Mellow Attack

Hihihihi..

Gak pernah terbersit kalo pada akhirnya ada orang yang mau baca tulisan-tulisan gue yang gak berbobot ini. Gue hanya sebatas menulis apa yang gue mau dan gue pikirkan. gak lebih, gak kurang. Mood merangkai kata yang gue punya lebih sering bikin gue terdiam di satu titik dan gak berbuat apa-apa. Malas menuliskan apa yang gue rasa dan gue punya selama ini. So many story to tell, tapi tetep aja, so little time to share..

Hidup gue belakangan ini emang lagi melow-melownya. Bawaan dari orok kali. Atau jangan-jangan tanpa gue sadari, dalam perut nyokap gue, gue udah sering banget ngerasa melow. Murung, sedih, and terpaku sendiri. Hihihihi.. Lebay gila.
Tapi gak mengapa lah. Gue tetep mensyukuri apa yg gue punya. Rasa ini gak semua orang bisa punya. Terlebih lagi ketika orang itu udah mati rasa.

Sebenernya kalo disuruh memilih, gue gak mau terus-terusan melow gak jelas gini. Tapi apa mau dikata, terlalu banyak story yang bikin gue gak begitu menikmati hidup yang gue punya. Orang mungkin berpikir gue punya segalanya. Bisa mendapatkan segalanya. Tapi ternyata mereka salah. Luar gue gak selamanya mencerminkan isinya. Gue ternyata tetap manusia biasa yang bisa juga merasa sedih dan kecewa. Meski pada akhirnya berlebihan, gue tetep mengganggap itu semua proses hidup belaka. Karena gue yakin, semua ada masanya. Ada waktunya..

Kegembiraan yang gue punya gak selamanya bikin gue tertawa. Begitupun dengan kesedihan yang kadang mendera. Gak selamanya buat gue menitikkan air mata. I'm just try to be balance in everything. Meski mungkin orang lain melihat sebaliknya.

Yang gue sesalkan, kenapa saat gue melow gue justru bisa menumpahkan semuanya. Mengalirkan kisah dalam bentuk kata. Menelurkan cerita dalam bentuk yang lebih nyata dan bisa dicerna. Sudah kodratnya begitu kali yah. Sama halnya ketika kita mengadu kepada Yang Maha Kuasa. Jarang banget dari kita bercerita kepada-NYA di saat kita sedang happy-happynya. Pasti saat sedih aja. Saat kecewa melanda. Saat gundah menyapa.

Shit banget deh. Liat aja. Gue padahal niatnya mau nulis santai dan gak terkesan rapih and teratur, ini malah kaya prosa banget. Jadi terkesan sok puitis. Huuufff.. Knapa sih gak semengalir penulis-penulis edan yang ada di jagat kata Indonesia atau dunia? Atau memang pola otak gue udah ter-mindset buat nulis model kaya gini. Hahahaha.. Gak ngerti lah. Intinya gue cuma pengen nulis aja. Mumpung otak gue mau berpikir sejenak, and jari-jari gue mau diajak kerjasama sesaat.

Seperti menulis diary, tapi inconditional. Artinya, gue nulis diary seenak jidat gue aja. Gak pernah ada cerita yang bener-bener spesial and somethin yang gue ceritakan di tulisan-tulisan gue. Ngeblur. Gak jelas. Flicker..

Seperti saat ini. Gue kembali melow dengan hidup gue. Boring dengan rutinitas gue. Jenuh dengan alur hidup gue. Gak bersyukur banget ya gue. Emang dasar si Wendi, tak tau terimakasih. Hihihihi.. Gue terima aja deh kalo lo semua bilang gitu. Emang kenyataannya gue begitu. Kelebihan yang gue punya tertutup semua oleh kekurangan yang jumlahnya kecil adanya. Damn! I'm not good at all.

