Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Mellow Attack

Hihihihi..

Gak pernah terbersit kalo pada akhirnya ada orang yang mau baca tulisan-tulisan gue yang gak berbobot ini. Gue hanya sebatas menulis apa yang gue mau dan gue pikirkan. gak lebih, gak kurang. Mood merangkai kata yang gue punya lebih sering bikin gue terdiam di satu titik dan gak berbuat apa-apa. Malas menuliskan apa yang gue rasa dan gue punya selama ini. So many story to tell, tapi tetep aja, so little time to share..

Hidup gue belakangan ini emang lagi melow-melownya. Bawaan dari orok kali. Atau jangan-jangan tanpa gue sadari, dalam perut nyokap gue, gue udah sering banget ngerasa melow. Murung, sedih, and terpaku sendiri. Hihihihi.. Lebay gila.
Tapi gak mengapa lah. Gue tetep mensyukuri apa yg gue punya. Rasa ini gak semua orang bisa punya. Terlebih lagi ketika orang itu udah mati rasa.

Sebenernya kalo disuruh memilih, gue gak mau terus-terusan melow gak jelas gini. Tapi apa mau dikata, terlalu banyak story yang bikin gue gak begitu menikmati hidup yang gue punya. Orang mungkin berpikir gue punya segalanya. Bisa mendapatkan segalanya. Tapi ternyata mereka salah. Luar gue gak selamanya mencerminkan isinya. Gue ternyata tetap manusia biasa yang bisa juga merasa sedih dan kecewa. Meski pada akhirnya berlebihan, gue tetep mengganggap itu semua proses hidup belaka. Karena gue yakin, semua ada masanya. Ada waktunya..

Kegembiraan yang gue punya gak selamanya bikin gue tertawa. Begitupun dengan kesedihan yang kadang mendera. Gak selamanya buat gue menitikkan air mata. I'm just try to be balance in everything. Meski mungkin orang lain melihat sebaliknya.

Yang gue sesalkan, kenapa saat gue melow gue justru bisa menumpahkan semuanya. Mengalirkan kisah dalam bentuk kata. Menelurkan cerita dalam bentuk yang lebih nyata dan bisa dicerna. Sudah kodratnya begitu kali yah. Sama halnya ketika kita mengadu kepada Yang Maha Kuasa. Jarang banget dari kita bercerita kepada-NYA di saat kita sedang happy-happynya. Pasti saat sedih aja. Saat kecewa melanda. Saat gundah menyapa.

Shit banget deh. Liat aja. Gue padahal niatnya mau nulis santai dan gak terkesan rapih and teratur, ini malah kaya prosa banget. Jadi terkesan sok puitis. Huuufff.. Knapa sih gak semengalir penulis-penulis edan yang ada di jagat kata Indonesia atau dunia? Atau memang pola otak gue udah ter-mindset buat nulis model kaya gini. Hahahaha.. Gak ngerti lah. Intinya gue cuma pengen nulis aja. Mumpung otak gue mau berpikir sejenak, and jari-jari gue mau diajak kerjasama sesaat.

Seperti menulis diary, tapi inconditional. Artinya, gue nulis diary seenak jidat gue aja. Gak pernah ada cerita yang bener-bener spesial and somethin yang gue ceritakan di tulisan-tulisan gue. Ngeblur. Gak jelas. Flicker..

Seperti saat ini. Gue kembali melow dengan hidup gue. Boring dengan rutinitas gue. Jenuh dengan alur hidup gue. Gak bersyukur banget ya gue. Emang dasar si Wendi, tak tau terimakasih. Hihihihi.. Gue terima aja deh kalo lo semua bilang gitu. Emang kenyataannya gue begitu. Kelebihan yang gue punya tertutup semua oleh kekurangan yang jumlahnya kecil adanya. Damn! I'm not good at all.

Gue kembali diserang melow..
Gimana enggak coba..
Di saat kedua sohib seperjuangan gue sedang asyik-asyiknya menggendong dan menghibur baby mereka, gue masih aja asyik dengan kesendirian gue. Di saat kedua teman gue dengan binarnya menceritakan buah hati mereka, gue malah sedang takut-takutnya mencari calon ibu buat buah hati gue. Hehehe.. Ironis. Miris. Hati gue seakan teriris tipis-tipis. Apalagi ketika banyak mulut mempertanyakan kesendirian gue. Mempertanyakan keeksistensian gue sebagai seorang pria. Hahahaha.. Gue gak menyalakan juga ketika akhirnya orang-orang mempertanyakn kejantanan gue..

Habis apa mau dikata? Gue selalu berusaha. Tapi waktu selalu berkata beda. Gue terus mencari cinta, tapi parno terus juga menghantui tiap langkah yang gue punya. Ketakutan untuk berkomitmen. Ketakutan akan mengalami kekalahan dan kesalahan yang sama. Ketakutan untuk kembali melukai hati wanita yang gue puja. Ketakutan ini. Ketakutan itu. Dan semua ketakutan itu malah menggiring gue ke dalam kebuntuan yang permanen.

Apa iya gue terlalu pemilih? Apa iya gue terlalu menginginkan kesempurnaan yang gak ada sama sekali di dunia ini? Apa iya gue memang tak layak punya hati tuk dibagi? Atau mungkin memang gue tipikal orang yang bener-bener gak tahu diri? Hihihihi..
Sepertinya pertanyaan terakhir sudah cukup mewakili..

Cukup banyak kisah yang gue alami dan orang lain gak akan pernah bisa pahami. Gak memaksa juga buat ngerti. Toh, gue yang menjalani.
Kalopun gue masih sendiri dan masih terus mencari, gue yakin memang ini yang harus gue hadapi. Gak mau kecewa di kemudian hari. Gak mau terlambat menyesali apa yang telah terjadi. Gak mau patah hati dan bersedih lagi..

Gue mungkin akan selalu jadi orang yang melow sampai saatnya nanti.
Tapi gue sangat menikmati. Karena menurut gue, itu sebuah hal yang manusiawi.
Dan itu juga yang akan membuat gue selalu rajin untuk tetap merajut mimpi.
Agar cinta sejati gak cuma asa semu di hati..

Jadi..
Biarkan saja melow ini menyerangku..

Jakarta.14maret2009

Sepi Ini Membunuhku

Entah apa yang ada dibenak gue sekarang. Di tengah kesendirian gue yang menyebalkan ini. Banyak teman tapi kadang sering merasa tak nyaman. Banyak kawan tapi sering merasa kesepian. Berusaha untuk gak cengeng tapi kenyataannya gue gak lebih dari seorang manusia biasa yang bisa juga melenceng. Melenceng dari sikap yang semestinya. Sesuai dengan usia yang gue punya. Hahahaha..

Film Alexandria masih bergulir dengan kisah cinta segitiganya. Gue gak juga bisa menikmati sepenuhnya di layar kaca. Serasa sebagian jiwa gue terbang entah kemana. Seperti status YM gue saat ini, “Searching the Missing Soul”. Mencari tapi tak mencari. Menunggu tapi tak menunggu. Gue membiarkan diri gue tersiksa secara perlahan. Mencoba menikmati semuanya.

Gue kadang bertanya dalam hati, siapa yang akhirnya mampu membunuh sepi yang siap membunuhku. Siapa wanita yang akhirnya bisa membuat gue bahagia sepenuhnya. Menemani gue yang sebenarnya jauh dari sempurna.

Tadi siang gue jalan bareng Ranger Pink. Someone yang pernah mengisi hari-hari gue dulu dengan indahnya. Meski tak pernah bersatu, gue selalu merasa senang gue pernah mengenal dan dekat dengannya secara hati. Hihihihi... Bukan hal yang berlebihan sih. Gue kadang suka tertawa sendiri mengingat bagaimana kita berhubungan. Bagai minyak dan air. Gak pernah bisa jadi satu. Entah apa cerita sesungguhnya yang digulirkan dalam hubungan kita berdua. Gak tau bagaimana endingnya nanti. Just wait and see..

Back to the jalan-jalan bareng dia ke Ambasador Kuningan.
Rencananya memang udah dari hari Selasa, tepatnya pas gue memaksakan diri untuk jalan ke Gading Mall untuk cari jam tangan yang gue mau, Casio G-Shock. Old fashion banget sih. Tapi entah kenapa gue lagi pengen banget tuh jam. Apa mungkin karena gue tiba-tiba melihat Narji membelinya dan memakainya. Di dia aja keliatan bagus, apalagi di gue. Itu kali bisikan setan yang waktu itu menggerogoti otak gue. Hahahaha.. kaya anak kecil banget emang. Tapi ya udahlah. Gue emang gitu koq. Sering membeli sesuatu untuk alasan yang gak penting and gak masuk akal. Superduperboros. Dan ditemenin Agus gue kelilingin Gading yang berakhir dengan nothing. Gak dapet apa yang gue mau. Saat itulah gue bikin janjian buat nyari barang yang gue mau di Ambasador ditemenin Ranger Pink.

