue bisa perlahan naik. Paling nggak itu bisa membuat dr. Nella, dokter yang megang gue, merasa yakin untuk melepas gue pergi dari rumahnya. Hehehe.. Awalnya gue diperkirakan pulang hari Jum’at, tapi ternyata agak meleset dikit. Gue baru bisa menghirup udara luar, sabtu paginya. And you know what, totalnya gue harus diambil darah buat dicek sebanyak 4 kali. Tiap hari, tiap paginya gue harus rela merasakan ketegangan. Malu sih sama suster. Tapi mau gimana lagi. Gue emang males banget sama jarum. Gue kan pria penghibur, bukan penjahit pria. Wajar aja kalo gue agak kisut kalo liat ujung runcing sang logam bernama jarum suntik ntu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtunya gue pulang juga akhirnya. Istirahat sebentar di rumah. Untungnya bisa. Itu juga gue yakin karena masih di bawah pengaruh obat tidur. Kalo nggak, gue pasti cengo campur lemes deh nunggu waktu gue cabut ke lokasi kerja gue. Yoii.. Sabtu malam gue harus kerja. Hasilnya gak usah ditanya. Gak maksimal. Gue jadi agak pendiem. Gak petakilan seperti biasanya. Gak selincah kancil seperti sebelum-sebelumnya. Gue malah sempet lemes gila dan ngerasa hampir jatuh. Nyokap dan bokap Cuma bilang gue terlihat agak sipit matanya. Keliatan sakitnya. Lemesnya. Hahaha.. Gak papalah, paling nggak gue bisa nyelesaiin pekerjaan gue tanpa harus pingsan dan ambruk di tengah jalan. Gak mungkin juga sih, kan kerjanya di dalem studio bukan di tengah jalanan. Hehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit gue belum ketahuan judulnya. Meski gue kayanya negative buat Typus dan DBDnya. Tetep aja gue harus balik rabu besok. Just make sure everything baik-baik aja. Dan sekarangpun ketika gue menulis semua ini, gue masih ngerasa lemes. Tanpa tenaga. Gak keluar rumah sedikitpun, meski gue udah gatel pengen jalan. Arrrggg.. Hehehe.. Tapi gak papa. Paling nggak gue mungkin bisa lebih gemuk. Abis gak ngapa-ngapain, tapi makannya edan-edanan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehehe.. &lt;br /&gt;Gue. Manusia gimbal tanpa timbal yang demen makan sambal dan hobby pake sandal ini akhirnya harus ngerasain dirawat juga di rumah sakit. Yoi.. After hampir seperempat abad lebih gue nolak semua jenis jarum menyentuh tubuh indah gue, kecuali pas nekat begaya pake anting, akhirnya gue nyerah juga. Pasrah aja ketika gue di serbu berkali-kali oleh ujung tajam sang jarum. Udah gak bisa nolak. Udah gak bisa menghindar atau lari lagi. Sebuah pengalaman yang menyakitkan tapi begitu indah. (Indah palelu peyang..!_Wendi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehat itu emang mahal, sakit itu bikin sebal. Dan gue baru menyadarinya ketika gue sudah tak bisa menghindarinya. Standart aja sih. Semua penyesalan pasti datang belakangan. Tapi yang pasti gue gak pernah menyesali semuanya. Karena udah terjadi juga. paling tidak, gue Cuma bisa belajar untuk lebih berhati-hati dengan badan gue sendiri. Harus lebih sayang sama diri gue sendiri. Karena gue takutnya badan gue marah sama gue. Jadinya sakit-sakitan terus deh. Tidaaaaaaaakkk.. ( Udah kaya sinetron belum? Hehehe.. )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti gue makasih banget buat keluarga gue yang udah nemenin dan menjaga gue selama gue dirawat. Baik di rumah maupun di rumahsakit. Temen-temen gue apalagi. Gak kalah pentingnya, Ranger Pink yang udah nemenin gue selama gue dirawat. Thanks buat waktunya yang udah terbuang Cuma buat ngurusin gue. Gue janji, gue akan melakukan hal yang sama buat lo. Makasih, makasih dan makasih.. &lt;br /&gt;Udah kaya nerima award aja gue. Hehehe.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finish ah.. &lt;br /&gt;Gue mau tiduran lagi. Lemes lagi. Tidur lagi.&lt;br /&gt;Hahahaha.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta. 17.12.07. Rumah gue.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-4493273730884612960?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/4493273730884612960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/12/me-vs-jarum-suntik.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/4493273730884612960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/4493273730884612960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/12/me-vs-jarum-suntik.html' title='me VS jarum suntik'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-3294660307695641963</id><published>2007-11-06T21:24:00.001-08:00</published><updated>2007-11-06T21:45:06.268-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Good Story'/><title type='text'>Orange Jus dan Mie Rasa Liur</title><content type='html'>Orange Jus..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum. Ketawa. Nangis. Berantem. Adu argument. Tepuk tangan. Tertunduk lesu. Huuuuuh.. Semua itu gue alamin sama mereka. Kawan-kawan gue tercinta angkatan 2001 Aduh.. Gue sedih banget kalo liat rangkaian foto-foto gue dan semua teman gue semasa ngejalanin Ospek bareng di Jurusan Hati gue, Seni Rupa IKIP Jakarta. Kalo sekarang sih Seni Rupa UNJ. Kangen yang kerasa. Gila. Gue pengen banget kuliah lagi sebenernya. Lebih tepatnya gue sedih banget karena cuma bisa menghabiskan setahun bergelut dengan kegembiraan dan kesulitan berkuliah bersama mereka. Gak kurang gak lebih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit Flashback..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekwensinya masing-masing. Sama halnya dengan pilihan gue buat kerja mencari sesuap duit. Niat awal gue kerja sebenernya buat ngebantu biaya kuliah. Secara gue bener-bener harus puas dengan kondisi yang pas-pasan buat sekedar biaya kuliah atau bahkan biaya hidup gue di dunia perkuliahan. Apalagi ketika gue memutuskan untuk pindah dunia. Dari tiga tahun gue memaksakan buat menerima semua pelajaran tentang kelistrikan sampe akhirnya gue terpaksa melawan orangtua gue untuk menekuni dunia seni yang gue inginkan selama ini. Gue harus rela rebut hanya untuk bisa bergulat dengan cat minyak atau akrilik, patung, keramik, desain product, atau pengetahuan tentang dunia kritik seni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup.. Seni Rupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak tahu kenapa gue begitu tertarik dengan dunia yang satu ini. Bukan karena pengen dibilang seniman. Karena gue sendiri gak pernah ‘pede’ sampai kapanpun menyandang gelar itu. Bukan apa, masalahnya gue sejujurnya emang gak bisa apa-apa. Gak punya talenta yang bisa disejajarkan sebagai golongan orang-orang itu. Mereka punya skil dan ilmu. Gue gak punya keduanya. Goresan tangan gue jauh dibawah standart. Ide-ide gue buat sekedar membuat desainpun gak pernah memuaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bener-bener biasa aja. Kalo orang bilang, anak TK juga bisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan gue punya cerita tentang itu. Memalukan, sekaligus lucu, dan juga sedikit memotivasi gue buat lebih maju. Gue lupa tepatnya. Dulu gue pernah nyoba membuat lukisan untuk pameran gabungan gue yang pertama kali dengan temen-temen di Unit Kesenian Mahasiswa yang ada di kampus gue. Gue berhasil bikin lima buah lukisan cuma dalam waktu beberapa hari. Maklum, lagi mood. Jadi enak aja ngerjainnya. Ngalir gitu aja. Dan hasilnya? Jangan Tanya sama gue! Lo cukup tanya orang yang ada di deket tukang bingkai di daerah pasar Mester Jatinegara  tempat gue membungkus lukisan gue dengan rangkaian kayu di setiap sisinya.  Karena disini point of interestnya. Ketika gue membawa semua lukisan gue ke sana, tiba-tiba ada orang yang iseng berkomentar tanpa bertanya lebih dulu. Intinya, dia dengan santainya bilang kalo lukisan gue layaknya gambar seorang anak TK. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shit.. Malu banget gue. Tapi begitu dia nanya punya siapa itu, dan gue Cuma menunjukkan jari telunjuk kanan gue setengah berani setengah minder, gantian dia yang jadi malu dan enggan berkomentar lagi. Huahahaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan gue di bidang yang satu itu entah gue dapatkan dari siapa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyokap? Mmm.. Wanita yang paling gue cinta itu gak bisa gambar sama sekali. Kelebihan di dunia seni hanya di dunia senisuara. Doi pernah juara satu lomba karaoke. Pesertanya? Terbatas banget. Hanya dirinya sendiri. Lokasi? Ruang keluarga rumah gue. Hadiah? Mmm.. Cuma kebanggaan pribadi, karena suaranya gak sampe membuat tetangga sebelah rumah melempari tempat tinggal gue dengan benda-benda tumpul atau bom Molotov, dan gak mendorong mereka berbondong-bongong pindah rumah, atau merubah kewarganegaraan secara bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bokap? Double Mmmm.. Bokap gue superduper alim. 180 derajat bertolakbelakang dengan Nyokap tercinta. Lebih banyak diam. Tapi sekalinya ngomong, bisa bikin semua penghuni rumah layaknya patung tanpa nyawa. Cicak atau kecoa pun kalo denger dia ngomong, terutama bila nadanya agak tinggi 3 oktaf, gue yakin bakalan ikut ngebeku. Kaku kaya paku tertancap di bangku. Walau terkesan gak bersahabat, sebenernya bokap malah sosok yang mengasyikan buat di ajak sharing, meski kadang terkesan menggurui. Tapi mau gimana lagi. Bukankah semua orang tua seperti itu. Dan buat gue itu sebuah hal yang wajar. Karena mereka sudah lebih dulu makan asam manisnya kehidupan dan pahit getirnya dunia. Pengalaman lebih sudah ditangan tentunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah darimana kegemaran gue tentang dunia seni, terutama kesenirupaan itu berasal. Entah turun dari siapa. Tapi yang pasti gue bersyukur. Gue masih diberi sedikit bakat di dunia itu. Thanks to Allah SWT yang mau ngasih gue kesempatan buat belajar lebih tentang kesenirupaan. Baik secara otodidak maupun lewat jalur pendidikan formal. Semuanya gue nikmatin sebagai bagian proses pembelajaran gue tentang hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih tak terhingga juga karena gue pada akhirnya bisa mengenal teman-teman gue yang edan tak terhingga juga di tahun itu. 2001. Ketika gue banting haluan dari dunia listrik ke dunia kuas. Hehehe.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orange Jus.&lt;br /&gt;Nama yang keren buat sebuah moment penerimaan mahasiswa baru, ospek lebih tenarnya, di jurusan Seni Rupa gue yang tercinta ini. Totally different sama ospek-ospek jurusan lain. Bahkan kalo mau jujur, kita bisa di bilang ospek independent. Seragamnya aja beda-beda tiap hari. Bawaannya ada-ada aja. Pisang dempet salahsatunya. Kendaraan operasional ke kampus pun berubah total, yang biasanya bis umum berubah jadi bajaj. Dan lucunya gue dan temen-temen gue yang lain harus di drop sampe depan jurusan dan harus cium tangan sang supir bajaj dan meminta tandatangannya untuk memenuhi tugas dari sang senior. Ide yang brilian menurut gue. Paling nggak dari situ kita jadi makin deket dengan orang lain dan makin membuka dunia kita dengan siapapun. Just like everyone said, Don’t Judge Book by It’s Cover. Seorang supir Bajaj bisa jadi guru yang tak kita sadari sebagai contoh manusia-manusia tegar yang berani berhadapan dengan kerasnya dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mie Rasa Liur.&lt;br /&gt;Sama kerasnya dengan usaha gue buat diterima sebagai keluarga seni rupa kampus gue. Saat inagurasipun gue banyak yang gue dapat. PERMASARU judulnya. Dari makan mie melar bareng-bareng, tentunya setelah sebelumnya kita mengunyah sebanyak delapanbelas kali sebelum kita muntahkan lagi trus diaduk-aduk lagi dengan mie olahan mulut temen gue yang lain di wadah yang disediakan trus kita makan lagi sampe habis. Dari dibotakin tanpa belas kasihan dan tanpa model yang jelas, maupun di tonjok ma senior gue tanpa ampun di hara akhir acara. Meski sekali tapi bikin sakit. Meski bikin sakit tapi akhirnya jadi memory yang menggigit. Dan semuanya pun terbayar dengan keluarnya airmata gue di saat gue bener-bener “Diterima” sebagai bagian dari keluarga besar Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta. Cengeng banget yah. Tapi entah kenapa gue tetep bangga gue bisa sampe kaya gitu. Bahkan ketika gue nangis. Apalagi ketika gue dipeluk para senior-senior gue, baik yang seumur, atau lebih, atau bahkan yang dibawah gue sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah 6 tahun lewat moment itu. Tapi gue masih merasakan aura itu ketika gue iseng mapir ke kampus gue. Kumpul dan ngobrol sampe tengah malem sama mantan temen-temen sejurusan gue. Sedih sih karena gue harus meninggalkan bangku perkuliahan yang berdebu tapi bikin nafsu belajar menggebu-gebu itu. Gak mau sebenernya harus berpisah dengan kebersamaan yang udah terjalin selama satu tahun lebih bersama temen-temen gue yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mau gimana lagi. Gue pada akhirnya tetep harus bisa menerima ketika pekerjaan gue lebih menuntut konsentrasi dan waktu yang lebih ketimbang bangku perkuliahan gue. Meski seperti gue bilang sebelumnya niat awal gue kerja bukan untuk ngebuat terlena dengan indahnya dunia tapi buat sekedar biaya kuliah. Tapi apa mau dikata. Semua berubah dengan sendirinya. Waktupun menjawab semuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata hidup tak selalu semulus yang kita bayangkan. Kita tak bisa selalu memuaskan semua ingin dan angan. Kita hanya mahluk berakal ciptaan Sang Tuhan. Yang kadang dalam perjalanan berbuat kesalahan. Dan seringkali keliru menentukan pilihan. Seperti gue yang pengen banget jadi seniman. Namun sayangnya harus berakhir sebagai manusia biasa miskin pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat semua temen seperjuangan di Senirupa. Maaf yah kalo gue sering bikin kecewa. Tapi kebanggaan sebagai bagian dari lo semua akan selalu ada dihati gue, meski gelar sarjana gak pernah mampir sedikitpun di tangan gue.  &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Mendung menutupi langit Jakarta. 7 November 2007. 11:53 wlg.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-3294660307695641963?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/3294660307695641963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/orange-jus-dan-mie-rasa-liur.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/3294660307695641963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/3294660307695641963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/orange-jus-dan-mie-rasa-liur.html' title='Orange Jus dan Mie Rasa Liur'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-1064647290591408645</id><published>2007-11-06T06:46:00.000-08:00</published><updated>2007-11-06T09:55:49.037-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>See You On The Dance Floor..!</title><content type='html'>Saat itu. Malam Sabtu. 2 November 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bingung gilaaaa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bingung aja gitu malam ini mau kemana. Bingung aja gitu mau stay di Jakarta aja atau nekat cabut ke Bandung cuma buat menghabiskan malam ini. It’s Friday nite, sob! Yang pasti weekend baru saja dimulai. Yang pastinya semua tempat hiburan menantikan kedatangan gue. Hahaha.. Narsis gila. Tapi mau gimana lagi coba, emang masih musim sih yang namanya hangout di malam yang penuh gemerlap ditemani cahaya lampu serba temaram, gelap-gelap gimana gitu. Gak ketinggalan musiknya yang ajep-ajep itu. Ajiippp..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lo tau dong maksud gue. Apalagi kalo bukan. Dunia gemerlap. Clubbing. Party. Or what ever lah nama atau aliasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak bisa dipungkiri lagi, dunia malam selalu jadi bahan pembicaraan menarik meski isinya itu-itu aja. Musik, joged, crowd, drink and tentunya get drunk. Hihihihi.. tapi jangan salah. Peminatnya? Jangan ditanya. Banyak banget. Dari semua kalangan, yang muda maupun yang tua, pria bahkan wanita, dari pemilik perusahaan bonafid ataupun pemilik warung rokok pinggir jalan biasa. Untuk kategori yang terakhir ini, pastinya beda club dong. Hehehe.. Tapi, dari semua perbedaan yang ada, lucunya semua ngemix begitu aja. Perbedaan yang ada kadang itu udah gak berarti ketika mereka udah nyatu di lantai dansa. Asyik berajojing ria, diiringin bingar musik yang menggetarkan jiwa dan membuat hati tertawa gembira.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siap, boss! Itu faktanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan gue mungkin salahsatu yang masih seneng jalan bareng temen-temen gue untuk sekedar joget-joget gak jelas sana-sini. Gak tiap malam juga sih, meski hasratnya begitu. Hehehe.. Namanya juga masih ngerasa muda. Meski muka udah sedikit mengkerut kaya hantu jeruk purut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, gak selalu hal negative yang bisa gue serap dari pergaulan malam yang kata kebanyakan orang “gak bener” itu. Oke, labelnya mungkin gak baik, tapi gue tetep bisa jadi orang baik koq, meski gue sometimes ngejalanin hal itu. Kadang ketika gue berada di tengah kerumunan crowd gue bisa begitu lincahnya. Gue bisa begitu ganjennya. Gue bisa begitu gemulainya. Eittsss.. jangan pikir gue binan yah! Jauh! Hehehe.. Kadang gue bisa tertawa senang ditengah guyonan yang keluar begitu aja dari mulut yang sudah sulit terkontrol. Entah karena omongan gue atau temen-temen gue. Intinya seneng. Intinya gue bisa sedikit melupakan kejenuhan gue akan hidup, meski sebenernya setelah malam berakhirpun gue akan bergulat kembali dengan kehidupan keras yang terpampang di hadapan gue. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada kalanya ketika gue memilih untuk duduk manis di pojok ruangan untuk gak melantai, gue merenungi semua. Ya, kehidupan malam yang ada di depan mata gue. Kadang gue berpikir, gimana jadinya bangsa kita kalo generasi mudanya kaya gue and the other one yang masih menjadikan perilaku ini sebagai hobby atau udah jadi gaya hidup. Yang asyik memproduksi keringat dengan bergoyang-goyang sepanjang malam hingga pagi. Bahkan ada yang rela untuk pulang ke rumah sebentar untuk sekedar mengganti baju yang udah bau terasi dan kembali ke areal dansa lagi. Ibarat sinetron, to be continued. Bersambung. Kalo gue sih untungnya gak gitu-gitu amat. Buat apa juga. Gue datang ke situ bukan buat ngabisin duit, tapi buat seneng-seneng. Meski akhirnya gue harus rela juga merogoh isi kocek gue buat kesenangan sesaat gue itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally gue akhirnya memutuskan untuk cabut ke Bandung. Sempet ragu, tapi toh akhirnya gue berangkat juga. Bener-bener modal nekat. Secara sabtu paginya gue harus cabut lagi ke Jakarta buat ketemuan sama orang TV buat ngebahas konsep acara baru yang coba disodorkan ke gue dan teman-teman gue sebagai pemainnya. Huuuuhh.. Edan suredan!     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya gue ditemenin sama temen-temen gue yang kebetulan lagi pada di Jakarta. Mereka juga salah satu alasan gue nekat cabut ke Bandung. Udah dua kali gue gagal ke Bandung buat hangout bareng mereka, padahal mereka udah menanti penuh harap akan kedatangan gue. Narsis lagi aja gue. Hehehehe.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Take off juga akhirnya jam sembilan malam. From Jakarta. Agak-agak macet. Biasa lah. Kalo hari Jum’at, jangan berharap kita bisa melenggang bebas membawa kendaraan kita menyusuri kota Jakarta. Padet mengesot, bukan merayap lagi. Emang Jakarta gak ada matinya deh. The best ever. Jalan tol aja yang dibilang bebas hambatan, malah berbalik jadi sempit tak beraturan. Gimana enggak, tol kita jatuhnya udah kaya showroom mobil terlengkap bertitel “Dalam Kota”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, stop talking bout the TOL. Let’s talk bout the Nite society again. Gue akhirnya sampe juga di Bandung. Jam 12 malem. Badan gue udah kerasa remuk duluan. Sempet hampir gagal jalan. Abis jarum jam udah ngaceng ke angka 1 tapi gue dan temen-temen gue belum ada geraknya sama sekali. kecapean juga kali yah. Makanya agak terkesan males-malesan. Tapi begitu dedengkotnya temen-temen gue angkat bicara, baru deh kita siap-siap. Gak lama kita pun melesat secepat kilat ke arah Paris Van Java. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue mutusin untuk buka table bareng MRH, sang dedengkot. Letaknya deket banget sama mejanya para DJ bermain. Alhasil, gak perlu butuh waktu lama buat kita semua ancur-ancuran. Mansion, club yang gue singgahi malam itu dipenuhi massa yang benar-benar menikmati musik yang disajikan saat itu. Dance floor penuh gila. Gue sendiri males buat turun dan lebih memilih untuk tetap berada di areal sofa gue. Beberapa kali gue sempet ditarik buat naik ke atas stage yang berada di DJ zone, tapi gak lama, karena jujur gue malu aja buat joget-joget gak jelas dihadapan banyak orang. Meski sebenarnya mereka juga gak peduli dengan kondisi di sekitar mereka. Haloo.. Wake up, man.. Dah gak ada yang sadar juga kaleee.. Mereka udah asyik dengan dunianya masing-masing. Mabuk gak mabuk, pada ajojing gila. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama gilanya dengan temen-temen gue. Mereka juga asyik nari-nari berbarengan. Secara yah, mereka para dancer. Malu mungkin udah gak ada di kamus mereka. Apalagi didorong hasrat mereka buat meliuk-liukan badan dengan asyiknya udah tertutupi cairan-cairan yang memabukkan itu. Hehehehe.. Intinya, malam itu Mansion dipenuhi sama para pendekar-pendekar Drunken Master. Tentunya dengan jurus mautnya masing-masing. Sampe pagi. Sampe kesadaran udah misah dari raga. Saat jalan sempoyongan dan mata agak semblep udah jadi tontonan yang siap tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jujur lagi. Mungkin gue sendiri mulai agak males jalan. Abis udah mulai rajin juga razia dimana-mana. Gue gak ngapa-ngapain juga sih. Tapi kan males aja, lagi enak-enak joged, tiba-tiba ada sorot lampu dan suara lantang berujar, "Perhatian! Anda sudah terkepung!". Huuuh.. Takuuut! Hehehe.. Lagian gue and the others dateng ke tempat penuh lampu yang menyilaukan mata itu niatnya buat seneng-seneng, bukan buat bikin jantung deg-deg'an dan lutut lemes tak terkendali. That's the point.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal, gue percaya banget semua ada masanya. Ada waktunya. Mungkin sekarang masih saatnya gue merasakan dan menjalani hal itu. Dan gue yakin, gue bakal meninggalkan semuanya ketika waktunya tiba. Lagipula, meski apa yang gue lakuin itu salah, orang bijak pernah bilang, "Kita gak akan pernah menghargai nilai sebuah kebenaran ketika kita tidak pernah melakukan kesalahan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergaulan yang miring, tapi bikin hati gak jadi garing. Kelakuan yang salah, tapi kadang menghilangkan segala gundah. Tapi biar bentuknya sebuah kesalahan, paling tidak, kesalahan yang gue perbuat, semoga nantinya bisa membuat gue untuk lebih menghargai hidup. Menjalani hidup lebih berarti, syukur-syukur sampe mati. Hihihi.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mungkin sudah menjadi salah satu bagian cerita gue. Hidup gue. Proses pendewasaan gue. Walaupun gue sendiri gak tau apa gue bisa melewatinya dengan pilihan yang benar atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat gue mungkin akan lelah sok mencari jati diri. Suatu saat mungkin kaki gue enggan untuk melangkah kesana-kemari. Suatu saat mungkin hati dan perasaan gue menolak keras untuk keluar di malam hari. Tapi entah kenapa, gue yakin ketika saat itu tiba dan terjadi, dunia malam akan terus menggeliat dengan lincahnya, sorot lampu akan tetap menyentuh dan menyilaukan mata, dan dentuman musik sang DJ pun tak akan berhenti menghajar dan menghantam jantung dan gendang telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu nanti. Belum pasti. Dan saat ini gue cuma ingin berujar emosi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEE YOU ON THE DANCE FLOOR..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta. 6 November 2007. 23:28 whg.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-1064647290591408645?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/1064647290591408645/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/see-you-on-dance-floor.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/1064647290591408645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/1064647290591408645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/see-you-on-dance-floor.html' title='See You On The Dance Floor..!'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-3541659137295292869</id><published>2007-11-02T00:27:00.000-07:00</published><updated>2007-11-02T00:38:59.312-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Cinta Oh Cinta..!</title><content type='html'>Yupss.. Cinta emang gak ada matinya. Meski aneh tapi dia begitu nyata. Meski sering membuat kita sedih, namun kerap memberi bahagia pula. Cinta tak pernah menjadi sesuatun yang berharga, ketika kita belum mengerti makna terdalam tentang cinta. Hal semu yang kadang membuat hati kita tak menentu. Banyak pelajaran yang kita bisa petik ketika kita belajar mencintai seseorang. Siapapun dia..