Gue kembali diserang melow..
Gimana enggak coba..
Di saat kedua sohib seperjuangan gue sedang asyik-asyiknya menggendong dan menghibur baby mereka, gue masih aja asyik dengan kesendirian gue. Di saat kedua teman gue dengan binarnya menceritakan buah hati mereka, gue malah sedang takut-takutnya mencari calon ibu buat buah hati gue. Hehehe.. Ironis. Miris. Hati gue seakan teriris tipis-tipis. Apalagi ketika banyak mulut mempertanyakan kesendirian gue. Mempertanyakan keeksistensian gue sebagai seorang pria. Hahahaha.. Gue gak menyalakan juga ketika akhirnya orang-orang mempertanyakn kejantanan gue..

Habis apa mau dikata? Gue selalu berusaha. Tapi waktu selalu berkata beda. Gue terus mencari cinta, tapi parno terus juga menghantui tiap langkah yang gue punya. Ketakutan untuk berkomitmen. Ketakutan akan mengalami kekalahan dan kesalahan yang sama. Ketakutan untuk kembali melukai hati wanita yang gue puja. Ketakutan ini. Ketakutan itu. Dan semua ketakutan itu malah menggiring gue ke dalam kebuntuan yang permanen.

Apa iya gue terlalu pemilih? Apa iya gue terlalu menginginkan kesempurnaan yang gak ada sama sekali di dunia ini? Apa iya gue memang tak layak punya hati tuk dibagi? Atau mungkin memang gue tipikal orang yang bener-bener gak tahu diri? Hihihihi..
Sepertinya pertanyaan terakhir sudah cukup mewakili..

Cukup banyak kisah yang gue alami dan orang lain gak akan pernah bisa pahami. Gak memaksa juga buat ngerti. Toh, gue yang menjalani.
Kalopun gue masih sendiri dan masih terus mencari, gue yakin memang ini yang harus gue hadapi. Gak mau kecewa di kemudian hari. Gak mau terlambat menyesali apa yang telah terjadi. Gak mau patah hati dan bersedih lagi..

Gue mungkin akan selalu jadi orang yang melow sampai saatnya nanti.
Tapi gue sangat menikmati. Karena menurut gue, itu sebuah hal yang manusiawi.
Dan itu juga yang akan membuat gue selalu rajin untuk tetap merajut mimpi.
Agar cinta sejati gak cuma asa semu di hati..

Jadi..
Biarkan saja melow ini menyerangku..

Jakarta.14maret2009

Sepi Ini Membunuhku

Entah apa yang ada dibenak gue sekarang. Di tengah kesendirian gue yang menyebalkan ini. Banyak teman tapi kadang sering merasa tak nyaman. Banyak kawan tapi sering merasa kesepian. Berusaha untuk gak cengeng tapi kenyataannya gue gak lebih dari seorang manusia biasa yang bisa juga melenceng. Melenceng dari sikap yang semestinya. Sesuai dengan usia yang gue punya. Hahahaha..

Film Alexandria masih bergulir dengan kisah cinta segitiganya. Gue gak juga bisa menikmati sepenuhnya di layar kaca. Serasa sebagian jiwa gue terbang entah kemana. Seperti status YM gue saat ini, “Searching the Missing Soul”. Mencari tapi tak mencari. Menunggu tapi tak menunggu. Gue membiarkan diri gue tersiksa secara perlahan. Mencoba menikmati semuanya.

Gue kadang bertanya dalam hati, siapa yang akhirnya mampu membunuh sepi yang siap membunuhku. Siapa wanita yang akhirnya bisa membuat gue bahagia sepenuhnya. Menemani gue yang sebenarnya jauh dari sempurna.

Tadi siang gue jalan bareng Ranger Pink. Someone yang pernah mengisi hari-hari gue dulu dengan indahnya. Meski tak pernah bersatu, gue selalu merasa senang gue pernah mengenal dan dekat dengannya secara hati. Hihihihi... Bukan hal yang berlebihan sih. Gue kadang suka tertawa sendiri mengingat bagaimana kita berhubungan. Bagai minyak dan air. Gak pernah bisa jadi satu. Entah apa cerita sesungguhnya yang digulirkan dalam hubungan kita berdua. Gak tau bagaimana endingnya nanti. Just wait and see..