Janji jam 1 siang, tapi endingnya tetap aja baru take off jam setengah 3 dari flatnya dia. Padahal gue jujur sempet ragu bisa bangun sesuai jadwal apa nggak. Secara Rabu malamnya gue nekat jalan ke Kemang bareng temen-temen Bajaj, sehabis bikin pesta kejutan kecil buat ulang tahun Paman, panggilan sehari-hari gue dan yang lainnya buat Manajer gue. Minta dibangunin jam 12 siang. Gue langsung bersiap-siap. Agak lama gue memutuskan pakaian mana yang gue kenakan siang tadi. Kayak orang mau kencan aja. padahal cuma mau nyari jam and softcase buat si Putih. Mungkin karena gue juga bukan tipikal yang pedean kalo make sesuatu. Gue memilih pakain yang sesimpel mungkin, and yang terpenting bikin gue nyaman. Thanks to Sapri, the guy yang jagain kantor gue, gue memutuskan memakai jeans Frontline yang gue punya plus kaos Yodium dengan design kesukaan gue pada akhirnya. Gue terpaksa jemput Ranger Pink pake Taksi, secara mobil gue dibawa lagi ke bengkel setelah hari sebelumnya udah di servis di bengkel yang sama. Ketidaknyamanan yang gue alamin saat mengendarai si Vitara, membuat si Sam, asisten gue, kembali bersusah payah membawanya ke bengkel. Maaf yah, Sam. Gak ada maksud bikin lo terpaksa nunggu lama lagi mengawasi perbaikan si Vitara.

Gue cabut dari posko (Cagur Office_red) sekitar jam 2an. Padahal gue janji jam setengah 2, atau paling lambat jam 2 udah sampe flatnya Ranger Pink yang ada di daerah Tebet. Maklumlah, gue masih orang Indonesia asli, makanya urat ngaret gue masih agak kentel nempel di badan gue. Tapi ternyata ada yang lebih kentel Indonesianya daripada gue. Siapa lagi kalo bukan Ranger Pink. Karena begitu gue udah sampe flatnya pun, dia belum sepenuhnya siap. Hahahahaha.. Itulah susahnya jadi cewe. Terlalu banyak urusannya, ya mandi lama lah, ya ngeringin rambut lama lah, ya dandan lama lah. Gue akhirnya harus turun dari taksi dan meminta pak Sopir untuk menunggu gue sementara gue menjemput Ranger di kamarnya.

Setibanya kita di Ambasador, kita langsung hunting barang yang kita cari. Gue terutama. First destination, Softcase buat si Putih! Setelah keliling beberapa toko akhirnya gue mendapatkan yang gue mau. Softcase semikulit kotak-kotak berwarna putih. Harganya ternyata gak terlalu mahal, cuma 100 ribu dikurang seceng, alias 99.000 saja. Lebih lucunya, Ranger malah dapet duluan hardcase buat laptopnya. Warna Pink, sesuai dengan warna kesukaannya. Hahahaha.. setelah gue membayar sejumlah uang buat softcase dilanjut pembersih layar laptop gue, gue akhirnya memutuskan pindah halua n ke ITC.
Next destination, Casio Watch! Langsung di toko jam pertama yang kita datengin akhirnya gue mendapatkan jam yang gue mau. Dengan harga yang pas juga dan tentunya setelah gue konsultasi dengan Mama Ranger, saudaranya Mama Lauren. Gue juga sempet membeli jam satu lagi buat kado ultah Manajer gue. Selesai itu, gue dan Ranger Pink memutuskan untuk makan di foodcourt yang ada di ITC Kuningan. Cukup puas makan di situ. Gimana nggak, lah wong perut gue belum kebelai nasi dari gue bangun tidur. Hehehehehe.. Lapernya emang dahsyat sih. Gue juga gak mau maksain gak makan, takut maag gue kambuh lagi and nyiksa gue nantinya.

Sebelum balik gue sempet mampir ke All New Digital, tempat langganan gue kalo mau beli gadget. Kita ke toko yang mayoritas menjual kamera dan segala aksesorisnya itu untuk mancari pesanan memory card buat pocket camera cowo yang lagi deket sama si Ranger. Wuiiihhh.. Ada sedikit rasa gak terima di sana. Tapi mau gimana lagi, gue gak mau jadi cowo yang egois lagi buat siapapun, termasuk dia. Udah saatnya kita berdua emang bener-bener dewasa dan menerima kondisi yang ada dengan mata yang nyata. Sampai di taksi menuju perjalanan pulang pun gue masih asyik ngegodain Ranger Pink. Kita berdua hanya bisa ketawa menikmati canda kita yang nyerempet-nyerempet asmara antara kita dan masing-masing orang yang deket dengan kita. Kaya anak kecil aja! tapi memang itu yang terjadi sesungguhnya.
Gue gak sampai mengantar Ranger sampai ke kamarnya lagi ketika Taksi yang kita duduki tiba di depan flatnya. Kita masih saling menggoda satusama lain sebelum akhirnya bener-bener berpisah dan taksi kembali membelah jalan Jakarta menuju basecamp Cagur tercinta.

Dan kesepian itu bener-bener menyiksa ketika gue kembali sendiri di tengah belantara kota. Sepanjang perjalanan gue termenung, meski sesekali gue membuka obrolan dengan Sopir taksi asal Cimahi bernama Yayat yang ternyata ngefans sama gue itu. Ceileeeee.. Ngefans! Kipas angin, pak? Hahahahaha... Doi emang ngefans sama gue, terbukti di tengah kemacetan jalan dia sempet-sempetnya minta foto bareng gue pake handphonenya. Oleh-oleh buat istrinya yang ternyata menyukai Cagur juga katanya. Gue seneng banget. Paling nggak, meski sedikit, masih ada orang yang menghargai jerih payah gue dan kedua teman gue untuk membuat sebagian masyarakat Indonesia tersenyum.

Dan kesepian pula yang membuat gue akhirnya memutuskan jalan lagi ke Gading. Niatnya mau beli tas laptop yang sempet gue liat selasa kemarin. Tapi seperti kata gue di awal, nyatanya nafsu duniawi gue malah membuat gue mengurungkan niat gue membeli tas itu. Sebagai tumbalnya, gue malah nekat membeli jam tangan Ripcurl hitam seharga titik-titik rupiah, sebuah sabuk Ripcurl dan sebuah tas kecil Quicksilver buat nyimpan jam-jam tangan gue yang berceceran gak karuan. Arrrggghhh.. Pemborosan! Sekali lagi, itulah jeleknya gue. Kadang ketika gue sampe pada titik ke’bete’an yang kronis, gue lebih memilih untuk jalan sendiri. Entah ke mall atau ke tempat yang gue mau, cuma buat ngusir kesepian gue. Mau minta ditemenin sama temen cewe, gue takutnya malah salah sangka. Takut terkesan ngasih harapan. Lebay banget yah gue.. Hahahahahaha..

Selepas dari Gading, gue langsung balik ke basecamp. Berharap bisa nonton FTV di SCTV yang ceritanya sering membuat gue melupakan yang namanya kesendirian. Tapi sayang, harapan gue gak terkabul. Kamis malam saatnya Sinetron Live Action ternyata. Dan gue gak begitu tertarik untuk mengikutinya.
Gue langsung meringkuk di kamar. Tertindih rasa sepi lagi. Memikirkan nasib cinta gue yang masih aja belum jelas sampai detik ini.

“Terpenjara sepi, kunikmati sendiri..” seperti single Basisnya Jikustik yang sempet ngetop dulu, mungkin itu yang terjadi sama diri gue saat ini. Gue gak bisa membohongi diri gue sendiri, ketika pada akhirnya gue lebih sering merasa benar-benar sendiri akhir-akhir ini. Untuk mendekati lawan jenis yang coba disodorkan teman-teman terdekat gue demi membantu gue belum berani gue lakonin. Rasa minder dan ketakutan yang sangat akan sebuah kegagalan membuat gue lebih memilih tersiksa dengan kondisi yang ada. Yup.. Gue memang sangat berusaha untuk menikmati setiap detik yang ada dengan cara yang gue punya. Gue gak peduli orang mau bilang apa. Karena kadang mereka sendiri gak peduli dengan apa yang gue rasa.