&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Khalil Gibran pernah berkata: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih sayang adalah kemudahan hati, pikiran adalah kedewasaannya; tetapi kecerewetan adalah kepikunannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hendak memahami seorang wanita, perhatikanlah mulutnya selagi tersenyum; tapi untuk memahami seorang pria, perhatikan warna putih matanya selagi marah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta pada diri sendiri menghasilkan kesombongan buta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta bisa membuat seseorang lebih tersiksa oleh rasa khawatir terhadap orang yang dicintainya, daripada rasa sakit yang dideritanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hidup adalah semua yang terbaik dari seni, maka mencintai seseorang adalah seni terbaik dalam kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta bernafsu adalah dahaga yang tak terpuaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta membuat sepasang kekasih seperti dua buku, mencoba dipahami setiap lembar-lembarnya namun tak pernah selesai terbaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu mencintai seseorang, sesungguhnya kamu belajar sesuatu tentang dirimu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cinta pasti ada perselisihan, namun itu mungkin jalan pintas menuju pertemuan dua pikiran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta ibarat seekor burung cantik, yang meminta untuk ditangkap, tapi menolak untuk disakiti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta seperti mata air abadi yang selalu mengalirkan kesegaran bagi jiwa-jiwa yang sedang dahaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yang dibasuh air mata akan suci dan indah selamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta adalah istirahat panjang bagi tubuh dalam kesunyian pusara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta adalah keabadian, keabadian tidak memiliki apa-apa kecuali cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta dapat menciptakan hati, tapi hati tidak dapat menciptakan cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta bermula dari pertautan jiwa, jika tak ada pertautan jiwa, maka tak akan tercipta cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta tidak dimiliki dan juga memiliki, karena cinta telah cukup untuk dirinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta adalah sarana untuk memahami dua jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yang terbatas ingin memiliki yang dicintai, sedang cinta yang tak terbatas hanya terbatas menginginkan cinta itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta seperti anggur nikmat, yang manis di bibir dan menghangatkan badan, namun sering memabukkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta bisa membuat jalan keras menjadi lunak dan mengubah kegelapan menjadi lunak dan mengubah kegelapan menjadi terang bercahaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang tak dapat menuai cinta hingga ia mampu membuka pikirannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang tak dapat menuai cinta hingga ia merasakan perpisahan yang menyedihkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang CINTA PERTAMA : &lt;br /&gt;Setiap orang akan teringat pada cinta pertamanya. &lt;br /&gt;Cinta pertama akan dicoba untuk didapatkan kembali. &lt;br /&gt;Cinta pertama seperti dunia baru yang memenuhi seluruh sisi kalbu. &lt;br /&gt;Ingatan pada cinta pertama membuat seseorang menjadi amat gembira menjalani semua kepahitan misteri dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta mempunyai pengikut, mereka yang tidak dipilih sebagai pengikutnya tak akan mendengar ketika cinta memanggilnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta bisa membuat seseorang merasa senang dengan kekasihnya, sekalipun kekasihnya itu sulit untuk digapai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yang terpuji adalah cinta yang mampu mengisi kesepian dan mengakrabkan hati dua orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta dan keraguan tidak saling berbicara satu sama lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraguan di dalam cinta adalah sebuah dosa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan tanpa diiringi cinta tak bermakna, dibanding kemiskinan dan kerja keras namun didampingi cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta tidak hanya menghargai orang yang mencintai namun juga orang yang dicintai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta adalah keindahan yang menarik jiwa yang diberikan dan bukan yang diminta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta adalah sebuah misteri yang sering membuat kita tak mengerti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan cinta yang melanda seseorang mampu menahan derita akibat kemiskinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yang terhina lebih bermakna dibanding cinta yang mencari kemenangan dalam kepura-puraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta belum dapat dirasakan manisnya, sebelum merasakan pahitnya kesabaran dan sedihnya kesulitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cinta tidak ada kata ‘kasihan’, karena ‘kasihan’ itu hanya ½ keadilan. Dan kasihan hanya dicurahkan kepada penjahat yang salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yang menyenangkan bebas dari cemburu, harta, dan penyiksaan jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cinta, hanya mereka yang mempunyai rahasia dalam hati mereka yang bisa menduga rahasia-rahasia dalam hati kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bercinta, ada rahasia-rahasia dalam jiwa yang tak dapat disingkap oleh dugaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pria mencintai 2 wanita; seorang wanita imajinasinya dan seorang lagi yang belum dilahirkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan mata wanita lebih jujur dibanding ucapannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita adalah sosok yang kuat dalam kelemahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan seorang wanita akan membuat pria merasa paling berbahagia di dunia. &lt;br /&gt;Dengarkan wanita jika ia melihatmu, jangan dengarkan dia jika bebicara padamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki yang menerima wanita sebagaimana Tuhan menciptakannya, berarti ia menghargainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki yang tidak memaafkan wanita untuk kesalahan kecilnya, tidak akan dapat menikmati kebaikan besarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpuasan membuat seorang lelaki jadi hampa, dan kehampaan membuatnya nelangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada pidana yang lebih berat bagi seorang wanita yang terperangkap di antara 2 lelaki yang dicintainya dan mencintainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan wanita terdapat pada cinta yang memadukan jiwanya dengan jiwa lelaki yang dicintainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta dan kerinduan adalah awal dan akhir karya. Juga akan menambah semangat dan memperdalam makna kata-kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup tanpa cinta, seperti pohon tanpa buah dan bunga. Juga ibarat bunga kehilangan aroma wanginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kerasnya kehidupan seseorang yang memohon cinta namun mendapatkan amarah. &lt;br /&gt;Seperti kematian, cinta akan mengubah segala-galanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta memang sukar untuk dimengerti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arahnya cinta tidak dapat kau tentukan, karena cinta yang akan menentukan perjalanan hidupmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan kau mengejar cinta dengan taruhan nyawa karena hal itu hanya seperti belukar yang tak ada buahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta adalah segala sesuatu yang dapat diperoleh namun tak dapat dilenyapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta gak akan disadari kedalamannya, hingga datang waktu perpisahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan anggap cinta seperti kue yang bisa kau potong-potong sesuka hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta datang melalui kehendak Tuhan, bukan melalui kemauan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yang gak trus tumbuh biasanya akan mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yang tidak diperbarui setiap hari hanya akan menjadi kebiasaan dan akhirnya hanya akan menjadi perbudakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun cinta akan tetap tinggal dan bekasnya gak akan terhapus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang meski telah tertipu cinta seseorang masih bisa tertawa untuk mengelabuhi mata orang-orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti hati penjahat cinta dapat membuat kehidupan terasa kejam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski cinta mempunyai jari sehalus sutra,namun kuku-kukunya yang runcing bisa membuat kita berduka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang lebih menyakitkan daripada malam-malam yang penuh ketakutan karena ditinggal cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan cinta dapat menahan pahitnya kesedihan dan duka karena perpisahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinggalkan kekasih dapat membuat hati patah seperti seonggok nisan dikelilingi pohon-pohon cemara &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak dapat lagi bersama, maka sebuah perpisahan hendaklah seagung dan seindah cinta kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga perpisahan kita seperti api yang melebur batangan emas dan membuatnya menjadi lebih berharga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan adalah pertanggungjawaban yang manis, bukan peluang! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski persahabatan telah terjalin akrab dan lama waktunya namun cinta tidak datang dari hal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercinta itu seperti memasak. Hanya mereka yang tahu menggunakan bumbu yang pas akan menghasilkan masakan yang enak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah cinta. Dan bersiaplah ketika ia datang menegurmu dengan segala kekuatannya. Dan semoga kau mampu bertahan untuk menikmatinya, meski hanya secuil saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta. 22 Juli 2007. Rumah gue Tercinta..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-3541659137295292869?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/3541659137295292869/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/cinta-oh-cinta.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/3541659137295292869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/3541659137295292869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/cinta-oh-cinta.html' title='Cinta Oh Cinta..!'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-5399038083693238258</id><published>2007-11-02T00:13:00.000-07:00</published><updated>2007-11-02T00:25:29.377-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Melancong'/><title type='text'>Siak. A Dreamland In The Jungle..</title><content type='html'>SIAK. A DREAM LAND IN THE JUNGLE..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pagi. 19 Agustus 2007. Sekitar jam setengah enam gue cabut dari basecamp gue di bilangan Timur Jakarta. Langsung ke Bandara Internasional Soekarno – Hatta. Berenam, bareng ke dua sobat gue dan ke tiga pengawal kita. Kaya Paspamres aja. Hehehe.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan gue dan temen-temen gue saat itu, Riau. Tepatnya di kabupaten Siak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Be honest, this was the second time gue melancong sambil mencari nafkah ke Propinsi Riau. Waktu itu gue ke sana sendiri dan hanya ditemenin temen gue, Sam. Beda dengan  perjalanan gue yang kedua ini. Ada sebuah perhelatan akbar di sana. Perayaan hari raya Kemerdekaan bangsa kita yang ke-62 dan peresmian jembatan baru yang menghubungkan dua daerah yang terpisah sungai Siak, seharga 300 Miliard. Pure uang, gak pake daun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan gue tempuh dengan menumpang pesawat Garuda yang memutuskan untuk mengepakkan sayapnya pukul tujuh in the morning. Meninggalkan Jakarta dengan segala kepenatan dan kepadatannya. Perjalanan cukup mulus, meski akhirnya gue sempet sedikit keringat dingin ketika pesawat harus sedikit goyang kaya penyanyi dangdut. Secara gue sendiri takut banget sama yang namanya terbang. Jangankan terbang, lewat jembatan penyebrangan aja kadang parno gue bisa bikin gue keringet dingin. Lemes di sekujur kaki dan paha. Intinya, gue itu emang menderita Phobia ketinggian. Takut sama yang tinggi-tinggi. Makanya gue gak mau cewe gue lebih tinggi dari gue. Hehehehe.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koq jadi malah ngebahas ketinggian yah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, selepas landing di Pekanbaru, gue dan yang lainnya harus rela kepanasan di bagian pantat, ketika kenyataannya kita harus menempuh dua jam perjalanan darat lagi untuk sampai ke Siak. Wuuuuhh.. Itu juga setelah kita sempat istirahat sebentar di Hotel Pangeran yang ada di Pekanbaru. Nice hotel, tapi pelayanannya kurang asyik banget. Malah gue punya story menyebalkan. Gue laper banget sepanjang flight ke Pekanbaru. Secara begitu berangkat dari Jakarta gue belum menjalankan ritual sarapan di pagi harinya. Jadilah gue memesan nasi goreng special. Yang agak bikin gue dongkol, udah nunggunya lama, sampe harus ditelepon segala untuk memastikan kalo mereka emang tau kalo kita sudah mesen makanan, begitu dateng tuh makanan, kembali gue harus menelan kepahitan. Gue dibikinin nasi goreng, tapi gue gak dikasih sendok sama garpu. Alhasil, gue akhirnya makan pake tangan aja deh. Untungnya lagi laper. Jadi meski agak bete, tuh nasi tetep habis. Hihihi..  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidur-bobo dikit. Gue bangun dan siap-siap buat perjalanan menuju ke Siak. Sepanjang perjalanan gue coba untuk istirahat. Ya apalagi kalo bukan ngorok. Tapi tidurnya kagetan. Sebentar merem, sebentar melek. Udah gitu ada kejadian lucu. Di tengah perjalanan, bis yang nganter kita berhenti di warung pinggir jalan. Biasaa.. Numpang ke toilet. Gue sih gak ikutan. Setelah hampir semua turun, baru deh temen gue si Denny turun. Latah ke toilet. Pas semuanya ngumpul dia belum balik juga. plus si Agus, temen gue juga. Feeling gak enak nih. Akhirnya disusulin juga tuh anak sama panitianya. Ternyata eh ternyata, dia malah asyik ngobrol sama si Agus di depan toiletnya. Anjriit.. Kurang ajar banget tuh anak. Gak sadar ditungguin, malah santai sendiri. Untungnya gue udah paham banget kebiasaan tuh anak. Isengnya emang nomor satu. Gak bikin kesel, malah bikin ketawa. Dia malah niat mau mesen kopi segala lagi. Dia Cuma bilang ke Agus pas minta ditemenin ngobrol, kapan lagi kita bisa ngobrol di Riau kaya gini. Belum tentu besok-besok kita ke sini lagi. Jadi puas-puasin deh ngobrol di sini. Di Jakarta sih udah biasa. Hehehehe.. Dasar gila!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hampir dua setengah jam pelajaran akhirnya sampe juga. Like a dream land. Gimana nggak coba. Sepanjang perjalanan, gue Cuma bisa mandangin hutan sawit dan hutan gak jelas. Sampe akhirnya masuk Siak. Terutama lewat jembatan Siaknya. Namanya Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah. Panjang dan keren banget yah namanya. Sepanjang dan sekeren bentuknya. Gimana gak keren, harga tuh jembatan 300 M, alias TIGARATUS MILIARD. Damn! Dan yang ngeresmiin jembatan baru itu, bukan RT atau Lurah setempat. Tapi Presiden. Presiden Negara kita tercinta. Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Edan dong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup! Siak. Kabupaten yang punya nama lengkap Siak Sri Indrapura ini seperti sebuah negeri indah di tengah hutan belantara. Di bawah kepemimpinan Bapak Arwin AS sebagai Bupati dan Bapak OK Fauzi Jamil sebagai wakilnya, Siak mencoba berbenah dari sebuah daerah yang nothing menjadi sebuah daerah yang something. Bener-bener kontras sama daerah sebelahnya yang dibatasi oleh sungai Siak dan dihubungkan oleh jembatan 300 M itu. Banyak bangunan baru dengan bentuk indah dengan tetep mempertahankan ciri kedaerahannya. Jalanannya juga masih baru banget. Cat yang menghias aspal masih kelihatan putih. Gak butek kaya di Jakarta. Sayangnya waktu gue di situ bener-bener cuma sebentar. Cuma buat kerja bukan liburan. Jadi gue dan yang lain gak sempet berkeliling menyaksikan keindahan daerah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di Siak kita mampir dulu ke lokasi acara. Sekedar melihat suasana. Acara malam itu digelar di sebelah aliran sungai Siak. Istirahat sebentar di sebuah hotel kecil tapi baru di deket situ. Bersih-mandi dulu dan mempersiapkan semuanya. Briefing dan segala macemnya. Yang pasti penduduk Siak memang ramah-ramah. Daerah yang penduduknya Heterogen itu, terdiri dari berbagai macam suku, antara lain Melayu, Jawa, Sunda, Minang, Batak dan lainnya itu menyambut dengan sukacita acara yang akan digelar pada tanggal 19 Agustus 2007 malam. Kebukti begitu malamnya kita tiba di lokasi, gue pribadi melihat bagaimana penduduk sekitar situ berbondong-bondong mendatangi lokasi kejadian Pesta Rakyat itu. Dari yang naik kendaraan bermotor sampe kendaraan berurat, alias jalan kaki. Hehehe.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara pun dimulai. Gue membukanya dengan budaya melayu yang mereka punya. Apalagi kalo bukan Pantun. Sempet khawatir gak bisa meramaikan suasana. Tapi akhirnya gak jadi kenyataan. Karena dari awal sampe akhir acara, kita bisa menghibur mereka. Seneng banget ngedenger tawa mereka yang keluar dengan lancarnya. Tertib banget yang pasti penontonnya. Gimana gak tertib, karena gue menyaksikan sendiri pemandangan yang tak biasa. Penonton begitu teratur. Di tengah hanya di isi oleh kaum Hawa dan anak-anak. Duduk pula. Sementara samping kanan dan kiri dibatasi pagar besi, diisi oleh kaum Adam yang harus rela tapi enjoy untuk menikmati acara sambil berdiri. Pokoknya beda banget sama acara-acara yang pernah gue lihat selama ini. Meski sempet ada insiden kecil, insiden wajar aja dalam sebuah acara seperti itu, malam itu semuanya berjalan lancar. Gue sendiri gak tau persis apa masalahnya. Tapi gak masalah. Yang penting gak berlanjut dan merusak acara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata banyak manusia unik yang gue temui di acara itu. Ada seorang bapak yang udah punya dua istri tapi masih memimpikan untuk punya lima orang lagi sebagai pendamping hidupnya. Ada bapak-bapak yang seneng banget memamerkan perutnya yang gendut ke depan penonton dengan cueknya. Yang penting eksis, yang penting tampil di depan umum. Mereka bener-bener pure abis. Seneng banget ngeliat hal kaya gitu. Dan banyak lagi deh manusia-manusia lucu dan lugu yang niatnya gue mau hibur malah menghibur gue. Hehehe.. Pokoknya malam itu komplit banget. Gue menghibur sekaligur terhibur. Niatnya nyari duit buat bikin bubur, eh malah jadi berlibur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks to Allah SWT. Akhirnya acara malam itu selesai juga. Puas banget gue karena melihat orang lain juga puas. Sebuah nilai kepuasan sejati. Gue bersyukur banget udah diberi gift yang maha dahsyat ini. Membuat orang tersenyum dan tertawa. Membuat orang lain bahagia dan sedikit melupakan masalah yang mereka sedang hadapi. Wuiih.. yang pasti gue gak mau menukar itu dengan apapun. It’s me. Ordinary man with Ordinary life. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita langsung balik ke hotel bentar. Pamitan dengan sebagian warga sekitar dan terutama dengan panitia yang mengundang kita ke situ. Gak lama, karena kita harus langsung bertolak ke Pekanbaru saat itu juga. That’s right, kita lagsung jalan ke Pekanbaru. Menempuh jalan yang sama dengan ketika kita ke Siak. Hanya waktu saja. Dari jam duabelas malam, kita akhirnya tiba jam dua pagi di Hotel Pangeran, Pekanbaru. Langsung masuk kamar and try to sleep. Meski akhirnya gue juga gak bisa langsung bercengkrama dengan dunia secepat yang gue mau. Sempet pesen makan juga pagi itu. Abis udah laper lagi aja sih. Hehehe.. abis melahap semua makanan yang kita pesan, akhirnya gue dan temen-temen gue tertidur pulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya bangun dan siap-siap dan beres-beres. Selesai itu gue dan yang lainnya langsung cabut ke bandara. Secara pesawat take off jam tujuh pagi. Jadinya gue juga harus rela bangun jam setengah enam pagi. Meski gue Cuma baru bisa tidur jam setengah empat pagi. Konsekwensi pekerjaan yang gue nikmatin banget sebagai bagian dari proses gue manjalani hidup sesungguhnya. Cieee.. Sok wise gitu. But it’s oke. Gue enjoy dengan semua itu yang pasti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya Take Off. Saatnya gue bermain dengan sugest Phobia ketinggian gue. Dan yang gue seselin ternyata perjalanan pulang gue gak semulus perjalanan pergi gue. Gue harus terima ketika gue harus keringet dingin karena saking takutnya. Abis, sepanjang perjalanan, mulai dari take off sampe landing, pesawatnya goyang terus. Gilaaaaa..!! Bersyukurnya akhirnya pesawat landing juga. Dengan selamat. Dan gue bisa kembali bergulat dengan kerasnya Jakarta hingga hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perjalanan yang sesaat tapi penuh makna. Kegembiraan yang hadir gak cuma semu belaka. Gue berterimakasih untuk jadi bagian dari semua itu. Semoga berlanjut di perjalanan-perjalanan gue selanjutnya. Di langkah-langkah kehidupan gue selanjutnya. Satu hal yang pasti, semua yang gue jalani memang jadi cerita mati dalam scenario hidup gue yang indah ini. Just jalani aja dengan apa adanya. Pasti semua kan mengikuti kita. Tak hanya duka tapi juga suka. Tak hanya derita tapi juga bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbahagialah kalian semua yang menghargai hidup yang ada di depan mata menjalaninya dengan penuh suka cita. Karena nantinya hidup kalian yang akan membuat kalian jadi sesuatu yang membanggakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kamu tanam, itulah yang akan kau tuai.. ( Gak nyambung! )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta. 23 Agustus 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-5399038083693238258?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/5399038083693238258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/siak-dreamland-in-jungle.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/5399038083693238258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/5399038083693238258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/siak-dreamland-in-jungle.html' title='Siak. A Dreamland In The Jungle..'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-8060674008817290990</id><published>2007-11-01T23:53:00.000-07:00</published><updated>2007-11-02T00:00:40.479-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iseng'/><title type='text'>Pantun Buat Majikannya Mba Atun..!</title><content type='html'>Banyak jalan menuju Roma.. Irama..&lt;br /&gt;Banyak jalan menunjukkan rasa cinta.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yoi.. doi.. toi.. Emang bener tuh. Emang banyak banget cara menunjukkan perasaan kita kepada orang yang kita sayang. Bisa lewat apa aja. Surat, Email, Lagu, Puisi, Lukisan, Santet, Pelet dan berbagai macam cara lainnya. Atau nggak, mau coba juga yang sering gue lakuin. Ngasih pantun. Isinya mungkin terkesan gombal dan nggak banget. But, get real aja. Bukannya semua pria memang dilahirkan dengan bakat seperti itu. Mungkin kadarnya aja yang berbeda-beda. Begitu juga wanita, terlahir untuk senang dipuji dan menerima cinta.. Dan tentunya mau aja kalo di gombalin sang pria. Hehehe.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorry. Sorry. I'm just killing.. Gue cuma membunuh. Cuma bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak semuanya begitu koq. Mungkin hanya sebagian kecil banget banget aja yang masih kaya gitu. Apalagi sekarang cewe jauh lebih pinter. Jadi sekarang, gak gampang buat kaum Adam ( gak pake Air_red ) mengelabuhi dan mempecundangi kaum Hawa. Bisa-bisa malah kaum pria yang harus rela dikerjain hatinya habis-habisan sama kaum wanita. Hati-hati.. Jaman udah berubah. Udah gak seperti dulu lagi. Wapadalah.. Waspadalah..!&lt;br /&gt;Kembali ke Pantun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat gue, pantun bisa jadi salah satu alat buat nyatain apa yang gue rasa. Norak mungkin. Tapi biar norak yang penting gaya. Karena menurut gue ketika lo berpantun dalam bercinta, lo udah punya gaya! Beneran! Kalo lo berani berpantun cinta di depan semua orang, pasti mereka akan langsung komentar, "Gaya lo, Tong.. Tong!". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pantun, masalah jadi bahagia. Sedih jadi sukacita. Dan Amarah hanya tinggal sejarah belaka.. Itu menurut gue. Yang memang mentoknya cuma di pantun. Abis gampang banget. Dan murah meriah. Gak perlu biaya mahal. Cuma mungkin masalahnya, gak semua wanita mau dikirimin pantun. Gak bernilai kali yah. Mungkin ada yang gak begitu bahagia dikirimin pantun. Pastinya gak sebahagia dikirimin karangan bunga, TV Flat 30 inch, atau uang 50 juta via rekening banknya. Tapi yah sudahlah. Tiap orang kan emang beda. Jangankan sifat, sidik jari aja gak ada yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, dengan sangat memaksa, gue pengen sedikit berbagi pantun-pantun yang pernah gue buat dan gue kirim ke orang yang gue sayang saat ini. Siapa tau berguna buat siapapun yang membacanya. Kalo emang kepepet, gue sama sekali gak keberatan kalo lo kutip pantun gue (Ge'eR banget gue yah! Hehehehe..). Tinggal rubah dikit akhir kalimatnya. Langsung send ke orang terspesial dalam hidup kamu. Gue jamin setelah pasangan lo menerima dan membaca pantun itu, dalam hitungan detik.. dia pasti bakal langsung muntah!!