Back to the jalan-jalan bareng dia ke Ambasador Kuningan.
Rencananya memang udah dari hari Selasa, tepatnya pas gue memaksakan diri untuk jalan ke Gading Mall untuk cari jam tangan yang gue mau, Casio G-Shock. Old fashion banget sih. Tapi entah kenapa gue lagi pengen banget tuh jam. Apa mungkin karena gue tiba-tiba melihat Narji membelinya dan memakainya. Di dia aja keliatan bagus, apalagi di gue. Itu kali bisikan setan yang waktu itu menggerogoti otak gue. Hahahaha.. kaya anak kecil banget emang. Tapi ya udahlah. Gue emang gitu koq. Sering membeli sesuatu untuk alasan yang gak penting and gak masuk akal. Superduperboros. Dan ditemenin Agus gue kelilingin Gading yang berakhir dengan nothing. Gak dapet apa yang gue mau. Saat itulah gue bikin janjian buat nyari barang yang gue mau di Ambasador ditemenin Ranger Pink.

Janji jam 1 siang, tapi endingnya tetap aja baru take off jam setengah 3 dari flatnya dia. Padahal gue jujur sempet ragu bisa bangun sesuai jadwal apa nggak. Secara Rabu malamnya gue nekat jalan ke Kemang bareng temen-temen Bajaj, sehabis bikin pesta kejutan kecil buat ulang tahun Paman, panggilan sehari-hari gue dan yang lainnya buat Manajer gue. Minta dibangunin jam 12 siang. Gue langsung bersiap-siap. Agak lama gue memutuskan pakaian mana yang gue kenakan siang tadi. Kayak orang mau kencan aja. padahal cuma mau nyari jam and softcase buat si Putih. Mungkin karena gue juga bukan tipikal yang pedean kalo make sesuatu. Gue memilih pakain yang sesimpel mungkin, and yang terpenting bikin gue nyaman. Thanks to Sapri, the guy yang jagain kantor gue, gue memutuskan memakai jeans Frontline yang gue punya plus kaos Yodium dengan design kesukaan gue pada akhirnya. Gue terpaksa jemput Ranger Pink pake Taksi, secara mobil gue dibawa lagi ke bengkel setelah hari sebelumnya udah di servis di bengkel yang sama. Ketidaknyamanan yang gue alamin saat mengendarai si Vitara, membuat si Sam, asisten gue, kembali bersusah payah membawanya ke bengkel. Maaf yah, Sam. Gak ada maksud bikin lo terpaksa nunggu lama lagi mengawasi perbaikan si Vitara.

Gue cabut dari posko (Cagur Office_red) sekitar jam 2an. Padahal gue janji jam setengah 2, atau paling lambat jam 2 udah sampe flatnya Ranger Pink yang ada di daerah Tebet. Maklumlah, gue masih orang Indonesia asli, makanya urat ngaret gue masih agak kentel nempel di badan gue. Tapi ternyata ada yang lebih kentel Indonesianya daripada gue. Siapa lagi kalo bukan Ranger Pink. Karena begitu gue udah sampe flatnya pun, dia belum sepenuhnya siap. Hahahahaha.. Itulah susahnya jadi cewe. Terlalu banyak urusannya, ya mandi lama lah, ya ngeringin rambut lama lah, ya dandan lama lah. Gue akhirnya harus turun dari taksi dan meminta pak Sopir untuk menunggu gue sementara gue menjemput Ranger di kamarnya.