Ketika tiga jari yang gue gunakan untuk menulis cerita ini masih bekerja, kehampaan yang gue punya juga makin bikin gue jadi gundah gulana. Tapi apa mau dikata, mungkin kini memang belum saatnya gue mendapatkan seseorang yang bisa gue puja dengan segenap asa. Gue mungkin memang harus pasrah menerima semua dengan lapang dada. Mau marah juga percuma. Sama siapa pula gue harus menumpahkan semuanya. Gak ada! Gue gak mau mengadu sama Allah, karena mungkin dia sudah malas menghadapi gue yang samasekali gak pernah mau mengikuti ajarannya dengan sempurna. Ya.. gue memang hanya manusia biasa. Lelaki berambut gimbal biasa yang harus membiasakan diri dengan hidup tanpa seorang terkasih di sisinya. Menjalani semuanya dengan harap cemas. Menanti semuanya menjadi jauh lebih jelas. Dalam rentetan waktu tanpa batas dan balutan cerita yang tak kunjung tuntas.

Mati satu tumbuh seribu katanya. Tapi itu ternyata cuma isapan jempol belaka. Buat gue mati satu malah membuat gue makin ragu untuk mencari cinta yang baru. Gue takut akan kembali kalah dan mengalah. Gue takut akan kembali disakiti tapi divonis sebagai yang menyakiti. Walau jujur gue akui gue tipikal yang gampang menyukai, tapi bukan berarti gue akan mudah untuk menyayangi. Buat gue, semua tetep butuh proses dan butuh hadirnya “sparkling” dalam hati. Bukan asal dekat lalu saling mengakui dan menjalani.

Sudahlah..
Jalani saja dan nikmati semua yang terjadi. Gue gak mau terus-terusan jadi basi dan mengasihani diri. Gue tetep yakin gue pasti menemukan “dia” suatu hari nanti. Yang akan merubah semuanya jadi lebih berarti. Yang akan membawa gue ke jalan hidup yang lebih hakiki. Meski gue sendiri tak mengerti kapan saat itu akan benar-benar datang menghampiri.

Biarkan saja sepi ini membunuhku...


Timur Jakarta.5 Desember 2008. 03:31 Pagi

Jangan Pernah Takut..

Who am i? Siapa gue?

Jawabnya, gue bukan siapa-siapa dan belum jadi siapa-siapa.

Gilaaa.. Sebulan ke depan, umur gue bakal genap 29 tahun. Insyaallah. Sebuah umur yang lumayan banyak. Seperempat abad lebih. Kadang gue bisa sangat enjoynya dengan hidup gue. Kadang gue juga bisa sangat terpuruk dengan ke'tua'an gue. Hahaha.. Gaya dan laganya aja kaya anak kecil, tapi kalo liat KTP langsung merasa kerdil.

Entahlah, gue sendiri sebenernya gak begitu mau mikirin. Tapi jujur adakalanya gue merasa kalo sekarang bukan saatnya lagi gue main-main dengan hidup gue. Bersantai dengan semua kondisi yang ada. Being Old tanpa pernah jadi apa-apa.

Belum banyak yang gue hasilkan selama perjalanan hidup gue ini. Gue rasa terlalu sering jeleknya ketimbang bagusnya. Hehehe.. Secara gue cukup sadar diri dengan kapasitas gue sebagai manusia biasa yang hobi banget bikin dosa ketimbang nabung pahala. Mau jadi apa gue kelak? Gak pernah gue bayangkan. Yang pasti gue memang tipikal cowo standart yang lebih seneng menjalani hidup layaknya air mengalir atau angin berhembus. Bergulir begitu saja tanpa terlalu memikirkan hal yang cuma bikin kepala gue jadi kebelah dua.

Begitupun tentang cinta yang kerap butakan mata. Yang sering gue alamin dan selalu berakhir dengan dilema. Lelah sudah mencari yang tak nyata. Karena sekarang gue sudah punya yang teristimewa. Satu tahun atau mungkin dua tak jadi masalah. Selama gue bisa tetap bersama merajut mimpi walau mungkin hanya akan jadi angan belaka.

Gue bukan dewa. Karenanya gue gak bisa berbuat sesuka jiwa. Keinginan yang menggebu akhirnya cuma semu adanya ketika semua yang gue punya tak berarti apa-apa dan diri gue yang biasa ini cukup puas dengan semua yang gue terima. Gue memang harus terus maju. Gak peduli dengan rintangan yang bakal mengganjal dan mungkin membuat gue jenuh. Gue harus hadapi semua dengan lapang dada karena gue yakin semua pertanyaan ada jawabannya. Semua masalah ada solusinya. Semua keraguan ada penjelasannya.

Seperti juga halnya nilai sebuah cinta. Sekarang atau nanti tak akan berakhir sama. Ada jalan dan cara yang berbeda untuk melangkah menuju ke arah sana. Entah mana yang harus gue pilih. Kanan atau kiri. Bahagia atau kesedihan yang ujungnya mungkin membuat gue mati berdiri.

Saat ini gue harus bersikap realistis. Satu yang gue ingat, sesuatu yang dipaksakan gak akan pernah berakhir dengan hasil yang manis. Tak beda jauh dengan angan gue yang terlalu puitis dan kerapkali bikin gue tersenyum miris.

Gue punya cerita yang orang lain mungkin tak punya. Gue punya kisah yang mungkin manusia lain ingin mengalaminya. Cerita yang sederhana tapi begitu membuat hidup gue penuh warna. Kisah yang biasa dengan seseorang yang tak biasa. Jujur saja, bukan kegalauan yang coba hadirkan dari awalnya. Tapi keindahan yang coba gue suguhkan dengan segala keanggunannya.

Indah dan anggun yang terangkum dalam satu asa. Indah dan anggun yang terbesit dari satu jiwa. Indah dan anggun yang terajut dalam satu nama.. Hanya Dia seorang saja..

Akhirnya semua memang harus berjalan sebagaimana mestinya. Tak ada yang harus disalahkan dengan kondisi yang sedang kadang membingungkan. Berujar ataupun bersikap semua hanyalah pilihan. Kalah atau bertahan sepenuhnya kita yang menentukan. Suka atau duka harus kita terima sebagai sebuah kenyataan.

At the end..

Jangan pernah takut untuk berusaha, karena semua ada waktunya.

Jangan pernah takut untuk mencoba, karena tiap hidup ada resikonya.

Dan..

Jangan pernah takut untuk melangkah, karena kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi dalam kehidupan kita selanjutnya..


PinggirJakarta.SebelasAprilDuaribudelapan.

She or Her?

Memang gak enak ketika berada di persimpangan dan kita harus memilih arah kiri atau kanan untuk menempuh sebuah perjalanan. Perjalanan hidup gue yang kini berada di titik yang membingungkan.

Dua sosok yang sama indahnya buat gue. Dua sosok yang sama berartinya buat gue. Dua sosok yang memiliki arti lebih buat gue. Sok laku banget kayany gue. Tapi itulah fakta yang terjadi di depan mata.

She, adalah sosok dewasa dan penyayang yang baru gue kenal. Rasa nyaman bersamanya sudah menyihir gue untuk menyimpan rasa sayang buat dia. Walau sejujurnya gue mengenalnya pertama kali ketika dia masih dekat dengan seseorang. Tepatnya ada seseorang yang mendekatinya dan berusaha menjadikannya kekasihnya. Tapi benar kalo orang Jawa bilang witing tresno jalare soko kulino (Kalo gak salah begitu spellingnya_red), cinta bisa hadir ketika kita sering bersama. Kebersamaan gue dengan dia membuat gue merasa dia wanita yang sangat mengasyikan. Dan sampai saatnya gue berani menyatakan semua yang gue rasakan tanpa rasa enggan sedikitpun. Gue akan mulai mendekatinya ketika hubungan dia dan lelaki itu benar-benar sudah di titik penghabisan. Point lebih buat gue ketika dia memang bisa bikin gue seneng menghabiskan waktu sama dia. Sering ketemu, sering jalan walau hanya sekedar untuk nonton atau makan sudah cukup membuat gue melupakan kegalauan gue tentang seorang 'Her'..