&lt;br /&gt;Hihihihi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat gue pribadi, ada rasa bangga ketika bisa menghasilkan pantun yang superdupernorax.. Makin norax, makin bangga gue.. gak peduli cewe gue bilang itu gombal atau nggak. Just let it be..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So.. &lt;br /&gt;Here we come.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ladies and Gentleman..! &lt;br /&gt;Please welcome..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pantun buat Majikannya mba Atun"&lt;br /&gt;• Si Slamet jago taibo.. Met bobo&lt;br /&gt;• Siang-siang ada tamu.. Aku sayang kamu&lt;br /&gt;• Ke posyandu nyari palu.. Salam rindu untukmu selalu&lt;br /&gt;• Ketemu Ali kepala ditoyor batu.. I'm totally yours too&lt;br /&gt;• Ada tamu gak punya kuku.. Cuma kamu duniaku&lt;br /&gt;• Dj. Mumu beli limau.. Cuma kamu yang aku mau&lt;br /&gt;• Jual jamu beli paku.. Senyum kamu bahagiaku&lt;br /&gt;• Santa Fe tempat jual sajadah.. Sumpah Fe! Kamu yang terindah&lt;br /&gt;• Kopi Ayu masih anget.. I miss u banget&lt;br /&gt;• Band Naff albumnya baru.. Mohon maaf kalo aku cemburu&lt;br /&gt;• Ke pulau buru naik perahu.. Aku cemburu karena I love you&lt;br /&gt;• Beli panci di buah batu.. Jangan benci aku karena itu&lt;br /&gt;• Mau beli sepatu tapi gak ketemu.. Aku begitu karena aku gak mau kehilangan kamu&lt;br /&gt;• Lari pagi nemu palu.. Kemana kau pergi, ingat aku selalu&lt;br /&gt;• Lama gak ketemu jadi kaku.. Jaga hatimu untuk diriku&lt;br /&gt;• Ke Kenya beli jamu.. Kangennya aku sama kamu&lt;br /&gt;• Ke Cikupa beli layang-layang.. Jangan lupa maem yah, yank&lt;br /&gt;• Aku terpaku menatapmu.. Cintaku hanya untukmu&lt;br /&gt;• Cewenya kemayu cowonya kuli.. I miss u badly&lt;br /&gt;• Ada lutung ketemu belatung.. Kamu beruntung, aku jauh lebih beruntung&lt;br /&gt;• Si Atun naik helikopter.. Soal pantun, kamu makin pinter&lt;br /&gt;• Naik helikopter isinya kayu.. Kamu emang pinter, that's why i love you&lt;br /&gt;• Ke Jelambar nyari bangku.. Udah gak sabar untuk ketemu ayangku&lt;br /&gt;• Jual jamu di atas batu.. Begitu ketemu SDWK wajiblah itu&lt;br /&gt;• Sapu lidih taruh di kursi.. Pacarnya wendi emang seksi&lt;br /&gt;• Makan serabi di pinggir kali.. Duhai si Febby cantik sekali&lt;br /&gt;• Kursi listrik taruh di depan.. Kamu si nyentrik dan aku si tampan&lt;br /&gt;• Beli nampan di toko si Wawan.. Aku memang tampan, tapi kamu jauh lebih menawan&lt;br /&gt;• Cuplis lagi main kena liver.. please be mine forever&lt;br /&gt;• Ke Cikup bareng ayah.. Jangan lupa maem yah&lt;br /&gt;• Si Ipin makan kedondong.. Mimpiin aku dong&lt;br /&gt;• Bunga Melati di kebun si Imu.. Sumpah mati aku kangen kamu&lt;br /&gt;• Makan duku sampai jemu.. Di dadaku ada kamu&lt;br /&gt;• Beli pepaya di Pasar Minggu.. Kuingin kau percaya jangan pernah ragu&lt;br /&gt;• Di pasar Minngu jalannya berliku.. Jangan pernah ragu akan cintaku&lt;br /&gt;• Jalan berliku bikin jemu..Karena cintaku hanya untukmu&lt;br /&gt;• Bikin jemu kalo baca buku.. Hanya untukmu duhai kekasihku&lt;br /&gt;• Baca buku sambil megang siku.. Duhai kekasihku, pujaan hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahsyaaaat gak tuh? &lt;br /&gt;Nggak yah? Berarti dugaan gue bener.. &lt;br /&gt;No Problemo..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe.. Yang gak bilang norak dan gak langsung muntah baca pantun gue, sebaiknya segera periksakan diri anda ke dokter termurah. Karena gue yakin peredaran darahnya udah gak bener. Jadi otaknya gak bisa mencerna dengan baik apa yang gue tulis. &lt;br /&gt;Tapi gue berterimakasih banget buat siapapun yang udah mau ngebaca. Suka atau tidak suka itu hak anda semua. Kopi atau tidak kopi, tergantung anda pengen ngopi apa nggak. Siapa tau maunya teh gak pake susu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat pacarku tersayang. Pantun itu semuanya original. Jadi kalo ada cowo lain yang ngirim pantun ke kamu dengan tingkat kemiripan lebih dari 8 bar. maka bisa dipastikan dia sudah menjiplak pantunku untuk dikirimkan kepadamu. Jangan mau. Kembaliin aja. terserah kamu mau lewat pos atau lewat gardu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirup murni pesan di cikini.. Cukup di sini tulisan ini&lt;br /&gt;Pohon lalap tidak berbatu.. Mohon maap kalo gak mutu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke Ancol langsung ke dufan.. abis itu naik jet coaster deh.. ajak temen-temen biar rame.. Makanan jangan sampe lupa.. Bair gak pada kelaperan.. Bawa duit juga jangan lupa biar bisa jajan.. Dan jangan lupa bawa baju ganti biar gak masuk angin.. Sun blocknya juga, buat yang takut kulitnya jadi item.. ( yang ini bukan pantun! Ini tips asal berlibur ke Dufan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bye.. Bye..&lt;br /&gt;Gambathe..!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;East Jakarta. 09.04.07. 23:40 wlg.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-8060674008817290990?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/8060674008817290990/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/pantun-buat-majikannya-mba-atun.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/8060674008817290990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/8060674008817290990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/pantun-buat-majikannya-mba-atun.html' title='Pantun Buat Majikannya Mba Atun..!'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-1425272766449560559</id><published>2007-11-01T23:31:00.001-07:00</published><updated>2007-11-01T23:41:07.680-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Good Story'/><title type='text'>Nuansa Xpressivo.. What A Story..!!</title><content type='html'>from Minggu. 22 April 2007 until 6 Mei 2007 juga.. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita akhirnya baru bisa matengin sekitar 4 lagu. Belum mateng banget sih lagunya. Tapi lumayanlah. Gak sia-sia juga perjuangan kita bertujuh buat tampil maksimal nantinya di acara ulang tahun ke 25 Unit Kesenian Mahasiswa kampus gue dahulu. IKIP Jakarta, kalo sekarang orang mungkin lebih mengenal dengan nama UNJ, Universitas Negeri Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'm talking about my band. Band yang akhirnya bisa ngumpul bareng lagi untuk sekedar mengobati kekangenan kita dengan dunia musik. Ada gue yang nekat jadi drummernya meski gak bisa mukul drum dengan bener dan sering banget nyepetin tempo permainan dan bikin kesel pemain lainnya. Gak ketinggalan ada Widie juga, Vokalis cewe gue yang masih latah sampe sekarang dan doyan banget ngisi perutnya dengan berbagai jenis makanan. Terbukti sekarang perutnya jauh lebih buncit, ngalahin para Teletaubies. Gak cuma Widie yang endut sendiri. Ada juga Fauzi, vokalis cowo gue yang suaranya jauh lebih ringan daripada berat tubuhnya. Gak beda jauh dengan Widie, mereka memang pemakan segala. Sejenis Carnivora buas deh kalo bisa dibilang. Hehehe.. &lt;br /&gt;Tapi kalo soal suara? Jangan ditanya. Mereka pasti gak mau ngejawab, apalagi kalo mereka lagi mendendangkan sebuah lagu. Gimana juga bisa jawab pertanyaan kalo lagi nyanyi. Hihihi.. Trus Anto, Bassis kita yang sama sekali bukan petugas Bazis, Badan Amil, Zakat, Infak dan Sodaqoh yang sering kali kedengaran namanya. &lt;br /&gt;Kita semua emang kangen banget buat ngeband dan megang alat musik lagi. Mmm.. Oke, oke. Kecuali Shinta dan Fery kali yah, Keayboardist dan Guitariss band kita yang notabene memang menggeluti dunia musik sampe detik ini. As a teacher and a player. Shinta itu cewe cantik dan gape banget main alat musik apapun yang ia memang bisa. Sedangkan Fery pemain gitar yang seneng banget sama Beatles dan punya band sendiri yang khusus membawakan lagu-lagu band Legendaris yang berasal dari Inggris itu. Bawaannya selon aja. Santai dengan penampilan dan tingkah lakunya. paling nggak itu akhirnya menjadikan doi sebagai sebuah pribadi yang unik. &lt;br /&gt;Sebenernya ada satu orang lagi yang patut di sebut sebagai anggota keluarga band kita. Gak terlalu bermanfaat banget sih kehadiran dia di tengah-tengah kita. Tapi jujur gue akui, doi salah satu komponen penting bagi kelangsungan band kita. Aduh, maaf yah kalo gue gak konsisten kaya gini. Jujur gue terpaksa banget buat memuji dia. Tapi mau gimana lagi. Nasi sudah jadi bubur, dan gue gak mungkin menarik pujian gue, meski gue akhirnya harus berbohong kepada khalayak ramai. Huahahaha.. Namanya Budi. Yang artinya Buanci Dikit. Hehehe.. Sesuai namanya, Doi kadang bisa sangat jantan, tapi suatu kala bisa sangat menjadi pribadi lembut. Apalagi di dunianya, dunia para Lelembut. Kita mempercayakan dia sebagai manajer kita. Mungkin dia sendiri sebenernya bingung, dia itu manajer apa O.B. Tugasnya emang ngerangkap aja. Dari ngebooking tempat buat latihan, ngehubungin semua personil band buat ngingetin waktu latihan, sampe beliin gorengan buat sekedar ngisi kekosongan perut kita semua. Hehehe.. Gue sendiri masih bingung. Doi emang harus gue kasihanin atau gue maki-maki. Abisnya maruk banget sama kerjaan. Semua diambil sama dia. Andai dia bisa semua alat musik, pasti dia ngeband sendiri. Tangan kanan metik gitar, tangan kiri ngebetot bass, kaki kanan dan kiri mainin drum, trus bibirnya dipake nyanyi deh buat menghibur teman-teman sejawatnya di Lawang's Garden. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, agak sedikit flashback ke belakang. Gue inget banget gimana dulu band ini berusaha di bentuk buat ngikutin audisi salah satu cafe yang baru aja pengen open, di daerah Jakarta Selatan. Gue lupa nama cafenya. Tapi yang pasti waktu itu vokalis band gue ini ada tiga. Plus Lia, cewe batak yang punya suara super seksi, ngalahin seksi keamanan panitia ospek kampus gue. Hehehe.. Tapi sayang, doi perlahan mundur dari band. mungkin mau konsentrasi kuliah dan berkeluarga. Begitu juga dengan Bassis gue sebelum Anto. Namanya Syafril. Cowo unik. Macho, tapi kalo malam seneng banget bersihin muka pake pake lotion, nutupin mukanya pake masker timun or whateverlah. Jago masak dan bikin orang ketawa. Tapi sayang, doi akhirnya juga menghilang begitu saja setelah dia memutuskan untuk berkeluarga dengan wanita idaman sekampungnya di Bogor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hihihihi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus..&lt;br /&gt;Setelah akhirnya.. Alhamdulillah gak lolos, meski udah dilatih sama guru yang gape banget sama semua alat musik, Maliki, kita akhirnya memutuskan banting setir buat beralih ke jalur Festival. gak di sangka gak dinyana, band kita malah berhasil menyabet juara kedua. padahal waktu itu lawan kita superduper jago semua. Bahkan gue inget banget, kalo lawan kita ada temen2 satu kampus juga. Anak2 musik. Mainnya? Udah pasti banget jauh lebih jago dari band kita. Gue sempet lemes, tapi untungnya gak sampe lemah syahwat sih, ketika juri mengumumkan kalo band mereka juara 3. Damn.. Band mereka aja yang mainnya udah kaya band ternama juara 3, gimana band gue. Gue langsung ngajak temen2 gue cabut dari Aulanya STIE Rawamangun, tempat diadakan Festival itu. Gue udah mau ngangkat keyboard dengan jemari gue, ketika tiba-tiba juri berteriak dengan lantangnya memberitahukan bahwa band gue, Nuansa.. Jadi juara ke 2.. Dua.. Two.. Loro.. Jonggrang.. langsung gue lompat setinggi2nya. Untungnya gak tinggi banget, jadi kepala gue gak ngebentur atap Aula kampus itu. Senengnya gak ketulungan, tapi ketolongan. Gue sampe diangkat sama Aldo, temen gue yang lebih mirip Rubben American Idol, ketimbang Rubben Onsu, lumayan lama. Sumpah.. That's the best moment i ever had with my Band. Nuansa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, ada juga sad storynya. Dan gue dan yang lainnya gak akan bisa ngelupain cerita itu. Super duper Ngeselin.. Gimana gak ngeselin, kalo kita ditipu mentah2 sama panitia pelaksananya. Band gue yang akhirnya memutuskan berganti nama dengan Xpressivo ini (Nuansa udah ada yang make ternyata_red), harus menerima kenyataan pahit ketika panitia memutuskan untuk menjadikan kita juara favorit, dengan hadiah voucher makan di Papa Rons Pizza dan main golf bohongan di Putt Putt Golf, meski sebenernya kita di atas kertas penilaian dewan juri seharusnya menjadi juara PERTAMA bahkan juara UMUM pada Festival kali itu. Anjriiiit.. Keputusan itu dibuat berdasarkan desakan dari birokrat kampus untuk meloloskan peserta dari band sekolah yang ikut saat itu, secara acara itu bertujuan sebagai promosi kampus itu. Sialan gak tuh.. Akhirnya udah jadi ritual buat semua personil band kita, ketika kita ngelewatin kampus itu baik sendiri atau rame2, kita pasti memaki-maki kampus itu sekuat tenaga dengan kata-kata yang kita punya. Biar tau rasa..!! Semoga kampus itu dapet balesan dari Yang Maha Kuasa. Amiiiin.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally, pas main tanggal 28 April kemarin, kita lumayan menghibur. Dengan atasan putih dan bawahan Jeans biru, kita coba mainin 5 lagu dengan sebaik mungkin. Meski gue akuin, gue banyak salahnya. Grogi juga. Udah hampir lima tahun gue gak ngeband serius kaya gini lagi. Semuanya juga main gak begitu maksimal, secara alat bandnya juga seadanya. Beda banget sama pas latihan. But.. it,s oke lah. setidaknya kekangenan gue dan temen2 yang lain bisa sedikit terobati. Paling nggak kita bisa temu kangen lagi. Bisa ketawa-ketiwi ngebahas masa lalu yang penuh warna pelangi. Ngebahas indahnya bermain musik bersama, meski masih jauh dari Sonor. Ngumpul sambil makan dan ngetawain temen2 kita yang masih latah, ngetawain kebodohan Budi yang cuma bisa teriak KUNTILANAK BABI.. berulang-ulang ketika kopinya Anto tumpah secara tak sengaja ketika kita lagi nongkrong 4 the first time setelah sekian lama, di Cafe Pisa Chitos, dan bikin kita malu punya manajer kaya dia dan pada akhirnya menyadarkan diri kita semua kenapa band kita gak pernah maju sampe detik ini. &lt;br /&gt;Hehehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From Nuansa to became Xpressivo.. From nothing to be something.. From alone to be a family.. &lt;br /&gt;That's us..&lt;br /&gt;Sekumpulan manusia biasa yang punya kisah luar biasa. Paling tidak buat kita. Dan akan terkenang sepanjang masa. Hingga Budi dari manajer menjadi pembantu rumah tangga.. Amin lagi..&lt;br /&gt;Keep the memory inside our heart, guys.. &lt;br /&gt;I love u all.. &lt;br /&gt;Because i know, we all love music..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB : &lt;br /&gt;Buat lo semua.. &lt;br /&gt;Maaf kalo gue akhirnya tersesat jadi pria penghibur..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintaro. 06.05.07. 04:06 wkg.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-1425272766449560559?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/1425272766449560559/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/nuansa-xpressivo-what-story.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/1425272766449560559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/1425272766449560559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/nuansa-xpressivo-what-story.html' title='Nuansa Xpressivo.. What A Story..!!'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-9132243888670433667</id><published>2007-11-01T23:20:00.000-07:00</published><updated>2007-11-01T23:25:22.792-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Past is Fucking Past..!</title><content type='html'>PaSt.. &lt;br /&gt;Masa lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udah jauh tertinggal di belakang mestinya. Gak perlu diingat dan diusik lagi. Bagian sejarah hidup memang. Tapi gak akan maju hidup kita kalo hanya cuma melihat ke belakang dan ke belakang. Gak akan merubah apapun. Tetap akan jadi cerita lalu yang cuma bisa dipetik sebagai pelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue lagi males banget sama masa lalu. Kadang gue gak berharap ada yang namanya masa lalu. Kadang gue lebih seneng apa yang gue pernah jalanin dulu bisa langsung hilang dari ingatan gue. Amnesia. Apalagi pengalaman yang bisa bikin mood gue langsung ngedrop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak mungkin juga sih..  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi.. Saat ini gue bener-bener fucked up sama semua yang berbau history. Meski sebenernya gue gak tau knapa gue bisa begitu sebelnya. Ada sesuatu yang sering bikin gue tergoda untuk membenci masa lalu. Apalagi ketika gue berhadapan dengan masa lalu orang terdekat gue. Dari dulu sampe sekarang. Buat beberapaa orang biasa aja. tapi buat gue, kadang cerita lalu itu bisa bikin gue muak! Gak penting buat diungkap dan dibahas lagi. Karena gue lebih seneng berpikir, apa yang gue jalanin sekarang beda dengan apa yang pernah gue jalanin. Meski kisahnya juga gak beda jauh amat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue males banget denger story orang terdekat gue dengan orang terdekatnya dulu. Gue yah gue. Dia yah dia. Gak sama! Sidik jarinya aja beda. Jadi buat apa dibahas lagi. Mau sengaja atau gak sengaja. gak ada korelasinya. Gak ada manfaatnya buat gue. Ketika gue harus berpijak pada masa lalu, gue gak akan bisa berjalan dengan lebih baik. Gue gak akan bisa jadi pribadi gue yang sebenernya. Apapun kisah yang pernah terjadi dulu, biar aja hilang terbawa hembusan sang waktu.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mmm.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan terdalam mungkin akan dirasakan berbeda bagi tiap individu yang berbeda pula. Kenangan manis dan pahit akan jadi bagian penting dalam rangkaian proses hidup kita. Tapi pada akhirnya itu sudah jadi debu. Sudah jadi asap yang hilang tertiup angin. Buat apa dikumpulkan lagi, kalo pada akhirnya akan merusak pandangan kita. Yang lalu biarlah berlalu. Jangan malu buat melangkah. Jangan ragu untuk kembali mencoba. Berhasil atau tidak bukan sebuah masalah. Akan jadi masalah ketika kita justru takut untuk merubah hidup kita, dan hanya bisa berdiam diri menatap ke belakang dan berharap semuanya terulang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue cuma bisa bilang! Kelapa beda dengan kepala.. Botak gak sama dengan batok.. Soda pun beda jauh dengan Sado.. jadi buat apa menyamakan sesuatu yang sama sekali berbeda. Buat apa mengingat masa lalu yang gak pernah akan serupa dengan masa kini dan selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Past is always be a Past..!Masalalu, yah masalalu.. bukan masalague. Meski akhirnya sering jadi masalah buat gue! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjriit..!! Bener-bener gak jelas gue!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorry..!!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak usah komentar kalo gak ngerti dengan apa yang gue katakan. karena gue sendiri gak ngerti..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The end..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;East Jakarta. 18.04.07. 01:12 wlg.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-9132243888670433667?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/9132243888670433667/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/past-is-fucking-past.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/9132243888670433667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/9132243888670433667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/past-is-fucking-past.html' title='Past is Fucking Past..!'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-3205495157294687740</id><published>2007-11-01T23:12:00.000-07:00</published><updated>2007-11-01T23:19:06.357-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bad Story'/><title type='text'>Once Upon Time In BackStage!</title><content type='html'>BACKSTAGE..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo kita lihat kamus bahasa Inggris, artinya belakang panggung. Tapi buat gue artinya bisa jadi panggung atau tempat yang terbelakang. Tempat yang gak semestinya masuk hitungan. Tempat yang cuma bikin kesel ketimbang bikin kenyang. Tempat yang bisanya bikin senewen ketimbang bikin seneng. Tempat yang lebih cocok buat marah-marah ketimbang buat makan-makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu malam. Malam minggu. 26 Mei dua ribu tujuh.&lt;br /&gt;Ancol. Jakarta BayCity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue dengan kesel mempersembahkan :&lt;br /&gt;"ONCE UPON A TIME IN BACKSTAGE"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini ceritanya..Gue bareng cewe gue dan ketiga temennya memutuskan untuk coba makan di sebuah tempat yang bentuk dan tampilannya asik tapi pelayanannya asli ngeselin. Gimana gak ngeselin coba. Begitu dateng aja, kita dibikin nyasar dan malu. Kita coba cari tempat yang enak view dan suasananya. Kita di suruh ke lantai duanya. Tapi begitu kita sampe atas, ternyata kita malah diliatin aneh sama orang-orang yang ada di situ. Pantes aja lah. Soalnya tuh tempat ternyata udah direserve sama mereka. Satu perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita turun lagi. Cari tempat yang lebih enak dan gak bikin malu. setelah mondar-mandir tempat yang menurut kita enak buat berlima, akhirnya dapet juga. Saatnya pesen makan. Saatnya kesel dimulai. Gimana gak kesel. kita harus terpaksa nunggu sekitar satu jam lebih. dan semua makanan yang kita pesen hampir semuanya salah. Gila..!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak cuma itu. Gue pikir cuma manusia yang nongkrong dan coba nikmatin tempat itu. Ternyata musuhnya kucing yang berbadan gede dan berwarna hitam berjudul TIKUS juga ikutan ada di situ. Hehehe.. Kenapa tuh tempat malah jadi kaya kandang tikus. Jangan kan gue, semua yang ada di situ hampir komplain. Gue sampe naik ke atas bangku segala. Gak asyik kan, lagi asyik nungguin makanan yang gak kunjung datang, eh kaki gue malah di lahap tikus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opie, temen gue yang batak tapi norak itu, mesen minuman yang gak jelas juntrungannya. Nama minumannya sih keren. Virgin Marry. Yuk Mariii.. Udah nunggunya lama banget, tuh minuman malah gak bisa dinikmatin sama sekali. Gak jelas dibikinnya pake apa. Secara waktu pas mesennya, pelayannya gak bisa ngejelasin gitu. Dibuku menunya juga gak ada keterangan sama sekali from what tuh drink di buat. Pokoknya di situ cuma ditulis, selebrity recipe.. ( Bener gak yah nulisnya? Bodoh amat ah, namanya juga lagi kesel ). Rasanya anjriit gilaq. kaya Strawberry basi. Jangan salah, pas kita komplain pun, salah satu pelayan yang agak tinggi tingkatannya di situ malah mengiyakan, tapi tanpa rasa penyesalan. Atau paling nggak sedikitnya malu. Selidik punya selidik, ternyata gue akhirnya tahu juga dari pelayan yang ngelayanin kita dengan tidak benar itu, kalo tuh minuman ternyata dibuat dari campuran dari Black Paper, salt, tomatto, sama tobasco saos. Wuiiih, kebayangkan tuh rasanya. Untungnya si Opie perutnya dari alumunium, kalo nggak, bisa langsung jebol tanpa perlawanan deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan cewe gue. Doi pesen Caesar salad. Sayuran. Eh, yang datang malah salad buah. Minta ganti. Tetep aja salah lagi aja, karena ternyata saladnya dipakein bawang bombay. Padahal udah dari awal ditekenin kalo dia gak mau pake itu.&lt;br /&gt;Si Xse, pesen Banana Backstage. Sempet bingung juga ngejelasinnya tuh pelayan. Tapi akhirnya kita tahu kalo bedanya sama Banana Split, cuma kalo yang backstage ini pisangnya pisang goreng, yang diatasnya dikasihin es krim. Tapi sekali lagi, ternyata, begitu yang ada malah pisang goreng di olesi wip cream. Jadi kaya pisang mau cukur kumis. Icut jadi ikutan kesel juga. Untungnya doi orangnya gak meledak-meledak kaya bom molotov. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, gue sendiri. Keburu jadi ikut kesel. Untungnya makanan gue gak ada salah. Secara gue cuma pesen nasi goreng. Jadi mungkin ahlinya memang menyajikan itu aja kali. Meski lamanya tetep jawara juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai makan, kita langsung cabut. Pas gue bayar bill nya bareng cewe gue ke kasir, setelah nunggu lama again karena gak ada juga yang nyamperin kita buat bawain bill yang kita minta, kita baru bisa menumpahkan semua kekesalan kita. Apalagi pelayan yang ngelayanin kita dengan santainya bilang kalo keterlambatan di sebabkan banyaknya tamu yang datang malam itu. Gak ngaruh banget. Gue cuma gak suka dengan pelayanan yang gak profesional sama sekali itu. Padahal alat udah canggih, pake HT segalag lagi. Gue cuma bilang, kalo emang ngelayanin orang yang konsen. Gak usah banyak alasan. Fokus sama pelanggan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak cuma gue, cewe dan temen-temen gue yang komplain. ternyata banyak juga yang mengeluhkan hal yang sama dengan apa yang kita alami. Selamet deh! Bahkan ada salah satu pelanggan 'orang luar' beserta istrinya yang marah-marah juga atas keterlambatan dan pola kerja yang gak bener di tempat itu. &lt;br /&gt;Mmm.. Maaf banget. Bukan maksud menghakimi. tapi jujur, gue baru kali ini mengalami hal kaya gini. Gak enak banget. Ternyata tampilan gak selalu menjamin isi. Bener kata orang, jangan cuma liat luarnya aja. Coba rasakan apa yang ada di dalamnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks for the moment, Backstage. &lt;br /&gt;Thanks alot. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling nggak, gue makin bisa belajar tentang hidup dari peristiwa ini. Satu hal pasti, kalo mau dihargai cobalah untuk selalu menghargai terlebih dahulu...&lt;br /&gt;Just remember that..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai juga akhirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21 Juli 2007. My Room. Pisangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-3205495157294687740?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/3205495157294687740/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/once-upon-time-in-backstage.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/3205495157294687740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/3205495157294687740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/once-upon-time-in-backstage.html' title='Once Upon Time In BackStage!'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-5968313749212771245</id><published>2007-11-01T12:00:00.000-07:00</published><updated>2007-11-01T23:06:59.893-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Cemburu?</title><content type='html'>Mmm.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Only one question.. Siapa sih yang gak pernah ngerasain cemburu?&lt;br /&gt;Sesama anak aja dalam satu keluarga pasti pernah ngerasain rasa itu satu lain. Anak sulung cemburu karena orangtuanya lebih merhatiin yang bungsu. Anak yang kedua sebel kalo kakaknya lebih disayang sama papah mamahnya. Ssssstttt.. Itu yang sedarah loh! Apalagi yang gak ada hubungan darah sama sekali. Wuiiihh.. pastinya akan jauh lebih dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa cemburu akan timbul ketika ada rasa memiliki. Bagus memang. Tapi yang terkontrol. Bukan yang berlebihan dan di luar batas kewajaran. Cemburu katanya didasari rasa sayang. sebagian orang memang berpendapat seperti itu. Mungkin memang betul adanya. Tetapi satu hal yang patut diingat juga adalah, saat kita menyayangi seseorang, saat itu pula kita harus mulai menumbuhkan rasa saling percaya. Gak perlu 100 %. Sebuah hal yang wajar. Lalu yang harus kita ingat juga, ketika kita belajar mempercayai seseorang, maka kita juga belajar untuk mengolah rasa cemburu kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kadang sulit, benih cemburu itu bisa kita pupuk dan kita atur masa pertumbuhannya. Layaknya tanaman, bisa kita tata hingga menjadi sebuah hal yang indah dan tak menjadi liar pada akhirnya. Cemburu tidak selayaknya menjalar seperti akar pohon beringin yang berdiri tegak di samping sebuah rumah mungil bernama cinta dan akhirnya meretakkan dinding-dinding yang ada dan menghancurkan seluruh isinya. &lt;br /&gt;Jangan pernah mengambil kesimpulan, kalo gak cemburu berarti gak sayang atau cinta. Khalil Gibran pernah berkata, "Cinta dan keraguan tidak berbicara satu sama lain". See.. Ketika sebuah nilai cemburu tidak lagi dikeluarkan dalam porsi yang tepat, maka yang timbul kemudian adalah sebuah keraguan yang dapat menumpuk layaknya sampah, kemudian menggunung. Dan ketika sudah jadi gunung, kita tinggal menunggu satu moment yang paling menakutkan yang akan merubah segala yang ada di sekelilingnya. Meletus..! Meledak..! Atau apapun lah namanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu semua terjadi, tanpa kita sadari semua kenangan manis yang telah terjalin perlahan hilang begitu saja terbawa hembusan waktu. Memupuskan rasa terdalam pada setiap sebuah hubungan. Entah itu pertemanan, persaudaraan, terlebih lagi percintaan. Semua yang kita sudah bangun atas dasar nama cinta dan kasih sayang, seringkali tak berarti lagi hanya karena kita lebih memilih untuk mudah terbakar cemburu yang disusupi emosi tak terkendali. Gak peduli lagi berapa banyak aral lintang yang sudah kita lewati. Gak peduli berapa butir air mata yang sudah menetes. Gak peduli banyak tawa yang sudah mengisi hari-hari kita. Gak peduli banyak indah yang mewarnai langkah-langkah kita..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita udah gak peduli lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat dan rasakan betapa dahsyatnya cemburu ketika kita tidak meletakkannya pada tempat dan waktu yang semestinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teorinya mungkin mudah untuk mengatur rasa itu. Bicaranya memang gampang, kalo kita tidak akan mudah terkontaminasi oleh polusi cinta itu. Katanya sih Gak begitu sulit menjadi orang yang gak mudah terkena racun cemburu yang membabibuta itu. That's the theory, sob! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The fact is.. The Theory doesn't se-eazy prakteknya. Tapi gak ada salahnya kita mencoba berubah untuk orang yang kita cinta. Mencoba untuk menomorsatukan cinta di atas segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulitnya karena manusia diciptakan dengan Ego. Dan ketika rasa itu timbul yang seringkali terjadi adalah, ego yang berbicara, bukan logika. Dan ketika ego yang berdiri dibarisan paling depan, kata cinta sering tertutup kata benci. Pertengkaran sudah gak mungkin terhindari lagi. Komunikasi terhenti, karena tak ada kesepahaman yang sejati. Lantas semuanyapun berakhir tanpa pernah kita sadari. Tanpa pernah kita mengerti. Yang ada hanya penyesalan di kemudian hari. Ketika cinta tak lagi hadir di hati. Sebuah penyesalan yang tiada arti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang terlarang kadang memacu adrenalin kita untuk melanggarnya. Mengapa tidak mencoba menjadikan cinta layaknya pasir dalam genggaman tangan. Terbuka. Seakan melepaskan tapi tetap dalam jangkauan. Ketimbang kita menggenggamnya seerat mungkin. Tapi tanpa kita sadari pasir itu keluar dari sela jari-jari kita dan hanya menyisakan sedikit saja. Mengapa kita tidak menjadikan semua yang kita alami sebagai sebuah pelajaran yang berarti menuju tingkat hidup yang semua orang inginkan. Dewasa. Kenapa kita tidak mencoba untuk belajar untuk menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing sebagai suatu proses cinta yang indah. Seperti Gibran katakan juga, "Ketika kita mencintai seseorang, sesungguhnya kita sedang mempelajari sesuatu pada diri kita sendiri". Karena cinta bukan hanya masalah kecocokan dua hati. Sampai kapan kita akan mendapatkan orang yang cocok dengan kita, jika kita tidak mulai belajar untuk menerima dia apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cemburu memang gak akan pernah hilang sampai kapanpun. Kenapa gak kita nikmatin aja. Gak berlebihan dan gak kekurangan. Jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sedikit. Sesuai porsi. Biar semuanya jadi aman-aman aja. Gak perlu saling curiga. Gak perlu adu kata. Gak perlu diam seribu bahasa. Gak perlu saling menderita. Karena cinta seharusnya membuat kita bahagia. Meski kadang dibumbui dengan nestapa.&lt;br /&gt;Ada kalanya kita harus mengorbankan segalanya demi cinta. Ada waktunya kita harus menderita karena cinta. Ada saatnya kita harus menangis karena cinta. Tapi jangan pernah takutkan itu semua. Maju terus demi cinta. Karena my lovely Grandpa Gibran always berujar, "Cinta yang dibasuh airmata akan suci dan indah selamanya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cemburu dan Cinta..                                                                                         &lt;br /&gt;Dua mata uang yang tak dapat dipisahkan. &lt;br /&gt;Dua kepribadian yang kadang saling membutuhkan. &lt;br /&gt;Dua seni yang begitu melarutkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan keduanya akan terasa indah ketika kita mencoba untuk menikmatinya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta. 23 Juli 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-5968313749212771245?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/5968313749212771245/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/cemburu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/5968313749212771245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/5968313749212771245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/cemburu.html' title='Cemburu?'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-4432252589378644033</id><published>2007-11-01T11:54:00.000-07:00</published><updated>2007-11-01T11:59:14.888-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Jadi Tua..? It's A Must..!</title><content type='html'>Jadi tua? &lt;br /&gt;Why not..&lt;br /&gt;Teeettt.. Sorry! Wrong answer guy's! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tua bukan pilihan, sob! Tapi kewajiban. Keharusan. Kepastian. Tentunya dengan catatan kalo jatah umur kita emang mencukupi untuk masuk kategori tua. Yang gue maksud di sini, bener-bener tua loh, sob! Yah, paling nggak udah di atas 63 tahun. Selain patokan umur, mungkin kerutan di wajah dan minimnya jumlah gigi dimulut kita bisa di jadikan salah dua patokan lagi buat seseorang yang bisa disebut tua. Sekali lagi! Bener-bener tua. Bukan orang yang sok tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian yang nerimo, ada juga sebagian orang yang takut banget terlalu cepat memasuki fase itu. Being an old one! Gak ngerti juga. Padahal jadi tua bukan sebuah tindak kejahatan atau film horror yang bikin bulu kuduk kita merinding. Jadi tua juga bukan sesuatu yang bikin hidup kita gak jadi bernilai. Jadi tua itu memang jalan protokol yang harus dilewati oleh semua mahluk hidup di dunia ini. Gak pandang bulu. Mau manusia, hewan atau tumbuhan. Mungkin bedanya dengan manusia, hewan atau tumbuhan gak perlu pake tongkat atau mungkin mengenakan kacamata di usia senjanya kelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang gue bilang sebelumnya. Jadi tua juga bukan sebuah hal yang membuat kita jadi tidak berarti lagi buat orang lain. Banyak koq orang yang sudah memasuki usia tua yang masih bisa menunjukkan kredibilitasnya sebagai someone yang bisa dibanggakan. Gak perlu jauh-jauh liat orang lain. Liat aja kakek atau nenek kita masing-masing. Mereka semua hebat. Paling nggak, mereka udah sukses bikin formula ampuh yang akhirnya menghasilkan orang tua yang menjadi cikal bakal kemunculan kita di jagad ini. Contoh simpelnya, gue yakin kalo Presiden kita Pak SBY ataupun wakilnya Pak JK, bakal berterimakasih banget sama kakek dan neneknya masing-masing karena telah melahirkan orang tua mereka sebagai media kemunculan mereka di dunia ini. Hebat gak tuh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almarhum Pramudya Ananta Toer bisa jadi salah satu contoh kongkrit. Bagi pencinta dunia sastra, nama ini sudah bukan nama biasa. Sekilas Info aja yah.. You know what, di tahun 2001, ketika usianya 76 tahun, beliau masih mampu menerbitkan karya Fiksi berjudul Cerita dari Digul. Setahun sebelumnya beliau malah menerima penghargaan Fukuoka Asian Culture Grand Prize dari pemerintah Jepang. Dan tokoh sastra yang lahir pada tanggal 6 Februari di Blora, Jawa Tengah, 82 tahun yang silam ini, mulai menggeluti dunia sastra ketika beliau masih berusia 22 tahun. Dan ia terus bergelut hingga akhir hayatnya. Gak usah ngebayangin berapa banyak karya yang sudah ia hasilkan. Banyak banget! Dari karya Fiksi, Non Fiksi, Cerpen, Puisi, atau bahkan terjemahan-terjemahan karya berbahasa Indonesia. Semua karyanya pasti akan tetap hidup dan menjadi bagian dari sejarah sastra negeri kita, meski beliau pada akhirnya harus menghadap Yang Maha Kuasa pada 30 April 2006 silam. &lt;br /&gt;( Sumber : www.tokohindonesia.com )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau juga  seorang Nanny Anastasia Lubis. Bagi dunia tari, nama ini juga mungkin tak asing. Beliau adalah pendiri sekolah tari (Balet dan Senam) terkemuka di Indonesia, Namarina. Puteri keturunan Batak yang lahir di Tegal, Jawa Tengah 24 November 1926 ini mendirikan sekolah bagi para calon penari balet itu pada tanggal 30 Desember 1956. Dan ia memimpin Namarina sampai akhir hayatnya, ketika ia menginjak usia 67 tahun, tepatnya pada tahun 1993.             &lt;br /&gt;( Sumber : www.tokohindonesia.com ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue bilang juga apa. Menjadi tua tidak membuat segalanya berakhir tanpa arti. Menjadi tua tidak pula membuat seseorang menjadi mandul akan prestasi dan penghargaan. Menjadi tua adalah sebuah hal yang menarik! Kadang malah lucu dan menggemaskan. Menjadi tua seakan membuat seseorang kembali layaknya seorang anak kecil yang mendambakan kasih sayang, perhatian, bahkan sentuhan yang penuh kelembutan. Perhatiin deh para Grandma dan Grandpa di sekitar kita. Tingkah mereka kadang bisa membuat kita tertawa. Namun kadang juga bisa membuat kita termenung dan terseret dalam kegalauan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek gue dari nyokap contohnya.  Kakek gue tersayang itu bisa sangat membuat gue sedih dan terharu ketika ia merengek manja layaknya anak kecil yang mau minta dibelikan permen sama orang tuanya, tapi ia sendiri malu bilangnya. Terutama ketika menginginkan sesuatu dari gue. Biasanya sih kalo dia lagi pengen banget makan buah apel kesukaannya. Atau ketika dia lagi sakit. Apalagi pas nenek gue, jantung hatinya, meninggalkan dia lebih dulu menghadap Allah SWT. Mmm.. gak kuat gue ngeliatnya. Untungnya doi bukan tipikal orang yang seneng ngeluh. Sedih pasti sangat mendalam dia rasakan, tapi itu gak membuat dirinya jadi orang yang lemah. Simpelnya, hidupnya dibawa happy aja.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di lain kesempatan doi bisa sangat membuat gue tertawa dengan keluguannya. Dengan canda dan keisengannya. Pernah suatu ketika, dia ngerjain gue dan nyokap gue. Awalnya dia manggil gue ke rumahnya yang kebetulan cuma berjarak 30 meter gitu dech dari rumah gue. Dia minta gue untuk sedikit ngasih tau sepupu gue yang masih kecil yang ngambek karena gak dibeliin mainan. Gak taunya pas gue sampe sana, belum sempet gue negur sepupu gue, gue langsung sadar kalo yang gue kira sepupu gue yang lagi telungkup di tempat tidur layaknya anak kecil lagi ngambek itu ternyata cuma bantal guling yang dikasih baju dan celana lengkap dengan kepala dari replika kepala plus rambut yang biasa kita temui di salon. Huahahaha.. Gue gak sepenuhnya ketipu. Gak seperti nyokap gue yang tertipu mentah-mentah setelah itu. Nyokap gue malah sempet marah-marahin dan nasehatin tuh 'boneka' lagi. Huahahahahahahahaha.. Kakek gue emang gila. Tapi karena itu gue sayang banget sama dia. Di dalam gila dan isengnya dia ada sayang dan perhatian yang mendalam ke diri gue. Dalam banyolan dan celetukan lucunya tersirat rasa cintanya buat gue. Damn! I'm so in love with him.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue punya cerita menarik yang pengen gue bagi di sini. And It's a real story..&lt;br /&gt;Gue pernah ketemu sama sama seorang kakek berusia 100 tahun dan dua orang nenek yang masing-masing berusia 125 dan 135 tahun. Hebat gak tuh! Kebetulan waktu itu gue didaulat jadi bintang tamunya Bunda Dorce di acara Dorce Shownya dia. Gue dapet peran jadi kakek-kakek gitu dech. Gak pantes banget! Hehehehe.. &lt;br /&gt;Yang cowo namanya 'Kong Icang. Lucu banget. Giginya udah abis. Tanpa sisa sedikitpun. Dan orangnya emang lucu. Udah kaya anak kecil banget deh. Yang pasti gue dan dia sama-sama mengalami kesulitan pada saat itu. Gue sulit mengartikan pembicaraan dia, secara giginya udah finish semua. Yang ada ketika maksudnya berbicara, dia malah terlihat seperti bergumam. Di sisi lain, dia juga agak sulit menangkap pembicaraan dan maksud pertanyaan yang gue ajukan ke dia dengan baik. Communication discinnect! Gue kemana, dia kemana. tapi di situ letak serunya. Apalagi waktu dia cuma bisa tersenyum, meski mungkin maksudnya tertawa ketika gue coba nyomblangin dia dengan Bunda Dorce. Hehehe.. Gue jadi inget sama kakek gue, meski umurnya masih dibawah 'Kong Icang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak beda jauh dengan Nyi Ani yang berusia 125 tahun. Bunda Dorce juga agak kesulitan berkomunikasi dengan beliau. Maklum lah. Semakin tua umur seseorang, semakin menurunlah fungsi organ tubuh yang dimilikinya. Terutama pendengarannya. Nyi Ani hanya menyisakan satu gigi di mulutnya. Dia terpaksa tetap duduk di kursi rodanya yang biasa ia gunakan sehari-hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang agak 'aneh' menurut gue malah nenek yang satu lagi. Umurnya 135 tahun. Tapi dia masih bisa menangkap pembicaraan yang sedang berjalan dan menjawab pertanyaan yang di ajukan jauh lebih baik dari kedua temannya yang ada di situ. Seingat gue, giginya malah masih jauh lebih banyak dari yang lainnya. Mmm.. What's wrong?&lt;br /&gt;Rasa penasaran gue sedikit terobati ketika gue menanyakan 'keanehan' itu kepada seorang Dokter yang juga diundang dalam acara itu. Dia cuma bilang, kalo dia malah gak yakin dengan kebenaran umur mereka. Karena menurut dia gak ada data otentik yang bisa mendukung semua itu. Masuk akal. sama dengan pemikiran gue juga, kalo memang susah mencari data yang sah tentang umur seseorang yang lahir jaman dulu, ketika masalah bukti identitas dan pengarsipannya gak sehebat masa kini. Orang dulu kalo ditanya kapan lahirnya aja mungkin banyak yang gak tau kapan persisnya. Jawaban klisenya cuma satu.. "Kayanya sih bareng pohon nangka di depan rumah di tanem!". Nah, masalahnya pohon nangka gak punya KTP alias Kartu Tanda Pohon yang menjelaskan kapan tanggal lahirnya doi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudah lah yaw.. Intinya gue cuma mau bilang juga. Kalo gue pada saat itu jadi ngebayangin, gimana rasanya kalo gue sudah memasuki usia mereka. Apa jadinya gue? Apa gue setangguh mereka dalam menjalani hidup? Apa gue akan sehebat mereka dalam mengarungi pahit getirnya kehidupan? Dan pertanyaan yang paling mendasar adalah, apakah Allah SWT mau memberikan umur yang panjang buat gue supaya gue bisa merasakan masa-masa seperti mereka? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mmm.. Cuma waktu yang bisa jawab!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last but not least..&lt;br /&gt;Kita semua mungkin pernah denger ungkapan ini :&lt;br /&gt;Ingat lima perkara, sebelum lima perkara..&lt;br /&gt;•SEHAT sebelum SAKIT.. &lt;br /&gt;•MUDA sebelum TUA.. &lt;br /&gt;•KAYA sebelum MISKIN.. &lt;br /&gt;•LAPANG sebelum SEMPIT.. &lt;br /&gt;•HIDUP sebelum MATI.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak perlu dijelasin. Karena kita semua pasti orang pintar, meski gak minum Tolak Angin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menempuh hidup. Selamat berjalan perlahan menuju senja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat adalah nama merk biskuit di negara kita tercinta. Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdekaaaa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;East Jakarta. 09.04.07. 19:43 wlg.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-4432252589378644033?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/4432252589378644033/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/jadi-tua-its-must.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/4432252589378644033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/4432252589378644033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/jadi-tua-its-must.html' title='Jadi Tua..? It&apos;s A Must..!'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-3234953963383793266</id><published>2007-11-01T11:49:00.000-07:00</published><updated>2007-11-01T11:53:10.219-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Waktu Bukan Batu</title><content type='html'>What time is it?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mmm.. nanyain waktu yah? Gak kerasa yah, ngomongin masalah waktu aja pasti udah makan waktu juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu emang gak bisa diputar balik. Apa yang kita jalani mungkin udah jadi bagian proses hidup kita. Sama halnya dengan tiap kemenangan dan kekalahan kita dalam tiap kompetisi yang ada dalam rangkaian semu hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu bukan batu, yang cuma bisa diam. Yang hanya bisa melihat tanpa melakukan apapun. Waktu adalah sebuah benda tak nyata yang bisa membuat semua hal nyata menjadi tak nyata, begitupun sebaliknya. Jangan pernah salahkan waktu, ketika waktu mempermainkanmu. Karena waktu sendiri tak pernah menyalahkanmu yang sering kali mempermainkannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hidup dengan waktu, sementara waktu tak pernah membutuhkan siapapun untuk tetap melanjutkan kearoganannya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.&lt;br /&gt;Kadang kita lengah dengan semua yang kita jalani. Kita lebih asyik bermain dengan semua angan yang seringkali tak tercapai. Bukan karena kita tak mampu. Terlebih semuanya karena kita hanya mengacuhkan sang waktu. Kita lebih memilih untuk berleha-leha, bersantai dengan apa yang ada di depan kita. Lebih senang untuk bilang nanti saja, ketimbang sekarang. Sistem kebut semalam. Mengumpulkan semua yang mestinya bisa dikerjakan satu persatu. Jadi orang yang senang mengkoleksi kesulitan. Jadi orang yang lebih senang menjauhkan diri dari kemudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berjalan terus. Tak kan pernah berhenti karena ingin kita. Waktu bisa menjadi sahabat, bisa jadi sesuatu yang sangat jahat. Semuanya tergantung dari cara kita bergulat dengannya. Waktu bisa membunuh kita secara perlahan. Waktu pula yang bisa menyelamatkan kita dari keterpurukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's all about time. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita butuh waktu untuk memikirkan arah hidup kita.&lt;br /&gt;Kita butuh waktu untuk meluapkan semua kegembiraan kita.&lt;br /&gt;Kita butuh waktu untuk melupakan kesedihan kita.&lt;br /&gt;Bahkan kita butuh waktu untuk menyadari apa arti hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah menyerah dengan apa yang ada di depan mata kita. Masalah cuma menjadi masalah, ketika kita menganggapnya sebagai suatu masalah. Teori memang kadang lebih mudah dari praktek. Tapi waktu juga yang akhirnya mengajarkan kita untuk selalu bisa survive mengatasi kepahitan dan kegetiran hidup. Waktu pula yang membuat kita menjadi orang yang lebih dewasa dan mengerti akan arti sang waktu itu sendiri.&lt;br /&gt;Semua orang butuh waktu. Untuk menjadi sesuatu. Untuk mendapatkan sesuatu. Bahkan ketika ia kehilangan  sesuatu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu memang bukan batu.&lt;br /&gt;Waktu adalah sang penentu...!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-3234953963383793266?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/3234953963383793266/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/waktu-bukan-batu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/3234953963383793266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/3234953963383793266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/11/waktu-bukan-batu.html' title='Waktu Bukan Batu'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-4495980165217597027</id><published>2007-10-31T22:38:00.000-07:00</published><updated>2007-10-31T23:03:46.094-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tipsaranekat'/><title type='text'>Selingkuh. More Fact, More Act..</title><content type='html'>April 07, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selingkuh. More Fact More Act..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selingkuh? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mmm.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selingkuh gue yakin udah ada sejak dulu. Sejak jaman Dinosaurus masih seneng ngemil sesama. Sejak jaman manusia masih berjalan bungkuk dan pakaian model minimalis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin juga karena gak ada media seperti tabloid gossip atau tayangan Infotainment yang mengekspos segala bentuk perselingkuhan seperti sekarang ini, makanya gak pernah ada data jelas yang bisa mengungkap kalo dulu tuh bebas dari yang namanya perselingkuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu mungkin gak ada yang terlalu tertarik untuk selingkuh. Alasan yang mungkin gak bisa dipertanggungjawabkan adalah :&lt;br /&gt;1.Jaman dulu, manusia lebih konsen mikirin bagaimana mencari makan dan tempat tinggal, ketimbang mikirin selingkuh. &lt;br /&gt;2.Jaman dulu, jarang banget ada WIL (Wanita Idaman Lain) yang bertubuh seksi dengan pandangan mata yang menggoda dan menggairahkan yang bisa bikin jantung deg-deg-deg, dan pada akhirnya membuat sang pria menjauhi pasangan aslinya. Atau sebaliknya. &lt;br /&gt;3.Jaman dulu, yah jaman dulu..! Pasti beda sama jaman sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, kalo ditilik dari konsep yang gak berkonsep sama sekali, bisa dipastikan pelaku tindak perselingkuhan adalah mahluk hidup yang bernama manusia. Tumbuhan dan hewan? Gak masuk hitungan sama sekali. Tumbuhan, gak ada gerak yang memungkinkan beliau melakukan perselingkuhan layaknya manusia. Tumbuhan lebih memilih stuck dengan tempat awalnya berpijak. Kalopun ada beberapakali pernikahan dengan tumbuhan lainnya, lebih kepada karena ulah manusia juga yang sok ngatur-ngatur jodohnya tuh tanaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi Hewan. Nggak banget deh. Doi sah aja mau ngapain aja. Liat aja ayam! Doi main asyik aja gonta-ganti pasangan. Gak malu dan gak merasa bersalah. Gak juga sedikitpun merasa takut kena penyakit. Kucing atau anjing, dua spesies yang katanya lawan tapi kadang berteman, bisa juga kita jadikan contoh. Mereka juga gak ngerasa tengsin untuk menyalurkan hasrat terpendamnya kepada siapapun dari jenisnya yang ia mau. Sah aja! Soalnya mereka semua emang gak dibekalin akan dan pikiran. Gak dibatasi juga oleh norma atau etika. Beda dengan kita semua. Kaum manusia. Baik adam maupun hawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui analisa yang gak jelas sumbernya, ada beberapa fakta yang perlu diketahui tentang perselingkuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perselingkuhan terjadi bila :&lt;br /&gt;1.Bila dalam sebuah hubungan asmara antara Pihak Pertama, dalam hal ini disebut sebagai Pihak Penjual Cinta dengan Pihak keDua, dalam hal ini disebut Pihak Pembeli Cinta, muncul pihak keTiga, dalam hal ini disebut CALO alias CAlon Labaan Oke! &lt;br /&gt;2.Bila suatu ketika ada seorang pria sedang tertangkap basah oleh kekasihnya sedang memeluk wanita lain dengan mesra di sebuah pusat perbelanjaan, sedangkan kekasihnya itu juga sedang dikecup keningnya oleh pria lain, dan keduanya lalu berteriak lantang, "KAMU SELINGKUH..!!" &lt;br /&gt;3.Bila.. Bila.. Bila ku ingat tentang dikau, jauh dimata dekat di hati. Lagu itu sering dinyanyikan seorang pria dengan tatapan kosong. Tapi sayangnya lagu itu bukan ditujukan untuk kekasih resminya. &lt;br /&gt;4.Bila... Bila ada bila lainnya, tolong kasih tau gue. Biar gue bisa tambahin di tulisan gue!