Setibanya kita di Ambasador, kita langsung hunting barang yang kita cari. Gue terutama. First destination, Softcase buat si Putih! Setelah keliling beberapa toko akhirnya gue mendapatkan yang gue mau. Softcase semikulit kotak-kotak berwarna putih. Harganya ternyata gak terlalu mahal, cuma 100 ribu dikurang seceng, alias 99.000 saja. Lebih lucunya, Ranger malah dapet duluan hardcase buat laptopnya. Warna Pink, sesuai dengan warna kesukaannya. Hahahaha.. setelah gue membayar sejumlah uang buat softcase dilanjut pembersih layar laptop gue, gue akhirnya memutuskan pindah halua n ke ITC.
Next destination, Casio Watch! Langsung di toko jam pertama yang kita datengin akhirnya gue mendapatkan jam yang gue mau. Dengan harga yang pas juga dan tentunya setelah gue konsultasi dengan Mama Ranger, saudaranya Mama Lauren. Gue juga sempet membeli jam satu lagi buat kado ultah Manajer gue. Selesai itu, gue dan Ranger Pink memutuskan untuk makan di foodcourt yang ada di ITC Kuningan. Cukup puas makan di situ. Gimana nggak, lah wong perut gue belum kebelai nasi dari gue bangun tidur. Hehehehehe.. Lapernya emang dahsyat sih. Gue juga gak mau maksain gak makan, takut maag gue kambuh lagi and nyiksa gue nantinya.

Sebelum balik gue sempet mampir ke All New Digital, tempat langganan gue kalo mau beli gadget. Kita ke toko yang mayoritas menjual kamera dan segala aksesorisnya itu untuk mancari pesanan memory card buat pocket camera cowo yang lagi deket sama si Ranger. Wuiiihhh.. Ada sedikit rasa gak terima di sana. Tapi mau gimana lagi, gue gak mau jadi cowo yang egois lagi buat siapapun, termasuk dia. Udah saatnya kita berdua emang bener-bener dewasa dan menerima kondisi yang ada dengan mata yang nyata. Sampai di taksi menuju perjalanan pulang pun gue masih asyik ngegodain Ranger Pink. Kita berdua hanya bisa ketawa menikmati canda kita yang nyerempet-nyerempet asmara antara kita dan masing-masing orang yang deket dengan kita. Kaya anak kecil aja! tapi memang itu yang terjadi sesungguhnya.
Gue gak sampai mengantar Ranger sampai ke kamarnya lagi ketika Taksi yang kita duduki tiba di depan flatnya. Kita masih saling menggoda satusama lain sebelum akhirnya bener-bener berpisah dan taksi kembali membelah jalan Jakarta menuju basecamp Cagur tercinta.

Dan kesepian itu bener-bener menyiksa ketika gue kembali sendiri di tengah belantara kota. Sepanjang perjalanan gue termenung, meski sesekali gue membuka obrolan dengan Sopir taksi asal Cimahi bernama Yayat yang ternyata ngefans sama gue itu. Ceileeeee.. Ngefans! Kipas angin, pak? Hahahahaha... Doi emang ngefans sama gue, terbukti di tengah kemacetan jalan dia sempet-sempetnya minta foto bareng gue pake handphonenya. Oleh-oleh buat istrinya yang ternyata menyukai Cagur juga katanya. Gue seneng banget. Paling nggak, meski sedikit, masih ada orang yang menghargai jerih payah gue dan kedua teman gue untuk membuat sebagian masyarakat Indonesia tersenyum.

Dan kesepian pula yang membuat gue akhirnya memutuskan jalan lagi ke Gading. Niatnya mau beli tas laptop yang sempet gue liat selasa kemarin. Tapi seperti kata gue di awal, nyatanya nafsu duniawi gue malah membuat gue mengurungkan niat gue membeli tas itu. Sebagai tumbalnya, gue malah nekat membeli jam tangan Ripcurl hitam seharga titik-titik rupiah, sebuah sabuk Ripcurl dan sebuah tas kecil Quicksilver buat nyimpan jam-jam tangan gue yang berceceran gak karuan. Arrrggghhh.. Pemborosan! Sekali lagi, itulah jeleknya gue. Kadang ketika gue sampe pada titik ke’bete’an yang kronis, gue lebih memilih untuk jalan sendiri. Entah ke mall atau ke tempat yang gue mau, cuma buat ngusir kesepian gue. Mau minta ditemenin sama temen cewe, gue takutnya malah salah sangka. Takut terkesan ngasih harapan. Lebay banget yah gue.. Hahahahahaha..