Her, adalah sosok yang menarik. Enerjik dan pecicilan. Jauh lebih rame ketimbang 'She' memang. Tapi kalo mau jujur, dia juga sosok yang mampu membius gue untuk ngejar-ngejar dia gak karuan. Sayangnya, gue sampai detik terakhirpun masih diyakinkan dia kalo gue hanya pantas menjadi teman atau sahabat buat dia. Mau bilang apa. Rasa emang gak bisa dipaksa. Meski gue mati-matian mendapatkan cintanya, tapi kalo dianya biasa-biasa aja, malah cuma jadi nyampah. Dia memang pintar memainkan hati gue. Untuk ukuran seorang sahabat, perhatiannya gue rasakan lebih. Untuk ukuran seorang teman baik, apa yang dia lakukan buat gue cukup membuat gue bingung menebak isi hati.

Dan sekarang, entah mengapa gue jadi tak tahu harus mengambil pilihan yang mana. Karena keduanya begitu mempesona. Keduanya dengan caranya masing-masing selalu bisa membuat hati gue berbunga-bunga. Dan keduanya adalah sosok wanita yang diinginkan banyak kaum pria. Sebagai pendamping hidupnya..

She, yang dewasa?
Atau..
Her, yang ceria?

Entah apa jawaban yang dikirim Tuhan buat gue. Tapi yang pasti, gue akan menunggu 'lembar jawaban' itu tiba. Ketika sang waktu mengirimkannya dengan sebuah amplop cinta..


Jakarta.EmpatAprilDuaribudelapan.

Searching For The Missing Soul

Ketika Cinta Bertasbih. Selesai sudah gue melahap ke dua bukunya sekaligus. What a book.. Satu hal yang pasti gue makin merindukan sosok yang bisa jadi pendamping hidup gue kelak. Jadi ngarep dapet model cewe yang ada di novel itu. The problem is, apa masih ada yah di jaman yang serba modern dan gak jelas ini. Mmm.. sebagian hati gue masih yakin kalo itu bukan hal yang mustahil. Meski mungkin satu banding sejuta.

Ketika gue membaca buku itu, gue seakan bermain dengan alam bawah sadar gue. Terseret pada asa yang tak tentu arah. Gue tau gue bukan sosok yang sempurna, tapi gue mencari sosok yang bisa membantu gue menjadi sempurna dan menyempurnakan hidup dan agama yang gue punya. Sosok wanita yang mau berbagi suka dan duka, bukan hanya senang tertawa namun tak mau menangis dalam derita. Meski dia bukan wanita yang sempurna, namun sebagian hati gue berteriak gembira dan berujar kalo dia bisa menjadikan gue sempurna. Dengan cintanya.

Sayangnya, semakin hari gue malah semakin seperti orang buta. Hanya bisa meraba dan meraba. Bermain dengan spekulasi dan perasaan yang makin menyiksa. Cinta atau hanya teman biasa. Sayang atau hanya nyaman ketika bersama. Suka atau hanya kebiasaan supel semata. Gue memang menjadi orang yang buta ketika berhadapan dengannya.

Sayangnya gue harus bersikap. Walau gue tahu gue bakal kehilangan sosok itu, mungkin untuk selamanya. Maaf. Tapi sepertinya gue memang harus pergi dan hilang dari dunianya. Gue gak mau merusak semuanya. Gue belum bisa menghilangkan rasa sayang gue ke dia. Dan gue gak mau itu merusak nilai persahabatan yang coba gue jalin dengannya. Apalah artinya pertemanan kalo nyatanya gue masih berharap asa yang lebih dari dirinya. Apalah arti persahabatan kalo gue masih menginginkan dia menjadi belahan jiwa.

Saatnya gue untuk bergerak. Gak mau tertambat pada sebatang pohon anggrek, yang meski indah dan harum tapi gak pernah jadi milik gue. Gue makin yakin kalo sikapnya gak akan berujung pada sebuah keindahan. Gue ragu kalo dia bakal merubah arah stirnya dari seorang teman menjadi seorang kekasih. Gue memang cuma teman yang tak boleh berharap. Gue hanya someone yang gak akan pernah jadi something buat dirinya.

Yup! Gue memang harus bisa memilih mana yang terbaik. Terutama buat dia. Dan sepertinya menghilang dari hadapannya merupakan hal terbaik yang harus gue tempuh pada akhirnya. Dia bisa lebih bebas menjalani harinya. Dia bisa menjadi seorang yang sempurna tanpa gue yang cuma nyampah tanpa guna.

Hahahaha.. Terdengar menjijikan mungkin. Tapi semua yang gue rasa memang membuat gak tau harus berbuat apa. Gak peduli orang mau bilang apa. Gue hanya ingin dia bahagia tanpa gue di sisinya. Gue hanya ingin dia mencinta orang yang hanya di hatinya. Cape jadi pengganggu yang gak jelas juntrungannya. Lelah jadi pejantan yang gak akan pernah diterima sang betina.

Maafkan aku cinta. Maafkan aku masih memendam itu semuanya. Maaf aku merusak semua yang coba kita bina. Maafkan aku yang ternyata tak bisa menata hati dengan sempurna. Maafkan aku tak bisa menemani kamu sampai waktunya. Maafkan.. Itu saja.

Dan..

Maafkan aku harus pergi. Yakinlah, semua itu aku lakukan hanya untuk buat kamu bahagia..

Dan..

Mungkin saatnya gue kembali mencari belahan hati gue yang hilang. Entah dimana dan entah kapan saatnya.

I'm gonna miss u..

That's for sure..


jakarta.duasatumaretduaribudelapan.

See You On The Dance Floor..!

Saat itu. Malam Sabtu. 2 November 2007.

Bingung gilaaaa..

Bingung aja gitu malam ini mau kemana. Bingung aja gitu mau stay di Jakarta aja atau nekat cabut ke Bandung cuma buat menghabiskan malam ini. It’s Friday nite, sob! Yang pasti weekend baru saja dimulai. Yang pastinya semua tempat hiburan menantikan kedatangan gue. Hahaha.. Narsis gila. Tapi mau gimana lagi coba, emang masih musim sih yang namanya hangout di malam yang penuh gemerlap ditemani cahaya lampu serba temaram, gelap-gelap gimana gitu. Gak ketinggalan musiknya yang ajep-ajep itu. Ajiippp..

Lo tau dong maksud gue. Apalagi kalo bukan. Dunia gemerlap. Clubbing. Party. Or what ever lah nama atau aliasnya.

Gak bisa dipungkiri lagi, dunia malam selalu jadi bahan pembicaraan menarik meski isinya itu-itu aja. Musik, joged, crowd, drink and tentunya get drunk. Hihihihi.. tapi jangan salah. Peminatnya? Jangan ditanya. Banyak banget. Dari semua kalangan, yang muda maupun yang tua, pria bahkan wanita, dari pemilik perusahaan bonafid ataupun pemilik warung rokok pinggir jalan biasa. Untuk kategori yang terakhir ini, pastinya beda club dong. Hehehe.. Tapi, dari semua perbedaan yang ada, lucunya semua ngemix begitu aja. Perbedaan yang ada kadang itu udah gak berarti ketika mereka udah nyatu di lantai dansa. Asyik berajojing ria, diiringin bingar musik yang menggetarkan jiwa dan membuat hati tertawa gembira.

Siap, boss! Itu faktanya.

Dan gue mungkin salahsatu yang masih seneng jalan bareng temen-temen gue untuk sekedar joget-joget gak jelas sana-sini. Gak tiap malam juga sih, meski hasratnya begitu. Hehehe.. Namanya juga masih ngerasa muda. Meski muka udah sedikit mengkerut kaya hantu jeruk purut.

Meski begitu, gak selalu hal negative yang bisa gue serap dari pergaulan malam yang kata kebanyakan orang “gak bener” itu. Oke, labelnya mungkin gak baik, tapi gue tetep bisa jadi orang baik koq, meski gue sometimes ngejalanin hal itu. Kadang ketika gue berada di tengah kerumunan crowd gue bisa begitu lincahnya. Gue bisa begitu ganjennya. Gue bisa begitu gemulainya. Eittsss.. jangan pikir gue binan yah! Jauh! Hehehe.. Kadang gue bisa tertawa senang ditengah guyonan yang keluar begitu aja dari mulut yang sudah sulit terkontrol. Entah karena omongan gue atau temen-temen gue. Intinya seneng. Intinya gue bisa sedikit melupakan kejenuhan gue akan hidup, meski sebenernya setelah malam berakhirpun gue akan bergulat kembali dengan kehidupan keras yang terpampang di hadapan gue.