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perselingkuhan tidak terdeteksi ketika dilakukan di :&lt;br /&gt;1.Di Kuburan. Sumpah gak sampe mati deh. Gue yakin nih tempat aman banget buat selingkuh. Gak ada orang yang bakal liat kalo ada tindak kejahatan cinta di lokasi itu. Resikonya sangat-sangat kecil banget buat ketahuan. Mungkin salahsatu resiko yang agak ganggu itu cuma kesiapan kita aja. Maksudnya, siap aja pas kita lagi asyik ngebelai pasangan selingkuh kita tiba-tiba ada sesosok mahluk berbaju putih, melayang di udara yang tiba-tiba nyolek kita trus bilang, "Selingkuh nih yeee..!"    &lt;br /&gt;2.Di Kamar Mayat. Agak sejenis tempatnya. Tapi mungkin lebih enak, karena ada AC nya dan ada tempat tidurnya. Cuma kita harus liat kondisi. Jangan sampai kita ganggu jadwal selingkuh penghuni-penghuni tempat itu. Gak seru kan, kalo lagi enak-enaknya menggerayangi tubuh pasangan tidak resmi kita di atas ranjang, tiba-tiba ada suara, "Mas, kalo mau mesra-mesraan jangan di situ! Itu ranjang udah saya booking!" &lt;br /&gt;3.Di dua tempat yang berbeda. PIL nya di Blok M misalnya, sedang WIL nya di Pluit. Ditanggung gak akan kena grebek sama pasangannya masing-masing. Trus, pacarannya gimana? Pake telepati aja. &lt;br /&gt;4.Di... sarankan bagi kalian untuk memberi ide lagi ke gue, biar tambah fakta gak jelasnya tentang tempat perselingkuhan yang Parman bin Aman!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perselingkuhan bisa dideteksi dengan cara 3 D :&lt;br /&gt;1.DILIHAT. Dilihat apakah pasangan kita mulai bersikap aneh belakangan ini. Ambil misal, yang biasanya pasangan kita gak pernah pake parfum, tiba-tiba kini selalu tampil dengan wangi parfum mencolok. Bahkan aroma parfum itu bukan hanya tercium dari badannya, tapi juga mulutnya. Biasanya gak pernah sekalipun merapikan rambutnya dengan sisir, sekonyong-konyong jadi rajin menyisir rambutnya meskipun kepalanya udah botak! &lt;br /&gt;2.DIRABA. Diraba kantong celana atau bajunya. Cari barang bukti!Siapa tahu dia menyimpan selingkuhannya di situ. Seapes-apesnya paling minim kita nemuin tiket bioskop yang dibelinya waktu berkencan dengan selingkuhannya. Dari situ kita bisa tahu tempat duduknya di mana. Abis itu langsung deh kita ke Bioskop yang tertera di tiket itu, trus nanya sama penjaga loketnya, siapa nama yang duduk di bangku itu beserta ciri-cirinya. Paling-paling mbanya cuma ngasih CD.. Capee deeeh!  &lt;br /&gt;3.DITERAWANG. Diterawang bolamatanya. Liat apa ada tanda-tanda kebohongan di mata pasangan kita saat ditanya kemana dia malam minggu kemarin ketika ia tak sedikitpun memberi kabar. Tatap bola matanya. Kalo bola matanya melirik ke kanan dan ke kiri secara bergantian ada kemungkinan doi selingkuh, atau, emang matanya hiperaktif aja. Kalo bola matanya tertutup, berarti dia lagi mencari jawaban yang masuk akal, atau mungkin juga dia lagi tidur. Nah, kalo bola matanya putih semua, baru benar-benar bisa dipastikan kalo dia sudah.. Selingkuh? Bukan! Tapi sudah Almarhum.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perselingkuhan bisa dihindari dengan cara 3 M :&lt;br /&gt;1.MENCUCI. Mencuci otaknya dan membuat sedikit psikoteraphi dengan mengisi kembali otaknya dengan kenyataan bahwa selingkuh bisa menyebabkan efek-efek negatif berkesinambungan. Dimulai dari gatal-gatal, kemudian dilanjutkan dengan bohong-bohong, juga diselingi ngumpet-ngumpet dan ujungnya diakhiri dengan putus-putus. &lt;br /&gt;2.MENGURAS. Menguras habis isi dompet kekasih kita. Dengan begitu paling tidak ia akan berpikir berkali-kali untuk mentraktir selingkuhannya. Dan bisa dipastikan tak lama kemudian kekasihmu akan dibilang pelit dan gak bermodal, dan akhirnya ia pun akan ditinggalkan selingkuhannya dengan tidak terhormat. &lt;br /&gt;3.MENGUBUR. Mengubur hidup-hidup kekasihmu! Jangan sampe mati-mati. Bisa gawat urusannya. Itu juga kalo ternyata dia masih nekat jalan dengan selingkuhannya di depan matamu tanpa ragu dan malu, meski dirimu telah memiliki bukti-bukti yang otentik tentang perselingkuhan yang kekasihmu lakukan.&lt;br /&gt;Oke! That's it.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mmm.. Mungkin apa yang gue coba beberkan di atas terlihat tidak penting sama sekali. &lt;br /&gt;Tapi coba baca dan renungkan kembali sekali lagi..!&lt;br /&gt;Please.. tolong sekali lagi..!&lt;br /&gt;Masih gak penting juga?&lt;br /&gt;Yakin?&lt;br /&gt;Oke. Gue nyerah! &lt;br /&gt;Lo bener! Semua yang gue tulis di atas emang gak penting!&lt;br /&gt;Damn..!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta. 07.04.07.23:00 wlg.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-4495980165217597027?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/4495980165217597027/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/10/selingkuh-more-fact-more-act.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/4495980165217597027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/4495980165217597027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/10/selingkuh-more-fact-more-act.html' title='Selingkuh. More Fact, More Act..'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4971337886422269484.post-1844162294250321683</id><published>2007-10-31T22:24:00.001-07:00</published><updated>2007-10-31T22:36:58.016-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>IT TAKE'S TWO TANGO</title><content type='html'>&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_0"&gt;Galang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1"&gt;tertunduk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_2"&gt;lesu&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_3"&gt;Gilang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_4"&gt;cuma&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_5"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_6"&gt;menatap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_7"&gt;sahabat&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_8"&gt;duduk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_9"&gt;layu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_10"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_11"&gt;depannya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_12"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_13"&gt;tatapan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_14"&gt;nanar&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_15"&gt;Tanpa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_16"&gt;berusaha&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_17"&gt;sedikitpun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_18"&gt;berkomentar&lt;/span&gt;. Ia &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_19"&gt;masih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_20"&gt;menunggu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_21"&gt;waktu&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_22"&gt;tepat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_23"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_24"&gt;berbicara&lt;/span&gt;. Paling &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_25"&gt;tidak&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_26"&gt;Gilang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_27"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_28"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_29"&gt;ingin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_30"&gt;perasaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_31"&gt;kawannya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_32"&gt;makin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_33"&gt;terluka&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_34"&gt;Makin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_35"&gt;merasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_36"&gt;jadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_37"&gt;orang&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_38"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_39"&gt;berguna&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“IT TAKES TWO TANGO..!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_40"&gt;Kamu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_41"&gt;tahu&lt;/span&gt;? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_42"&gt;Itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_43"&gt;adalah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_44"&gt;kalimat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_45"&gt;terakhir&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_46"&gt;terucap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_47"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_48"&gt;mulutnya&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_49"&gt;indah&lt;/span&gt;. Di &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_50"&gt;saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_51"&gt;pertemuan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_52"&gt;terakhir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_53"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_54"&gt;berdua&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_55"&gt;Ketika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_56"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_57"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_58"&gt;banyak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_59"&gt;bicara&lt;/span&gt;. Karena &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_60"&gt;kurasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_61"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_62"&gt;berdua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_63"&gt;seakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_64"&gt;berada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_65"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_66"&gt;dua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_67"&gt;alam&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_68"&gt;berbeda&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_69"&gt;Meski&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_70"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_71"&gt;saling&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_72"&gt;bertatap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_73"&gt;wajah&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_74"&gt;Berurai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_75"&gt;kata&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_76"&gt;Bahkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_77"&gt;tersenyum&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_78"&gt;getir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_79"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_80"&gt;sela&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_81"&gt;kecewa&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_82"&gt;Sedih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_83"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_84"&gt;tertandingi&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_85"&gt;Saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_86"&gt;cinta&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_87"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_88"&gt;punya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_89"&gt;lagi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_90"&gt;tempat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_91"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_92"&gt;hati&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_93"&gt;Saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_94"&gt;emosi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_95"&gt;merajai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_96"&gt;gejolak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_97"&gt;diri&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_98"&gt;Saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_99"&gt;usai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_100"&gt;mengharuskan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_101"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_102"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_103"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_104"&gt;berjalan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_105"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_106"&gt;kesendirian&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_107"&gt;sejati&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_108"&gt;Tatapan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_109"&gt;kosong&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_110"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_111"&gt;hampa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_112"&gt;Untaian&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_113"&gt;kalimat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_114"&gt;tanpa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_115"&gt;makna&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_116"&gt;Gerak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_117"&gt;tubuh&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_118"&gt;seakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_119"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_120"&gt;bernyawa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_121"&gt;Semuanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_122"&gt;saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_123"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_124"&gt;terasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_125"&gt;tanpa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_126"&gt;cinta&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_127"&gt;Hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_128"&gt;dua&lt;/span&gt; raga yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_129"&gt;bertemu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_130"&gt;tanpa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_131"&gt;jiwa&lt;/span&gt;. Dan &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_132"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_133"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_134"&gt;menerima&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_135"&gt;Ketika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_136"&gt;perpisahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_137"&gt;pula&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_138"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_139"&gt;jadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_140"&gt;pilihan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_141"&gt;semata&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_142"&gt;demi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_143"&gt;kata&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_144"&gt;perlahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_145"&gt;terucap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_146"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_147"&gt;mulut&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_148"&gt;Galang&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_149"&gt;Lirih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_150"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_151"&gt;terasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_152"&gt;perih&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_153"&gt;Tapi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_154"&gt;kenapa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_155"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_156"&gt;berakhir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_157"&gt;seperti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_158"&gt;ini&lt;/span&gt;? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_159"&gt;Saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_160"&gt;ini&lt;/span&gt;? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_161"&gt;Pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_162"&gt;saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_163"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_164"&gt;mulai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_165"&gt;lelah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_166"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_167"&gt;mencari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_168"&gt;arti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_169"&gt;sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_170"&gt;komitmen&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_171"&gt;atas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_172"&gt;dasar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_173"&gt;cinta&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_174"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_175"&gt;kasih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_176"&gt;sayang&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_177"&gt;Pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_178"&gt;saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_179"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_180"&gt;berpikir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_181"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_182"&gt;mengakhiri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_183"&gt;semua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_184"&gt;kesendirian&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_185"&gt;Pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_186"&gt;saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_187"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_188"&gt;beranjak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_189"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_190"&gt;keraguan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_191"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_192"&gt;berjalan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_193"&gt;menuju&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_194"&gt;sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_195"&gt;keyakinan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_196"&gt;akan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_197"&gt;arti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_198"&gt;sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_199"&gt;kebersamaan&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_200"&gt;Kenapa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_201"&gt;sekarang&lt;/span&gt;? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_202"&gt;Apa&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_203"&gt;salah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_204"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_205"&gt;diriku&lt;/span&gt;? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_206"&gt;Jangan&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_207"&gt;jangan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_208"&gt;memang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_209"&gt;gak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_210"&gt;ada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_211"&gt;samasekali&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_212"&gt;benar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_213"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_214"&gt;diriku&lt;/span&gt;? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_215"&gt;Mmm&lt;/span&gt;.. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_216"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_217"&gt;Cuma&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_218"&gt;berusaha&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_219"&gt;berbuat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_220"&gt;sebaik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_221"&gt;mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_222"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_223"&gt;menjadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_224"&gt;seorang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_225"&gt;pria&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_226"&gt;baik&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_227"&gt;Seorang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_228"&gt;kekasih&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_229"&gt;mencoba&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_230"&gt;menerima&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_231"&gt;kelebihan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_232"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_233"&gt;kekurangan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_234"&gt;pujaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_235"&gt;hatinya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_236"&gt;Seorang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_237"&gt;manusia&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_238"&gt;sedang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_239"&gt;belajar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_240"&gt;bagaimana&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_241"&gt;menjalani&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_242"&gt;hidup&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_243"&gt;berdua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_244"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_245"&gt;orang&lt;/span&gt; lain yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_246"&gt;berbeda&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_247"&gt;dunia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_248"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_249"&gt;budaya&lt;/span&gt;..