Selepas dari Gading, gue langsung balik ke basecamp. Berharap bisa nonton FTV di SCTV yang ceritanya sering membuat gue melupakan yang namanya kesendirian. Tapi sayang, harapan gue gak terkabul. Kamis malam saatnya Sinetron Live Action ternyata. Dan gue gak begitu tertarik untuk mengikutinya.
Gue langsung meringkuk di kamar. Tertindih rasa sepi lagi. Memikirkan nasib cinta gue yang masih aja belum jelas sampai detik ini.

“Terpenjara sepi, kunikmati sendiri..” seperti single Basisnya Jikustik yang sempet ngetop dulu, mungkin itu yang terjadi sama diri gue saat ini. Gue gak bisa membohongi diri gue sendiri, ketika pada akhirnya gue lebih sering merasa benar-benar sendiri akhir-akhir ini. Untuk mendekati lawan jenis yang coba disodorkan teman-teman terdekat gue demi membantu gue belum berani gue lakonin. Rasa minder dan ketakutan yang sangat akan sebuah kegagalan membuat gue lebih memilih tersiksa dengan kondisi yang ada. Yup.. Gue memang sangat berusaha untuk menikmati setiap detik yang ada dengan cara yang gue punya. Gue gak peduli orang mau bilang apa. Karena kadang mereka sendiri gak peduli dengan apa yang gue rasa.

Ketika tiga jari yang gue gunakan untuk menulis cerita ini masih bekerja, kehampaan yang gue punya juga makin bikin gue jadi gundah gulana. Tapi apa mau dikata, mungkin kini memang belum saatnya gue mendapatkan seseorang yang bisa gue puja dengan segenap asa. Gue mungkin memang harus pasrah menerima semua dengan lapang dada. Mau marah juga percuma. Sama siapa pula gue harus menumpahkan semuanya. Gak ada! Gue gak mau mengadu sama Allah, karena mungkin dia sudah malas menghadapi gue yang samasekali gak pernah mau mengikuti ajarannya dengan sempurna. Ya.. gue memang hanya manusia biasa. Lelaki berambut gimbal biasa yang harus membiasakan diri dengan hidup tanpa seorang terkasih di sisinya. Menjalani semuanya dengan harap cemas. Menanti semuanya menjadi jauh lebih jelas. Dalam rentetan waktu tanpa batas dan balutan cerita yang tak kunjung tuntas.

Mati satu tumbuh seribu katanya. Tapi itu ternyata cuma isapan jempol belaka. Buat gue mati satu malah membuat gue makin ragu untuk mencari cinta yang baru. Gue takut akan kembali kalah dan mengalah. Gue takut akan kembali disakiti tapi divonis sebagai yang menyakiti. Walau jujur gue akui gue tipikal yang gampang menyukai, tapi bukan berarti gue akan mudah untuk menyayangi. Buat gue, semua tetep butuh proses dan butuh hadirnya “sparkling” dalam hati. Bukan asal dekat lalu saling mengakui dan menjalani.

Sudahlah..
Jalani saja dan nikmati semua yang terjadi. Gue gak mau terus-terusan jadi basi dan mengasihani diri. Gue tetep yakin gue pasti menemukan “dia” suatu hari nanti. Yang akan merubah semuanya jadi lebih berarti. Yang akan membawa gue ke jalan hidup yang lebih hakiki. Meski gue sendiri tak mengerti kapan saat itu akan benar-benar datang menghampiri.

Biarkan saja sepi ini membunuhku...


Timur Jakarta.5 Desember 2008. 03:31 Pagi

Like Kakek Like Cucu

Jum’at sore. Sebelum Jum'at malam..