Tapi ada kalanya ketika gue memilih untuk duduk manis di pojok ruangan untuk gak melantai, gue merenungi semua. Ya, kehidupan malam yang ada di depan mata gue. Kadang gue berpikir, gimana jadinya bangsa kita kalo generasi mudanya kaya gue and the other one yang masih menjadikan perilaku ini sebagai hobby atau udah jadi gaya hidup. Yang asyik memproduksi keringat dengan bergoyang-goyang sepanjang malam hingga pagi. Bahkan ada yang rela untuk pulang ke rumah sebentar untuk sekedar mengganti baju yang udah bau terasi dan kembali ke areal dansa lagi. Ibarat sinetron, to be continued. Bersambung. Kalo gue sih untungnya gak gitu-gitu amat. Buat apa juga. Gue datang ke situ bukan buat ngabisin duit, tapi buat seneng-seneng. Meski akhirnya gue harus rela juga merogoh isi kocek gue buat kesenangan sesaat gue itu.

Finally gue akhirnya memutuskan untuk cabut ke Bandung. Sempet ragu, tapi toh akhirnya gue berangkat juga. Bener-bener modal nekat. Secara sabtu paginya gue harus cabut lagi ke Jakarta buat ketemuan sama orang TV buat ngebahas konsep acara baru yang coba disodorkan ke gue dan teman-teman gue sebagai pemainnya. Huuuuhh.. Edan suredan!

Untungnya gue ditemenin sama temen-temen gue yang kebetulan lagi pada di Jakarta. Mereka juga salah satu alasan gue nekat cabut ke Bandung. Udah dua kali gue gagal ke Bandung buat hangout bareng mereka, padahal mereka udah menanti penuh harap akan kedatangan gue. Narsis lagi aja gue. Hehehehe..

Take off juga akhirnya jam sembilan malam. From Jakarta. Agak-agak macet. Biasa lah. Kalo hari Jum’at, jangan berharap kita bisa melenggang bebas membawa kendaraan kita menyusuri kota Jakarta. Padet mengesot, bukan merayap lagi. Emang Jakarta gak ada matinya deh. The best ever. Jalan tol aja yang dibilang bebas hambatan, malah berbalik jadi sempit tak beraturan. Gimana enggak, tol kita jatuhnya udah kaya showroom mobil terlengkap bertitel “Dalam Kota”.

Oke, stop talking bout the TOL. Let’s talk bout the Nite society again. Gue akhirnya sampe juga di Bandung. Jam 12 malem. Badan gue udah kerasa remuk duluan. Sempet hampir gagal jalan. Abis jarum jam udah ngaceng ke angka 1 tapi gue dan temen-temen gue belum ada geraknya sama sekali. kecapean juga kali yah. Makanya agak terkesan males-malesan. Tapi begitu dedengkotnya temen-temen gue angkat bicara, baru deh kita siap-siap. Gak lama kita pun melesat secepat kilat ke arah Paris Van Java.

Gue mutusin untuk buka table bareng MRH, sang dedengkot. Letaknya deket banget sama mejanya para DJ bermain. Alhasil, gak perlu butuh waktu lama buat kita semua ancur-ancuran. Mansion, club yang gue singgahi malam itu dipenuhi massa yang benar-benar menikmati musik yang disajikan saat itu. Dance floor penuh gila. Gue sendiri males buat turun dan lebih memilih untuk tetap berada di areal sofa gue. Beberapa kali gue sempet ditarik buat naik ke atas stage yang berada di DJ zone, tapi gak lama, karena jujur gue malu aja buat joget-joget gak jelas dihadapan banyak orang. Meski sebenarnya mereka juga gak peduli dengan kondisi di sekitar mereka. Haloo.. Wake up, man.. Dah gak ada yang sadar juga kaleee.. Mereka udah asyik dengan dunianya masing-masing. Mabuk gak mabuk, pada ajojing gila.

Sama gilanya dengan temen-temen gue. Mereka juga asyik nari-nari berbarengan. Secara yah, mereka para dancer. Malu mungkin udah gak ada di kamus mereka. Apalagi didorong hasrat mereka buat meliuk-liukan badan dengan asyiknya udah tertutupi cairan-cairan yang memabukkan itu. Hehehehe.. Intinya, malam itu Mansion dipenuhi sama para pendekar-pendekar Drunken Master. Tentunya dengan jurus mautnya masing-masing. Sampe pagi. Sampe kesadaran udah misah dari raga. Saat jalan sempoyongan dan mata agak semblep udah jadi tontonan yang siap tersedia.

Tapi jujur lagi. Mungkin gue sendiri mulai agak males jalan. Abis udah mulai rajin juga razia dimana-mana. Gue gak ngapa-ngapain juga sih. Tapi kan males aja, lagi enak-enak joged, tiba-tiba ada sorot lampu dan suara lantang berujar, "Perhatian! Anda sudah terkepung!". Huuuh.. Takuuut! Hehehe.. Lagian gue and the others dateng ke tempat penuh lampu yang menyilaukan mata itu niatnya buat seneng-seneng, bukan buat bikin jantung deg-deg'an dan lutut lemes tak terkendali. That's the point.

Satu hal, gue percaya banget semua ada masanya. Ada waktunya. Mungkin sekarang masih saatnya gue merasakan dan menjalani hal itu. Dan gue yakin, gue bakal meninggalkan semuanya ketika waktunya tiba. Lagipula, meski apa yang gue lakuin itu salah, orang bijak pernah bilang, "Kita gak akan pernah menghargai nilai sebuah kebenaran ketika kita tidak pernah melakukan kesalahan."

Pergaulan yang miring, tapi bikin hati gak jadi garing. Kelakuan yang salah, tapi kadang menghilangkan segala gundah. Tapi biar bentuknya sebuah kesalahan, paling tidak, kesalahan yang gue perbuat, semoga nantinya bisa membuat gue untuk lebih menghargai hidup. Menjalani hidup lebih berarti, syukur-syukur sampe mati. Hihihi..

Ini mungkin sudah menjadi salah satu bagian cerita gue. Hidup gue. Proses pendewasaan gue. Walaupun gue sendiri gak tau apa gue bisa melewatinya dengan pilihan yang benar atau tidak.

Suatu saat gue mungkin akan lelah sok mencari jati diri. Suatu saat mungkin kaki gue enggan untuk melangkah kesana-kemari. Suatu saat mungkin hati dan perasaan gue menolak keras untuk keluar di malam hari. Tapi entah kenapa, gue yakin ketika saat itu tiba dan terjadi, dunia malam akan terus menggeliat dengan lincahnya, sorot lampu akan tetap menyentuh dan menyilaukan mata, dan dentuman musik sang DJ pun tak akan berhenti menghajar dan menghantam jantung dan gendang telinga.

Itu nanti. Belum pasti. Dan saat ini gue cuma ingin berujar emosi..

SEE YOU ON THE DANCE FLOOR..


Jakarta. 6 November 2007. 23:28 whg.

Cinta Oh Cinta..!

Yupss.. Cinta emang gak ada matinya. Meski aneh tapi dia begitu nyata. Meski sering membuat kita sedih, namun kerap memberi bahagia pula. Cinta tak pernah menjadi sesuatun yang berharga, ketika kita belum mengerti makna terdalam tentang cinta. Hal semu yang kadang membuat hati kita tak menentu. Banyak pelajaran yang kita bisa petik ketika kita belajar mencintai seseorang. Siapapun dia..

Khalil Gibran pernah berkata:

Kasih sayang adalah kemudahan hati, pikiran adalah kedewasaannya; tetapi kecerewetan adalah kepikunannya.

Jika hendak memahami seorang wanita, perhatikanlah mulutnya selagi tersenyum; tapi untuk memahami seorang pria, perhatikan warna putih matanya selagi marah.

Cinta pada diri sendiri menghasilkan kesombongan buta.

Cinta bisa membuat seseorang lebih tersiksa oleh rasa khawatir terhadap orang yang dicintainya, daripada rasa sakit yang dideritanya.

Jika hidup adalah semua yang terbaik dari seni, maka mencintai seseorang adalah seni terbaik dalam kehidupan.

Cinta bernafsu adalah dahaga yang tak terpuaskan.

Cinta membuat sepasang kekasih seperti dua buku, mencoba dipahami setiap lembar-lembarnya namun tak pernah selesai terbaca.

Jika kamu mencintai seseorang, sesungguhnya kamu belajar sesuatu tentang dirimu sendiri.

Dalam cinta pasti ada perselisihan, namun itu mungkin jalan pintas menuju pertemuan dua pikiran.

Cinta ibarat seekor burung cantik, yang meminta untuk ditangkap, tapi menolak untuk disakiti.

Cinta seperti mata air abadi yang selalu mengalirkan kesegaran bagi jiwa-jiwa yang sedang dahaga.

Cinta yang dibasuh air mata akan suci dan indah selamanya.