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_250"&gt;Gilang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_251"&gt;masih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_252"&gt;tetap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_253"&gt;terdiam&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_254"&gt;Mendengarkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_255"&gt;Galang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_256"&gt;bermonolog&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_257"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_258"&gt;kesedihan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_259"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_260"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_261"&gt;butuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_262"&gt;apa&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_263"&gt;apa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_264"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_265"&gt;cuma&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_266"&gt;butuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_267"&gt;dihargai&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_268"&gt;Sebagai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_269"&gt;seorang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_270"&gt;lelaki&lt;/span&gt;. Yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_271"&gt;katanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_272"&gt;bakal&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_273"&gt;jadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_274"&gt;pemimpin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_275"&gt;sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_276"&gt;keluarga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_277"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_278"&gt;kemudian&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_279"&gt;hari&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_280"&gt;Sebagai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_281"&gt;seorang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_282"&gt;kaum&lt;/span&gt; Adam yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_283"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_284"&gt;ingin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_285"&gt;menjadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_286"&gt;sesuatu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_287"&gt;bagi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_288"&gt;Hawa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_289"&gt;tercintanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_290"&gt;ketika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_291"&gt;bersama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_292"&gt;maupun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_293"&gt;saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_294"&gt;sendiri&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_295"&gt;Buat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_296"&gt;apa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_297"&gt;harta&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_298"&gt;duniawi&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_299"&gt;ketika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_300"&gt;rasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_301"&gt;justru&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_302"&gt;terbelenggu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_303"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_304"&gt;tertidur&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_305"&gt;suri&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_306"&gt;Buat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_307"&gt;apa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_308"&gt;tawa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_309"&gt;terdengar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_310"&gt;kalo&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_311"&gt;hati&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_312"&gt;terbalut&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_313"&gt;sedih&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_314"&gt;Hidup&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_315"&gt;terasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_316"&gt;mati&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_317"&gt;Tanpa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_318"&gt;hati&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_319"&gt;Tanpa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_320"&gt;nurani&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_321"&gt;Hening&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_322"&gt;Tanpa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_323"&gt;suara&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_324"&gt;Memangnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_325"&gt;ada&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_326"&gt;salah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_327"&gt;ketika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_328"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_329"&gt;menginginkan&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_330"&gt;terbaik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_331"&gt;untuk&lt;/span&gt; sang sang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_332"&gt;kekasih&lt;/span&gt;? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_333"&gt;Apa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_334"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_335"&gt;layak&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_336"&gt;bila&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_337"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_338"&gt;melindunginya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_339"&gt;setengah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_340"&gt;mati&lt;/span&gt;? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_341"&gt;Bukan&lt;/span&gt;! &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_342"&gt;Bukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_343"&gt;buat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_344"&gt;kepentingan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_345"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_346"&gt;pribadi&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_347"&gt;Tapi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_348"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_349"&gt;kebaikan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_350"&gt;dimasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_351"&gt;nanti&lt;/span&gt;..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_352"&gt;rasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_353"&gt;cemas&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_354"&gt;dirasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_355"&gt;Gilang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_356"&gt;ketika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_357"&gt;Galang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_358"&gt;berujar&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_359"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_360"&gt;cukup&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_361"&gt;mengerti&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_362"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_363"&gt;tahu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_364"&gt;bahwa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_365"&gt;pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_366"&gt;kenyataannya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_367"&gt;tiap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_368"&gt;orang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_369"&gt;memang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_370"&gt;dicipta&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_371"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_372"&gt;sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_373"&gt;perbedaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_374"&gt;nyata&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_375"&gt;Tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_376"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_377"&gt;sifat&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_378"&gt;Tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_379"&gt;pula&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_380"&gt;tabiat&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_381"&gt;Meski&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_382"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_383"&gt;setitik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_384"&gt;kecil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_385"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_386"&gt;bahkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_387"&gt;nyaris&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_388"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_389"&gt;terlihat&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_390"&gt;pasti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_391"&gt;akan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_392"&gt;selalu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_393"&gt;ada&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_394"&gt;bernama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_395"&gt;beda&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_396"&gt;Beda&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_397"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_398"&gt;menjadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_399"&gt;indah&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_400"&gt;Beda&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_401"&gt;mampu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_402"&gt;membuat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_403"&gt;nestapa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_404"&gt;Semua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_405"&gt;tergantung&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_406"&gt;bagaimana&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_407"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_408"&gt;menyikapinya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_409"&gt;Satu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_410"&gt;hal&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_411"&gt;pasti&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_412"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_413"&gt;tahu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_414"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_415"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_416"&gt;akan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_417"&gt;pernah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_418"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_419"&gt;menuntut&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_420"&gt;sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_421"&gt;perubahan&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_422"&gt;berarti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_423"&gt;dari&lt;/span&gt; sang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_424"&gt;pujaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_425"&gt;hati&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_426"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_427"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_428"&gt;mampu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_429"&gt;sama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_430"&gt;sekali&lt;/span&gt;. Karena &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_431"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_432"&gt;tahu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_433"&gt;pasti&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_434"&gt;sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_435"&gt;perubahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_436"&gt;memiliki&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_437"&gt;sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_438"&gt;arti&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_439"&gt;ketika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_440"&gt;dilakukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_441"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_442"&gt;sepenuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_443"&gt;hati&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_444"&gt;Bukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_445"&gt;karena&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_446"&gt;takut&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_447"&gt;dibilang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_448"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_449"&gt;mencintai&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_450"&gt;Bukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_451"&gt;pula&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_452"&gt;karena&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_453"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_454"&gt;sekedar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_455"&gt;menyenangkan&lt;/span&gt; ego &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_456"&gt;diri&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_457"&gt;Tapi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_458"&gt;karena&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_459"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_460"&gt;ingin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_461"&gt;melakukannya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_462"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_463"&gt;kebaikan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_464"&gt;diri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_465"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_466"&gt;sendiri&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_467"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_468"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_469"&gt;pernah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_470"&gt;meminta&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_471"&gt;lebih&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_472"&gt;Tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_473"&gt;pernah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_474"&gt;menuntut&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_475"&gt;sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_476"&gt;janji&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_477"&gt;Meski&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_478"&gt;awal&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_479"&gt;terucap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_480"&gt;begitu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_481"&gt;indah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_482"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_483"&gt;menyejukkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_484"&gt;hati&lt;/span&gt;. Yup! &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_485"&gt;Sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_486"&gt;janji&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_487"&gt;Janji&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_488"&gt;terikrar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_489"&gt;tanpa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_490"&gt;sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_491"&gt;manipulasi&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_492"&gt;Janji&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_493"&gt;terucap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_494"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_495"&gt;saling&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_496"&gt;mengerti&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_497"&gt;Saling&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_498"&gt;membenahi&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_499"&gt;Saling&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_500"&gt;introspeksi&lt;/span&gt;. Dan yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_501"&gt;terpenting&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_502"&gt;saling&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_503"&gt;mengisi&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_504"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_505"&gt;tahu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_506"&gt;pasti&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_507"&gt;sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_508"&gt;pemikiran&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_509"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_510"&gt;selamanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_511"&gt;sejalan&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_512"&gt;Meski&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_513"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_514"&gt;melangkah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_515"&gt;berdampingan&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_516"&gt;Berpegangan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_517"&gt;tangan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_518"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_519"&gt;saling&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_520"&gt;berpandangan&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_521"&gt;Lihat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_522"&gt;saja&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_523"&gt;nyatanya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_524"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_525"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_526"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_527"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_528"&gt;sama&lt;/span&gt;! &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_529"&gt;Benar&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_530"&gt;benar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_531"&gt;dua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_532"&gt;dunia&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_533"&gt;berbeda&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_534"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_535"&gt;pria&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_536"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_537"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_538"&gt;wanita&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_539"&gt;Tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_540"&gt;perlu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_541"&gt;melihat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_542"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_543"&gt;sisi&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_544"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_545"&gt;tertangkap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_546"&gt;mata&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_547"&gt;Cukup&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_548"&gt;satu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_549"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_550"&gt;saja&lt;/span&gt;!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_551"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_552"&gt;banyak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_553"&gt;belajar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_554"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_555"&gt;dia&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_556"&gt;Tentang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_557"&gt;hidup&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_558"&gt;Tentang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_559"&gt;bahagia&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_560"&gt;Tentang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_561"&gt;derita&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_562"&gt;Tentang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_563"&gt;suka&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_564"&gt;Tentang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_565"&gt;duka&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_566"&gt;Namun&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_567"&gt;entah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_568"&gt;apa&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_569"&gt;ia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_570"&gt;dapat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_571"&gt;dariku&lt;/span&gt;? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_572"&gt;Tepatnya&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_573"&gt;entah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_574"&gt;apa&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_575"&gt;mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_576"&gt;ia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_577"&gt;pelajari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_578"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_579"&gt;pribadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_580"&gt;seperti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_581"&gt;aku&lt;/span&gt;? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_582"&gt;Mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_583"&gt;memang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_584"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_585"&gt;ada&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_586"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_587"&gt;cukup&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_588"&gt;sadari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_589"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_590"&gt;semua&lt;/span&gt;. Dari &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_591"&gt;ujung&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_592"&gt;kaki&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_593"&gt;hingga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_594"&gt;ujung&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_595"&gt;kepala&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_596"&gt;Memang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_597"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_598"&gt;ada&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_599"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_600"&gt;mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_601"&gt;memang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_602"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_603"&gt;seorang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_604"&gt;bajingan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_605"&gt;biasa&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_606"&gt;mencoba&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_607"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_608"&gt;jatuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_609"&gt;cinta&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_610"&gt;tanpa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_611"&gt;mengerti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_612"&gt;makna&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_613"&gt;cinta&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_614"&gt;Cuma&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_615"&gt;sekedar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_616"&gt;gaya&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_617"&gt;tapi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_618"&gt;akhirnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_619"&gt;lemas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_620"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_621"&gt;berdaya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_622"&gt;Tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_623"&gt;kuasa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_624"&gt;Tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_625"&gt;berkuasa&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_626"&gt;Gilang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_627"&gt;makin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_628"&gt;terdiam&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_629"&gt;Tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_630"&gt;tahu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_631"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_632"&gt;bicara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_633"&gt;apa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_634"&gt;bila&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_635"&gt;saatnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_636"&gt;tiba&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_637"&gt;Awalnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_638"&gt;semua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_639"&gt;begitu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_640"&gt;indah&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_641"&gt;Terbayang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_642"&gt;sempurna&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_643"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_644"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_645"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_646"&gt;saling&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_647"&gt;cinta&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_648"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_649"&gt;selalu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_650"&gt;seia&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