Langit lagi gelap-gelapnya. Belum bayar listrik kali tuh langit, makanya gelap. Dan gue jadi penunggu keluarga gue lagi pada main air di Ocean Park, wahana air yang ada di Bumi Serpong Damai. Sedih juga sih gak ikutan nyebur. Tapi daripada badan gue makin ngedrop and jatuhnya malah sakit, gue memilih jadi penjaga pantai aja deh. Kali ini tugasnya agak ringan dikit. Bukan ngawasin orang yang lagi berenang, tapi ngawasin tas and barang-barang keluarga gue. Hehehehehe..

Gue kebetulan lagi libur. Dan kebetulan juga kakek gue tercinta lagi pengen jalan-jalan bareng keluarga. Minus bokap gue yang emang males kemana-mana. Udah habbitnya dia yang orang rumahan. Susah banget buat dipaksa keluar rumah. Bahkan untuk ke dokter sekalipun untuk sekedar ngecek kesehatannya dia. Mmm.. What a father. One in million. Hehehehe.. Whatever lah! yang terpenting kakek gue seneng. Gak ada angin gak ada kentut, tiba-tiba kakek gue pengen banget holiday. Dengan gayanya yang sok imut dia minta and merajuk. Mirip banget anak kecil yang minta dibeliin permen lolipop. Itulah kakek gue. The one and only.

Sekarang gue lagi makan di Kampoeng Aer. Depan Rumah Sakit Omni Bumi Serpong Damai. Tempat gue pernah cek in selama empat hari beberapa bulan yang lalu. Nyambung kebersamaan gue dan keluarga gue dari Ocean Park. Mumpung lagi bareng kaya gini. Secara kakek gue lagi ngidam makan sop buntut juga. Orang tua yang lucu. Gak pernah berhenti bikin gue tersenyum dengan tingkahnya yang kekanak-kanakkan. Waktu foto bareng di Ocean Park aja dia bergaya yang gak kalah sama cucu-cucunya. Serasa bergaul sama anak imut bertampang kisut.

Makanan baru aja datang. Pasti enak banget deh. Secara, makanan Indonesia. Bukan sekelas Pizza and the others. Lesehan pula. Emang gue suka juga sama suasana tempat makan kaya gini. Ada viewnya, gak sekedar tembok, lapu dan kaca.

Kebersamaan yang mengasyikkan. Jarang-jarang jug ague kayak gini. Secara kerjaan gue bener-bene menuntut gue buat ekstra time and tenaga. Alhasil, waktu gue buat keluarga gue tercinta masih sangat minim banget. Gak apalah. Gue lebih memilih kualitas, ketimbang kuantitas. Jarang ngumpulm tapi sekalinya ngumpul seneng. Ketimbang sering bareng tapi berantem mulu. Hahahaha..

Main di Ocean Parknya gak lama. Cuma dua jam aja. Secara hujan juga. Gue aja gak bisa berteduh di bawah atap. Airnya mengenai semua barang bawaan kita. Termasuk si Putih, notebook gue tercinta. Makanya tadi sempet terhenti menulisnya. Daripada si Putih kena flu and demam gara-gara kehujanan. Kasihan kan, secara gue belum mau si Putih dirawat Cuma gara-gara kehujanan. Mahal pasti biayanya. Secara gue gak mau keluar banyak uang dulu. Yang ada tar gue gak bias beli rumah and nikah tahun depan. Hahahahaha…

Gue makan ayam baker and tahu goreng isi plus cah kangkung terasi. Enaaaak banget. Gimana gak enak coba, secara gue belum makan siang juga. Mana kepala gue pusing tujuh keliling. Gak tau kenapa. Apa karena perut gue belum keisi makanan yang layak. Hahahaha.. Atau mungkin karena gue abis keramas tadi siang. Dan biasanya kepala gue pasti pusing kalo kena hair dryer. Karena alasan itu juga gue males berenang tadi. Males keramas and ngeringin rambutnya lagi. Yang ada nanti kepala gue bias pecah sendiri. Hihihihihi..