Cinta adalah istirahat panjang bagi tubuh dalam kesunyian pusara.

Cinta adalah keabadian, keabadian tidak memiliki apa-apa kecuali cinta.

Cinta dapat menciptakan hati, tapi hati tidak dapat menciptakan cinta.

Cinta bermula dari pertautan jiwa, jika tak ada pertautan jiwa, maka tak akan tercipta cinta.

Cinta tidak dimiliki dan juga memiliki, karena cinta telah cukup untuk dirinya sendiri.

Cinta adalah sarana untuk memahami dua jiwa.

Cinta yang terbatas ingin memiliki yang dicintai, sedang cinta yang tak terbatas hanya terbatas menginginkan cinta itu sendiri.

Cinta seperti anggur nikmat, yang manis di bibir dan menghangatkan badan, namun sering memabukkan.

Cinta bisa membuat jalan keras menjadi lunak dan mengubah kegelapan menjadi lunak dan mengubah kegelapan menjadi terang bercahaya.

Seseorang tak dapat menuai cinta hingga ia mampu membuka pikirannya.

Seseorang tak dapat menuai cinta hingga ia merasakan perpisahan yang menyedihkan.

Tentang CINTA PERTAMA :
Setiap orang akan teringat pada cinta pertamanya.
Cinta pertama akan dicoba untuk didapatkan kembali.
Cinta pertama seperti dunia baru yang memenuhi seluruh sisi kalbu.
Ingatan pada cinta pertama membuat seseorang menjadi amat gembira menjalani semua kepahitan misteri dunia.

Cinta mempunyai pengikut, mereka yang tidak dipilih sebagai pengikutnya tak akan mendengar ketika cinta memanggilnya.

Cinta bisa membuat seseorang merasa senang dengan kekasihnya, sekalipun kekasihnya itu sulit untuk digapai.

Cinta yang terpuji adalah cinta yang mampu mengisi kesepian dan mengakrabkan hati dua orang.

Cinta dan keraguan tidak saling berbicara satu sama lain.

Keraguan di dalam cinta adalah sebuah dosa.

Kekayaan tanpa diiringi cinta tak bermakna, dibanding kemiskinan dan kerja keras namun didampingi cinta.

Cinta tidak hanya menghargai orang yang mencintai namun juga orang yang dicintai.

Cinta adalah keindahan yang menarik jiwa yang diberikan dan bukan yang diminta.

Cinta adalah sebuah misteri yang sering membuat kita tak mengerti.

Keindahan cinta yang melanda seseorang mampu menahan derita akibat kemiskinan.

Cinta yang terhina lebih bermakna dibanding cinta yang mencari kemenangan dalam kepura-puraan.

Cinta belum dapat dirasakan manisnya, sebelum merasakan pahitnya kesabaran dan sedihnya kesulitan.

Dalam cinta tidak ada kata ‘kasihan’, karena ‘kasihan’ itu hanya ½ keadilan. Dan kasihan hanya dicurahkan kepada penjahat yang salah.

Cinta yang menyenangkan bebas dari cemburu, harta, dan penyiksaan jiwa.

Dalam cinta, hanya mereka yang mempunyai rahasia dalam hati mereka yang bisa menduga rahasia-rahasia dalam hati kita.

Ketika bercinta, ada rahasia-rahasia dalam jiwa yang tak dapat disingkap oleh dugaan.

Setiap pria mencintai 2 wanita; seorang wanita imajinasinya dan seorang lagi yang belum dilahirkannya.

Pandangan mata wanita lebih jujur dibanding ucapannya.

Wanita adalah sosok yang kuat dalam kelemahannya.

Pandangan seorang wanita akan membuat pria merasa paling berbahagia di dunia.
Dengarkan wanita jika ia melihatmu, jangan dengarkan dia jika bebicara padamu.

Lelaki yang menerima wanita sebagaimana Tuhan menciptakannya, berarti ia menghargainya.

Lelaki yang tidak memaafkan wanita untuk kesalahan kecilnya, tidak akan dapat menikmati kebaikan besarnya.

Ketidakpuasan membuat seorang lelaki jadi hampa, dan kehampaan membuatnya nelangsa.

Tiada pidana yang lebih berat bagi seorang wanita yang terperangkap di antara 2 lelaki yang dicintainya dan mencintainya.

Kebahagiaan wanita terdapat pada cinta yang memadukan jiwanya dengan jiwa lelaki yang dicintainya.

Cinta dan kerinduan adalah awal dan akhir karya. Juga akan menambah semangat dan memperdalam makna kata-kata.

Hidup tanpa cinta, seperti pohon tanpa buah dan bunga. Juga ibarat bunga kehilangan aroma wanginya.

Begitu kerasnya kehidupan seseorang yang memohon cinta namun mendapatkan amarah.
Seperti kematian, cinta akan mengubah segala-galanya.

Cinta memang sukar untuk dimengerti.

Arahnya cinta tidak dapat kau tentukan, karena cinta yang akan menentukan perjalanan hidupmu.

Jangan kau mengejar cinta dengan taruhan nyawa karena hal itu hanya seperti belukar yang tak ada buahnya.

Cinta adalah segala sesuatu yang dapat diperoleh namun tak dapat dilenyapkan.

Cinta gak akan disadari kedalamannya, hingga datang waktu perpisahannya.

Jangan anggap cinta seperti kue yang bisa kau potong-potong sesuka hati.

Cinta datang melalui kehendak Tuhan, bukan melalui kemauan manusia.

Cinta yang gak trus tumbuh biasanya akan mati.

Cinta yang tidak diperbarui setiap hari hanya akan menjadi kebiasaan dan akhirnya hanya akan menjadi perbudakan.

Bagaimanapun cinta akan tetap tinggal dan bekasnya gak akan terhapus.

Kadang meski telah tertipu cinta seseorang masih bisa tertawa untuk mengelabuhi mata orang-orang.

Seperti hati penjahat cinta dapat membuat kehidupan terasa kejam.

Meski cinta mempunyai jari sehalus sutra,namun kuku-kukunya yang runcing bisa membuat kita berduka.

Tak ada yang lebih menyakitkan daripada malam-malam yang penuh ketakutan karena ditinggal cinta.

Keindahan cinta dapat menahan pahitnya kesedihan dan duka karena perpisahan.

Ditinggalkan kekasih dapat membuat hati patah seperti seonggok nisan dikelilingi pohon-pohon cemara

Jika tidak dapat lagi bersama, maka sebuah perpisahan hendaklah seagung dan seindah cinta kita.

Semoga perpisahan kita seperti api yang melebur batangan emas dan membuatnya menjadi lebih berharga.

Persahabatan adalah pertanggungjawaban yang manis, bukan peluang!

Meski persahabatan telah terjalin akrab dan lama waktunya namun cinta tidak datang dari hal itu.

Bercinta itu seperti memasak. Hanya mereka yang tahu menggunakan bumbu yang pas akan menghasilkan masakan yang enak..

Itulah cinta. Dan bersiaplah ketika ia datang menegurmu dengan segala kekuatannya. Dan semoga kau mampu bertahan untuk menikmatinya, meski hanya secuil saja.



Jakarta. 22 Juli 2007. Rumah gue Tercinta..

Past is Fucking Past..!

PaSt..
Masa lalu.

Udah jauh tertinggal di belakang mestinya. Gak perlu diingat dan diusik lagi. Bagian sejarah hidup memang. Tapi gak akan maju hidup kita kalo hanya cuma melihat ke belakang dan ke belakang. Gak akan merubah apapun. Tetap akan jadi cerita lalu yang cuma bisa dipetik sebagai pelajaran.

Gue lagi males banget sama masa lalu. Kadang gue gak berharap ada yang namanya masa lalu. Kadang gue lebih seneng apa yang gue pernah jalanin dulu bisa langsung hilang dari ingatan gue. Amnesia. Apalagi pengalaman yang bisa bikin mood gue langsung ngedrop.

Gak mungkin juga sih..

Tapi.. Saat ini gue bener-bener fucked up sama semua yang berbau history. Meski sebenernya gue gak tau knapa gue bisa begitu sebelnya. Ada sesuatu yang sering bikin gue tergoda untuk membenci masa lalu. Apalagi ketika gue berhadapan dengan masa lalu orang terdekat gue. Dari dulu sampe sekarang. Buat beberapaa orang biasa aja. tapi buat gue, kadang cerita lalu itu bisa bikin gue muak! Gak penting buat diungkap dan dibahas lagi. Karena gue lebih seneng berpikir, apa yang gue jalanin sekarang beda dengan apa yang pernah gue jalanin. Meski kisahnya juga gak beda jauh amat.