_651"&gt;sekata&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_652"&gt;Komunikasi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_653"&gt;terjalin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_654"&gt;lewat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_655"&gt;tatapan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_656"&gt;muka&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_657"&gt;atau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_658"&gt;sekedar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_659"&gt;suara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_660"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_661"&gt;kata&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_662"&gt;kata&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_663"&gt;melalui&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_664"&gt;layar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_665"&gt;fana&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_666"&gt;Masih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_667"&gt;gembira&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_668"&gt;terasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_669"&gt;meski&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_670"&gt;kekurangan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_671"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_672"&gt;terjabar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_673"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_674"&gt;kata&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_675"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_676"&gt;laku&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_677"&gt;nyata&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_678"&gt;Saling&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_679"&gt;menerima&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_680"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_681"&gt;saja&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_682"&gt;intinya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_683"&gt;Kelebihan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_684"&gt;atau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_685"&gt;kekurangan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_686"&gt;memang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_687"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_688"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_689"&gt;depan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_690"&gt;mata&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_691"&gt;Meski&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_692"&gt;terlihat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_693"&gt;satu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_694"&gt;demi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_695"&gt;satu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_696"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_697"&gt;kadang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_698"&gt;mengejutkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_699"&gt;jiwa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_700"&gt;Tapi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_701"&gt;apa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_702"&gt;mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_703"&gt;dikata&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_704"&gt;Ketika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_705"&gt;komitmen&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_706"&gt;tercetus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_707"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_708"&gt;dada&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_709"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_710"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_711"&gt;tinggal&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_712"&gt;menjalani&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_713"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_714"&gt;hati&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_715"&gt;terbuka&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_716"&gt;Berlapang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_717"&gt;dada&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_718"&gt;Itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_719"&gt;saja&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_720"&gt;Begitupun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_721"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_722"&gt;adanya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_723"&gt;Tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_724"&gt;sedikitpun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_725"&gt;terbesit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_726"&gt;ingin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_727"&gt;merubah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_728"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_729"&gt;dirubah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_730"&gt;secara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_731"&gt;paksa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_732"&gt;Apalagi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_733"&gt;dia&lt;/span&gt;. Karena &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_734"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_735"&gt;tahu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_736"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_737"&gt;seorang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_738"&gt;wanita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_739"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_740"&gt;jiwa&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_741"&gt;merdeka&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_742"&gt;Seorang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_743"&gt;dewasa&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_744"&gt;jauh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_745"&gt;lebih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_746"&gt;mengenal&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_747"&gt;dunia&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_748"&gt;Jauh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_749"&gt;berbeda&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_750"&gt;denganku&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_751"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_752"&gt;mengerti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_753"&gt;apa&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_754"&gt;apa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_755"&gt;Semuanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_756"&gt;memang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_757"&gt;terasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_758"&gt;begitu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_759"&gt;indah&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_760"&gt;Sangat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_761"&gt;indah&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_762"&gt;Kadang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_763"&gt;bahkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_764"&gt;membuatku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_765"&gt;ingin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_766"&gt;teriak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_767"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_768"&gt;terima&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_769"&gt;ketika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_770"&gt;menyadari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_771"&gt;kini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_772"&gt;semua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_773"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_774"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_775"&gt;tiada&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_776"&gt;Detik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_777"&gt;waktu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_778"&gt;bergulir&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_779"&gt;Layaknya&lt;/span&gt; air yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_780"&gt;sedang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_781"&gt;mengalir&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_782"&gt;Rasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_783"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_784"&gt;percaya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_785"&gt;Menyulut&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_786"&gt;sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_787"&gt;cemburu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_788"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_789"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_790"&gt;dada&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_791"&gt;Itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_792"&gt;mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_793"&gt;permulaannya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_794"&gt;Bukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_795"&gt;sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_796"&gt;hal&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_797"&gt;salah&lt;/span&gt;. Karena &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_798"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_799"&gt;manusia&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_800"&gt;Mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_801"&gt;memang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_802"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_803"&gt;kodratnya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_804"&gt;Keduanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_805"&gt;akan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_806"&gt;merasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_807"&gt;hal&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_808"&gt;sama&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_809"&gt;Meski&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_810"&gt;pria&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_811"&gt;dilahirkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_812"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_813"&gt;logika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_814"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_815"&gt;wanita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_816"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_817"&gt;rasa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_818"&gt;Kekasihku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_819"&gt;memilih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_820"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_821"&gt;mengungkapkannya&lt;/span&gt;. Dan &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_822"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_823"&gt;lebih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_824"&gt;memilih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_825"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_826"&gt;memendam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_827"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_828"&gt;semua&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_829"&gt;Meyimpannya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_830"&gt;rapat&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_831"&gt;rapat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_832"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_833"&gt;relung&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_834"&gt;jiwa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_835"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_836"&gt;menahannya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_837"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_838"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_839"&gt;keluar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_840"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_841"&gt;waktu&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_842"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_843"&gt;semestinya&lt;/span&gt;.  &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_844"&gt;Tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_845"&gt;sampai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_846"&gt;membuatku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_847"&gt;buta&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_848"&gt;Tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_849"&gt;sampai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_850"&gt;membuatku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_851"&gt;merasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_852"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_853"&gt;dicinta&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_854"&gt;Cukup&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_855"&gt;jadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_856"&gt;rahasia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_857"&gt;hingga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_858"&gt;saatnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_859"&gt;tiba&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_860"&gt;Baginya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_861"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_862"&gt;mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_863"&gt;seperti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_864"&gt;seorang&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_865"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_866"&gt;paham&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_867"&gt;bagaimana&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_868"&gt;menghadapi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_869"&gt;wanita&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_870"&gt;Baginya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_871"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_872"&gt;mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_873"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_874"&gt;seorang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_875"&gt;jalang&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_876"&gt;senang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_877"&gt;melukai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_878"&gt;hati&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_879"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_880"&gt;perasaannya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_881"&gt;Baginya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_882"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_883"&gt;mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_884"&gt;seonggok&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_885"&gt;cacing&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_886"&gt;tanah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_887"&gt;kepanasan&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_888"&gt;senang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_889"&gt;menggeliat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_890"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_891"&gt;tentu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_892"&gt;arah&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_893"&gt;Bermain&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_894"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_895"&gt;cinta&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_896"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_897"&gt;harapannya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_898"&gt;Baginya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_899"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_900"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_901"&gt;mempunyai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_902"&gt;ruang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_903"&gt;untuknya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_904"&gt;Dihatiku&lt;/span&gt;. Yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_905"&gt;semestinya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_906"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_907"&gt;menjadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_908"&gt;miliknya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_909"&gt;seorang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_910"&gt;saja&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_911"&gt;Galang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_912"&gt;menarik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_913"&gt;nafas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_914"&gt;panjang&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_915"&gt;Gilang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_916"&gt;menghela&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_917"&gt;nafas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_918"&gt;sam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_919"&gt;panjangnya&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_920"&gt;Rasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_921"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_922"&gt;terima&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_923"&gt;selanjutnya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_924"&gt;Tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_925"&gt;senang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_926"&gt;ketika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_927"&gt;merasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_928"&gt;dirinya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_929"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_930"&gt;berarti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_931"&gt;apa&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_932"&gt;apa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_933"&gt;buatku&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_934"&gt;justru&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_935"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_936"&gt;mengharapkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_937"&gt;apa&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_938"&gt;apa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_939"&gt;Rasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_940"&gt;galau&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_941"&gt;membuatnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_942"&gt;berpikir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_943"&gt;prioritas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_944"&gt;hidupku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_945"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_946"&gt;bercinta&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_947"&gt;bukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_948"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_949"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_950"&gt;semata&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_951"&gt;Rasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_952"&gt;marah&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_953"&gt;menyelimuti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_954"&gt;jiwanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_955"&gt;hingga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_956"&gt;menganggapku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_957"&gt;cuma&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_958"&gt;orang&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_959"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_960"&gt;punya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_961"&gt;rasa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_962"&gt;Tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_963"&gt;punya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_964"&gt;titik&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_965"&gt;dewasa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_966"&gt;Tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_967"&gt;punya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_968"&gt;nalar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_969"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_970"&gt;nurani&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_971"&gt;seharusnya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_972"&gt;Rasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_973"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_974"&gt;dihargai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_975"&gt;ketika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_976"&gt;amarahku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_977"&gt;cuma&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_978"&gt;menjadikanku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_979"&gt;layaknya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_980"&gt;sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_981"&gt;arca&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_982"&gt;diletakkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_983"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_984"&gt;depan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_985"&gt;candi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_986"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_987"&gt;berharga&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_988"&gt;Kekasihku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_989"&gt;kecewa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_990"&gt;Kekasihku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_991"&gt;nelangsa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_992"&gt;Kekasihku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_993"&gt;terlilit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_994"&gt;derita&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_995"&gt;Rasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_996"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_997"&gt;dihargai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_998"&gt;sebagai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_999"&gt;manusia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1000"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1001"&gt;wanita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1002"&gt;seutuhnya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1003"&gt;Mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1004"&gt;saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1005"&gt;itu&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1006"&gt;ia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1007"&gt;rasa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1008"&gt;Ketika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1009"&gt;jarak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1010"&gt;telah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1011"&gt;memisahkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1012"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1013"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1014"&gt;secara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1015"&gt;nyata&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1016"&gt;Dekat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1017"&gt;tapi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1018"&gt;tanpa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1019"&gt;sua&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1020"&gt;Tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1021"&gt;jauh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1022"&gt;tapi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1023"&gt;seakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1024"&gt;dipisah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1025"&gt;ribuan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1026"&gt;pulau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1027"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1028"&gt;bernyawa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1029"&gt;Ketika&lt;/span&gt; diam &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1030"&gt;lebih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1031"&gt;berkuasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1032"&gt;didiriku&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1033"&gt;kekanakkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1034"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1035"&gt;penuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1036"&gt;cela&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1037"&gt;Apa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1038"&gt;mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1039"&gt;cinta&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1040"&gt;memang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1041"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1042"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1043"&gt;ada&lt;/span&gt;? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1044"&gt;Atau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1045"&gt;cinta&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1046"&gt;akhirnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1047"&gt;terkulai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1048"&gt;layu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1049"&gt;meski&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1050"&gt;awalnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1051"&gt;bersemi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1052"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1053"&gt;indah&lt;/span&gt;? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1054"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1055"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1056"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1057"&gt;berujar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1058"&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1059"&gt;bahkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1060"&gt;iya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1061"&gt;Mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1062"&gt;cinta&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1063"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1064"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1065"&gt;redup&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1066"&gt;Perlahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1067"&gt;dihantam&lt;/span&gt; ego &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1068"&gt;semata&lt;/span&gt;. Ego &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1069"&gt;sebagai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1070"&gt;seorang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1071"&gt;pria&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1072"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1073"&gt;punya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1074"&gt;harta&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1075"&gt;lebih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1076"&gt;berharga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1077"&gt;selain&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1078"&gt;pendamping&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1079"&gt;hidupnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1080"&gt;kelak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1081"&gt;semata&lt;/span&gt;. Ego &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1082"&gt;seorang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1083"&gt;lelaki&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1084"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1085"&gt;butuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1086"&gt;dihargai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1087"&gt;tanpa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1088"&gt;perlu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1089"&gt;dicaci&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1090"&gt;atas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1091"&gt;titahnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1092"&gt;kepada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1093"&gt;wanita&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1094"&gt;menjadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1095"&gt;tanggungjawabnya&lt;/span&gt;. Ego &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1096"&gt;seorang&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1097"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1098"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1099"&gt;merasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1100"&gt;sedih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1101"&gt;ketika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1102"&gt;ucap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1103"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1104"&gt;katanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1105"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1106"&gt;mampu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1107"&gt;menjadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1108"&gt;sesuatu&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1109"&gt;berarti&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1110"&gt;Hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1111"&gt;melenggak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1112"&gt;gemulai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1113"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1114"&gt;telinga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1115"&gt;kanan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1116"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1117"&gt;sesaat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1118"&gt;kemudian&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1119"&gt;melenggok&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1120"&gt;santai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1121"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1122"&gt;telinga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1123"&gt;kiri&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1124"&gt;Mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1125"&gt;jadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1126"&gt;apa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1127"&gt;nantinya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1128"&gt;kalo&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1129"&gt;kalimatku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1130"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1131"&gt;punya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1132"&gt;nilai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1133"&gt;apa&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1134"&gt;apa&lt;/span&gt;? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1135"&gt;Mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1136"&gt;berakhir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1137"&gt;seperti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1138"&gt;apa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1139"&gt;ketika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1140"&gt;inginku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1141"&gt;cuma&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1142"&gt;terlihat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1143"&gt;seperti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1144"&gt;tuntutan&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1145"&gt;terlalu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1146"&gt;mengada&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1147"&gt;ada&lt;/span&gt;? &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1148"&gt;Mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1149"&gt;dibawa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1150"&gt;kemana&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1151"&gt;perahu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1152"&gt;cinta&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1153"&gt;kita&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1154"&gt;ketika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1155"&gt;ada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1156"&gt;dua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1157"&gt;nahkoda&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1158"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1159"&gt;dalamnya&lt;/span&gt;?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1160"&gt;Gilang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1161"&gt;makin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1162"&gt;terkunci&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1163"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1164"&gt;sunyi&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1165"&gt;Galang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1166"&gt;makin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1167"&gt;menari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1168"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1169"&gt;sedih&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1170"&gt;Mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1171"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1172"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1173"&gt;secuil&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1174"&gt;perasaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1175"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1176"&gt;penting&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1177"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1178"&gt;rasa&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1179"&gt;Mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1180"&gt;ia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1181"&gt;merasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1182"&gt;rasa&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1183"&gt;jauh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1184"&gt;lebih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1185"&gt;menyedihkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1186"&gt;bahkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1187"&gt;mengecewakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1188"&gt;dari&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1189"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1190"&gt;punya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1191"&gt;Mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1192"&gt;aku&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1193"&gt;jahanam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1194"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1195"&gt;dia&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1196"&gt;mulia&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1197"&gt;Mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1198"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1199"&gt;si&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1200"&gt;buruk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1201"&gt;rupa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1202"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1203"&gt;dia&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1204"&gt;mempesona&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1205"&gt;bentuknya&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1206"&gt;Mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1207"&gt;memang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1208"&gt;sepenuhnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1209"&gt;aku&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1210"&gt;salah&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1211"&gt;Tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1212"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1213"&gt;mencintai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1214"&gt;kekasihku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1215"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1216"&gt;cara&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1217"&gt;sempurna&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1218"&gt;Mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1219"&gt;memang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1220"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1221"&gt;adanya&lt;/span&gt;. Dan &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1222"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1223"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1224"&gt;berharap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1225"&gt;ia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1226"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1227"&gt;membenciku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1228"&gt;karena&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1229"&gt;kelemahanku&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1230"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1231"&gt;terhingga&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1232"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1233"&gt;harap&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1234"&gt;ia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1235"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1236"&gt;membenciku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1237"&gt;karena&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1238"&gt;itu&lt;/span&gt;..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1239"&gt;Gilang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1240"&gt;merasakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1241"&gt;sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1242"&gt;kehilangan&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1243"&gt;sangat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1244"&gt;datang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1245"&gt;dari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1246"&gt;hati&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1247"&gt;sahabatnya&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1248"&gt;Hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1249"&gt;saja&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1250"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1251"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1252"&gt;manusia&lt;/span&gt;. Yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1253"&gt;punya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1254"&gt;rasa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1255"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1256"&gt;ingin&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1257"&gt;menggelora&lt;/span&gt;. Yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1258"&gt;memiliki&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1259"&gt;hasrat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1260"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1261"&gt;membuatnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1262"&gt;selalu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1263"&gt;bahagia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1264"&gt;meski&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1265"&gt;hasilnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1266"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1267"&gt;seindah&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1268"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1269"&gt;kira&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1270"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1271"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1272"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1273"&gt;mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1274"&gt;membuatnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1275"&gt;bersedih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1276"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1277"&gt;menjalani&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1278"&gt;hari&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1279"&gt;Terkukung&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1280"&gt;dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1281"&gt;kekangan&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1282"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1283"&gt;mesti&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1284"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1285"&gt;ingin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1286"&gt;dia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1287"&gt;bahagia&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1288"&gt;Meski&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1289"&gt;tanpa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1290"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1291"&gt;kini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1292"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1293"&gt;sampingnya&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1294"&gt;Andai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1295"&gt;saja&lt;/span&gt;..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1296"&gt;Terdiam&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1297"&gt;Termenung&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1298"&gt;Andai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1299"&gt;saja&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1300"&gt;wanitaku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1301"&gt;mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1302"&gt;tuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1303"&gt;belajar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1304"&gt;mencintai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1305"&gt;dirinya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1306"&gt;sepenuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1307"&gt;hati&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1308"&gt;maka&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1309"&gt;akupun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1310"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1311"&gt;belajar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1312"&gt;mencintainya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1313"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1314"&gt;sebenarnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1315"&gt;hati&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1316"&gt;Andai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1317"&gt;saja&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1318"&gt;perempuanku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1319"&gt;mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1320"&gt;mencoba&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1321"&gt;menyayangi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1322"&gt;seluruh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1323"&gt;harta&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1324"&gt;ia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1325"&gt;miliki&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1326"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1327"&gt;juga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1328"&gt;kan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1329"&gt;berusah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1330"&gt;merawat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1331"&gt;cintaku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1332"&gt;padanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1333"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1334"&gt;cara&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1335"&gt;hakiki&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1336"&gt;Andai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1337"&gt;saja&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1338"&gt;ia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1339"&gt;mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1340"&gt;belajar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1341"&gt;untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1342"&gt;menghargai&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1343"&gt;Aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1344"&gt;mungkin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1345"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1346"&gt;hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1347"&gt;menganggapnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1348"&gt;seorang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1349"&gt;permaisuri&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1350"&gt;seperti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1351"&gt;saat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1352"&gt;bertemu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1353"&gt;dengannya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1354"&gt;pertama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1355"&gt;kali&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1356"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1357"&gt;hingga&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1358"&gt;kini&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1359"&gt;Andai&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1360"&gt;ia&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1361"&gt;mau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1362"&gt;melakukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1363"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1364"&gt;semua&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1365"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1366"&gt;sepenuh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1367"&gt;jiwa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1368"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1369"&gt;hati&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1370"&gt;aku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1371"&gt;pasti&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1372"&gt;telah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1373"&gt;menjadikannya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1374"&gt;seorang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1375"&gt;bidadari&lt;/span&gt;..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1376"&gt;Gilang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1377"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1378"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1379"&gt;mengeluarkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1380"&gt;kata&lt;/span&gt;. Karena &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1381"&gt;Galang&lt;/span&gt; pun &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1382"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1383"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1384"&gt;memiliki&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1385"&gt;kata&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1386"&gt;Gilang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1387"&gt;sadari&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1388"&gt;satu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1389"&gt;hal&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1390"&gt;sudah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1391"&gt;Galang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1392"&gt;sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1393"&gt;kehilangan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1394"&gt;sebuah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1395"&gt;cinta&lt;/span&gt;..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta. 30 Juli 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4971337886422269484-1844162294250321683?l=badutampan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://badutampan.blogspot.com/feeds/1844162294250321683/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/10/it-takes-two-tango.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/1844162294250321683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4971337886422269484/posts/default/1844162294250321683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://badutampan.blogspot.com/2007/10/it-takes-two-tango.html' title='IT TAKE&apos;S TWO TANGO'/><author><name>wendotz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03957296986566733654</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_Y0bPXUeP_Uo/S0BJmkIR2MI/AAAAAAAAAHw/GAX8evwNfW4/S220/spiderman.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