Gue baru aja telepon si Vina. Pramugari Lion Air yang pernah deket ma gue. Udah lama juga sih semenjak terakhir kita ketemu. Udah hampir setahun yang lalu. Hubungan yang aneh. Gue deket sama dia, beberapa kali jalan bareng sama gue and keluarga gue. Tapi entah kenapa gue gak pernah ngerasa ada sparkling saat bareng dia. Padahal gue udah usaha untuk mencintai dia, tapi entah mengapa gak pernah bisa. Aneh, karena justru nyokap gue udah jatuh cinta sama dia. Cuma karena hal simple, nyokap gue merasa sangat dihargai ketika si Vina membukakan pintu mobil buat nyokap gue ketika beberapa waktu lalu kita karaokean di Happy Puppies BSD Juction. Bahkan keesokan paginya, Nyokap gue bilang kalo gue bakal jodoh sama dia. Lucu banget. Mistis banget. Secara nyokap gue tiba-tiba ngungkapin itu ke gue tanpa ada sebab yang jelas juga. Cuma karena keramahan dan ketulusan yang dia kasih ke nyokap gue, yang membuat nyokap gue jatuh cinta sama dia. Padahal mereka baru sekali ketemu juga. Love at the first sight maybe.

Dan ternyata dia gak terbang hari ini. Mmm.. Tau gitu gue ajak dia juga! Emang belum jodoh kali. Padahal dia tadi gak ngapa-ngapain juga. Pas gue mau mulai makan, dia baru balik dari muter-muter keliling kompleksnya naik motor yang dia punya. Aaarrrrrggghh.. Sungguh aneh, tapi nyata. Entah apa artinya ini. Sama halnya ketika seminggu yang lalu ketika gue mau sms dia untuk sekedar menanyakan kabarnya, dia malah duluan sms gue. Ketakutan sih guenya. Takut dia bilang gue hubungin dia pas ada maunya atau pas lagi buth temen aja, makanya gue mengurungkan niat gue buat mengirim pesan Ucok Baba (pesan pendek_red) ke si Vina.

Ya sudah lah. Semua udah digariskan juga. Gue mah tinggal ngikutin skenarionya Allah SWT. Mau ngarep juga nantinya malah sakit hati. Mau ngasih harapan ke dia juga yang ada dianya nanti malah sakit hati. Gak mau ah! Cukup udah nyakitin dianya. Cukup juga ngebahas dia.

Back to my family.
Makan udah selesai. Tinggal pulang and tidur. Bayar dulu sih pastinya. Hehehehe.. Jangan sampe gue sekeluarga dimasukin ke rumah bergaris besi hanya karena lupa bayar. Hahahahaha..

Udahan dulu ceritanya. Gue mau cabut. Udah kenyang, tinggal tidur dengan kaki mengangkang. Hahahahaha.. seperlima hari yang menyenangkan. Meski gue gak ikutan berenang. Dan lebih senengnya lagi, gue bayar billnya dibantuin kakek gue tersayang. Maklum, dia lagi banyak duit. Abis jual rumah and tanah terakhir yang dia punya.

See u again in next story. Ngomong-ngomong, kakek gue tiba-tiba ngebakar rokok gue and menghisapnya dengan gaya. Di saat cucunya yang lain kaget dan melarangnya, dia dengan santai hanya menjawab, "Iseng aja, ngehargain Wendi juga...". Gak nyambung banget jawabannya. Dan dia pun tetap menghisap habis rokoknya dan hanya menyisakan sedikit sebelum akhirnya benar-benar bangun and melangkah perlahan menuju mobil kita. Hahahahahahaha.. what a grandpa of the world.. love u grandpa. Kakek. Engkong.. semoga gue bias menikah dengan disaksikan dirimu.
Amiiiiiinnnn…


Kampoeng Aer. 28 November 2008.