Gue males banget denger story orang terdekat gue dengan orang terdekatnya dulu. Gue yah gue. Dia yah dia. Gak sama! Sidik jarinya aja beda. Jadi buat apa dibahas lagi. Mau sengaja atau gak sengaja. gak ada korelasinya. Gak ada manfaatnya buat gue. Ketika gue harus berpijak pada masa lalu, gue gak akan bisa berjalan dengan lebih baik. Gue gak akan bisa jadi pribadi gue yang sebenernya. Apapun kisah yang pernah terjadi dulu, biar aja hilang terbawa hembusan sang waktu..

Mmm..

Kesan terdalam mungkin akan dirasakan berbeda bagi tiap individu yang berbeda pula. Kenangan manis dan pahit akan jadi bagian penting dalam rangkaian proses hidup kita. Tapi pada akhirnya itu sudah jadi debu. Sudah jadi asap yang hilang tertiup angin. Buat apa dikumpulkan lagi, kalo pada akhirnya akan merusak pandangan kita. Yang lalu biarlah berlalu. Jangan malu buat melangkah. Jangan ragu untuk kembali mencoba. Berhasil atau tidak bukan sebuah masalah. Akan jadi masalah ketika kita justru takut untuk merubah hidup kita, dan hanya bisa berdiam diri menatap ke belakang dan berharap semuanya terulang kembali.

Gue cuma bisa bilang! Kelapa beda dengan kepala.. Botak gak sama dengan batok.. Soda pun beda jauh dengan Sado.. jadi buat apa menyamakan sesuatu yang sama sekali berbeda. Buat apa mengingat masa lalu yang gak pernah akan serupa dengan masa kini dan selanjutnya.

Past is always be a Past..!Masalalu, yah masalalu.. bukan masalague. Meski akhirnya sering jadi masalah buat gue!

Anjriit..!! Bener-bener gak jelas gue!

Sorry..!!!

Gak usah komentar kalo gak ngerti dengan apa yang gue katakan. karena gue sendiri gak ngerti..!

The end..



East Jakarta. 18.04.07. 01:12 wlg.

Cemburu?

Mmm..

Only one question.. Siapa sih yang gak pernah ngerasain cemburu?
Sesama anak aja dalam satu keluarga pasti pernah ngerasain rasa itu satu lain. Anak sulung cemburu karena orangtuanya lebih merhatiin yang bungsu. Anak yang kedua sebel kalo kakaknya lebih disayang sama papah mamahnya. Ssssstttt.. Itu yang sedarah loh! Apalagi yang gak ada hubungan darah sama sekali. Wuiiihh.. pastinya akan jauh lebih dahsyat.

Hehehehe...

Rasa cemburu akan timbul ketika ada rasa memiliki. Bagus memang. Tapi yang terkontrol. Bukan yang berlebihan dan di luar batas kewajaran. Cemburu katanya didasari rasa sayang. sebagian orang memang berpendapat seperti itu. Mungkin memang betul adanya. Tetapi satu hal yang patut diingat juga adalah, saat kita menyayangi seseorang, saat itu pula kita harus mulai menumbuhkan rasa saling percaya. Gak perlu 100 %. Sebuah hal yang wajar. Lalu yang harus kita ingat juga, ketika kita belajar mempercayai seseorang, maka kita juga belajar untuk mengolah rasa cemburu kita.

Meski kadang sulit, benih cemburu itu bisa kita pupuk dan kita atur masa pertumbuhannya. Layaknya tanaman, bisa kita tata hingga menjadi sebuah hal yang indah dan tak menjadi liar pada akhirnya. Cemburu tidak selayaknya menjalar seperti akar pohon beringin yang berdiri tegak di samping sebuah rumah mungil bernama cinta dan akhirnya meretakkan dinding-dinding yang ada dan menghancurkan seluruh isinya.
Jangan pernah mengambil kesimpulan, kalo gak cemburu berarti gak sayang atau cinta. Khalil Gibran pernah berkata, "Cinta dan keraguan tidak berbicara satu sama lain". See.. Ketika sebuah nilai cemburu tidak lagi dikeluarkan dalam porsi yang tepat, maka yang timbul kemudian adalah sebuah keraguan yang dapat menumpuk layaknya sampah, kemudian menggunung. Dan ketika sudah jadi gunung, kita tinggal menunggu satu moment yang paling menakutkan yang akan merubah segala yang ada di sekelilingnya. Meletus..! Meledak..! Atau apapun lah namanya.

Pada saat itu semua terjadi, tanpa kita sadari semua kenangan manis yang telah terjalin perlahan hilang begitu saja terbawa hembusan waktu. Memupuskan rasa terdalam pada setiap sebuah hubungan. Entah itu pertemanan, persaudaraan, terlebih lagi percintaan. Semua yang kita sudah bangun atas dasar nama cinta dan kasih sayang, seringkali tak berarti lagi hanya karena kita lebih memilih untuk mudah terbakar cemburu yang disusupi emosi tak terkendali. Gak peduli lagi berapa banyak aral lintang yang sudah kita lewati. Gak peduli berapa butir air mata yang sudah menetes. Gak peduli banyak tawa yang sudah mengisi hari-hari kita. Gak peduli banyak indah yang mewarnai langkah-langkah kita..

Kita udah gak peduli lagi.

Lihat dan rasakan betapa dahsyatnya cemburu ketika kita tidak meletakkannya pada tempat dan waktu yang semestinya.

Teorinya mungkin mudah untuk mengatur rasa itu. Bicaranya memang gampang, kalo kita tidak akan mudah terkontaminasi oleh polusi cinta itu. Katanya sih Gak begitu sulit menjadi orang yang gak mudah terkena racun cemburu yang membabibuta itu. That's the theory, sob!

The fact is.. The Theory doesn't se-eazy prakteknya. Tapi gak ada salahnya kita mencoba berubah untuk orang yang kita cinta. Mencoba untuk menomorsatukan cinta di atas segalanya.

Sulitnya karena manusia diciptakan dengan Ego. Dan ketika rasa itu timbul yang seringkali terjadi adalah, ego yang berbicara, bukan logika. Dan ketika ego yang berdiri dibarisan paling depan, kata cinta sering tertutup kata benci. Pertengkaran sudah gak mungkin terhindari lagi. Komunikasi terhenti, karena tak ada kesepahaman yang sejati. Lantas semuanyapun berakhir tanpa pernah kita sadari. Tanpa pernah kita mengerti. Yang ada hanya penyesalan di kemudian hari. Ketika cinta tak lagi hadir di hati. Sebuah penyesalan yang tiada arti.

Sesuatu yang terlarang kadang memacu adrenalin kita untuk melanggarnya. Mengapa tidak mencoba menjadikan cinta layaknya pasir dalam genggaman tangan. Terbuka. Seakan melepaskan tapi tetap dalam jangkauan. Ketimbang kita menggenggamnya seerat mungkin. Tapi tanpa kita sadari pasir itu keluar dari sela jari-jari kita dan hanya menyisakan sedikit saja. Mengapa kita tidak menjadikan semua yang kita alami sebagai sebuah pelajaran yang berarti menuju tingkat hidup yang semua orang inginkan. Dewasa. Kenapa kita tidak mencoba untuk belajar untuk menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing sebagai suatu proses cinta yang indah. Seperti Gibran katakan juga, "Ketika kita mencintai seseorang, sesungguhnya kita sedang mempelajari sesuatu pada diri kita sendiri". Karena cinta bukan hanya masalah kecocokan dua hati. Sampai kapan kita akan mendapatkan orang yang cocok dengan kita, jika kita tidak mulai belajar untuk menerima dia apa adanya.

Cemburu memang gak akan pernah hilang sampai kapanpun. Kenapa gak kita nikmatin aja. Gak berlebihan dan gak kekurangan. Jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sedikit. Sesuai porsi. Biar semuanya jadi aman-aman aja. Gak perlu saling curiga. Gak perlu adu kata. Gak perlu diam seribu bahasa. Gak perlu saling menderita. Karena cinta seharusnya membuat kita bahagia. Meski kadang dibumbui dengan nestapa.
Ada kalanya kita harus mengorbankan segalanya demi cinta. Ada waktunya kita harus menderita karena cinta. Ada saatnya kita harus menangis karena cinta. Tapi jangan pernah takutkan itu semua. Maju terus demi cinta. Karena my lovely Grandpa Gibran always berujar, "Cinta yang dibasuh airmata akan suci dan indah selamanya".

Hehehe..

Cemburu dan Cinta..
Dua mata uang yang tak dapat dipisahkan.
Dua kepribadian yang kadang saling membutuhkan.
Dua seni yang begitu melarutkan...

Dan keduanya akan terasa indah ketika kita mencoba untuk menikmatinya..


Jakarta. 23 Juli 2007.

Jadi Tua..? It's A Must..!

Jadi tua?
Why not..
Teeettt.. Sorry! Wrong answer guy's!

Jadi tua bukan pilihan, sob! Tapi kewajiban. Keharusan. Kepastian. Tentunya dengan catatan kalo jatah umur kita emang mencukupi untuk masuk kategori tua. Yang gue maksud di sini, bener-bener tua loh, sob! Yah, paling nggak udah di atas 63 tahun. Selain patokan umur, mungkin kerutan di wajah dan minimnya jumlah gigi dimulut kita bisa di jadikan salah dua patokan lagi buat seseorang yang bisa disebut tua. Sekali lagi! Bener-bener tua. Bukan orang yang sok tua.

Ada sebagian yang nerimo, ada juga sebagian orang yang takut banget terlalu cepat memasuki fase itu. Being an old one! Gak ngerti juga. Padahal jadi tua bukan sebuah tindak kejahatan atau film horror yang bikin bulu kuduk kita merinding. Jadi tua juga bukan sesuatu yang bikin hidup kita gak jadi bernilai. Jadi tua itu memang jalan protokol yang harus dilewati oleh semua mahluk hidup di dunia ini. Gak pandang bulu. Mau manusia, hewan atau tumbuhan. Mungkin bedanya dengan manusia, hewan atau tumbuhan gak perlu pake tongkat atau mungkin mengenakan kacamata di usia senjanya kelak.

Seperti yang gue bilang sebelumnya. Jadi tua juga bukan sebuah hal yang membuat kita jadi tidak berarti lagi buat orang lain. Banyak koq orang yang sudah memasuki usia tua yang masih bisa menunjukkan kredibilitasnya sebagai someone yang bisa dibanggakan. Gak perlu jauh-jauh liat orang lain. Liat aja kakek atau nenek kita masing-masing. Mereka semua hebat. Paling nggak, mereka udah sukses bikin formula ampuh yang akhirnya menghasilkan orang tua yang menjadi cikal bakal kemunculan kita di jagad ini. Contoh simpelnya, gue yakin kalo Presiden kita Pak SBY ataupun wakilnya Pak JK, bakal berterimakasih banget sama kakek dan neneknya masing-masing karena telah melahirkan orang tua mereka sebagai media kemunculan mereka di dunia ini. Hebat gak tuh..

Almarhum Pramudya Ananta Toer bisa jadi salah satu contoh kongkrit. Bagi pencinta dunia sastra, nama ini sudah bukan nama biasa. Sekilas Info aja yah.. You know what, di tahun 2001, ketika usianya 76 tahun, beliau masih mampu menerbitkan karya Fiksi berjudul Cerita dari Digul. Setahun sebelumnya beliau malah menerima penghargaan Fukuoka Asian Culture Grand Prize dari pemerintah Jepang. Dan tokoh sastra yang lahir pada tanggal 6 Februari di Blora, Jawa Tengah, 82 tahun yang silam ini, mulai menggeluti dunia sastra ketika beliau masih berusia 22 tahun. Dan ia terus bergelut hingga akhir hayatnya. Gak usah ngebayangin berapa banyak karya yang sudah ia hasilkan. Banyak banget! Dari karya Fiksi, Non Fiksi, Cerpen, Puisi, atau bahkan terjemahan-terjemahan karya berbahasa Indonesia. Semua karyanya pasti akan tetap hidup dan menjadi bagian dari sejarah sastra negeri kita, meski beliau pada akhirnya harus menghadap Yang Maha Kuasa pada 30 April 2006 silam.
( Sumber : www.tokohindonesia.com )

Atau juga seorang Nanny Anastasia Lubis. Bagi dunia tari, nama ini juga mungkin tak asing. Beliau adalah pendiri sekolah tari (Balet dan Senam) terkemuka di Indonesia, Namarina. Puteri keturunan Batak yang lahir di Tegal, Jawa Tengah 24 November 1926 ini mendirikan sekolah bagi para calon penari balet itu pada tanggal 30 Desember 1956. Dan ia memimpin Namarina sampai akhir hayatnya, ketika ia menginjak usia 67 tahun, tepatnya pada tahun 1993.
( Sumber : www.tokohindonesia.com )

Gue bilang juga apa. Menjadi tua tidak membuat segalanya berakhir tanpa arti. Menjadi tua tidak pula membuat seseorang menjadi mandul akan prestasi dan penghargaan. Menjadi tua adalah sebuah hal yang menarik! Kadang malah lucu dan menggemaskan. Menjadi tua seakan membuat seseorang kembali layaknya seorang anak kecil yang mendambakan kasih sayang, perhatian, bahkan sentuhan yang penuh kelembutan. Perhatiin deh para Grandma dan Grandpa di sekitar kita. Tingkah mereka kadang bisa membuat kita tertawa. Namun kadang juga bisa membuat kita termenung dan terseret dalam kegalauan.

Kakek gue dari nyokap contohnya. Kakek gue tersayang itu bisa sangat membuat gue sedih dan terharu ketika ia merengek manja layaknya anak kecil yang mau minta dibelikan permen sama orang tuanya, tapi ia sendiri malu bilangnya. Terutama ketika menginginkan sesuatu dari gue. Biasanya sih kalo dia lagi pengen banget makan buah apel kesukaannya. Atau ketika dia lagi sakit. Apalagi pas nenek gue, jantung hatinya, meninggalkan dia lebih dulu menghadap Allah SWT. Mmm.. gak kuat gue ngeliatnya. Untungnya doi bukan tipikal orang yang seneng ngeluh. Sedih pasti sangat mendalam dia rasakan, tapi itu gak membuat dirinya jadi orang yang lemah. Simpelnya, hidupnya dibawa happy aja.

Tapi di lain kesempatan doi bisa sangat membuat gue tertawa dengan keluguannya. Dengan canda dan keisengannya. Pernah suatu ketika, dia ngerjain gue dan nyokap gue. Awalnya dia manggil gue ke rumahnya yang kebetulan cuma berjarak 30 meter gitu dech dari rumah gue. Dia minta gue untuk sedikit ngasih tau sepupu gue yang masih kecil yang ngambek karena gak dibeliin mainan. Gak taunya pas gue sampe sana, belum sempet gue negur sepupu gue, gue langsung sadar kalo yang gue kira sepupu gue yang lagi telungkup di tempat tidur layaknya anak kecil lagi ngambek itu ternyata cuma bantal guling yang dikasih baju dan celana lengkap dengan kepala dari replika kepala plus rambut yang biasa kita temui di salon. Huahahaha.. Gue gak sepenuhnya ketipu. Gak seperti nyokap gue yang tertipu mentah-mentah setelah itu. Nyokap gue malah sempet marah-marahin dan nasehatin tuh 'boneka' lagi. Huahahahahahahahaha.. Kakek gue emang gila. Tapi karena itu gue sayang banget sama dia. Di dalam gila dan isengnya dia ada sayang dan perhatian yang mendalam ke diri gue. Dalam banyolan dan celetukan lucunya tersirat rasa cintanya buat gue. Damn! I'm so in love with him..

Lanjut..

Gue punya cerita menarik yang pengen gue bagi di sini. And It's a real story..
Gue pernah ketemu sama sama seorang kakek berusia 100 tahun dan dua orang nenek yang masing-masing berusia 125 dan 135 tahun. Hebat gak tuh! Kebetulan waktu itu gue didaulat jadi bintang tamunya Bunda Dorce di acara Dorce Shownya dia. Gue dapet peran jadi kakek-kakek gitu dech. Gak pantes banget! Hehehehe..
Yang cowo namanya 'Kong Icang. Lucu banget. Giginya udah abis. Tanpa sisa sedikitpun. Dan orangnya emang lucu. Udah kaya anak kecil banget deh. Yang pasti gue dan dia sama-sama mengalami kesulitan pada saat itu. Gue sulit mengartikan pembicaraan dia, secara giginya udah finish semua. Yang ada ketika maksudnya berbicara, dia malah terlihat seperti bergumam. Di sisi lain, dia juga agak sulit menangkap pembicaraan dan maksud pertanyaan yang gue ajukan ke dia dengan baik. Communication discinnect! Gue kemana, dia kemana. tapi di situ letak serunya. Apalagi waktu dia cuma bisa tersenyum, meski mungkin maksudnya tertawa ketika gue coba nyomblangin dia dengan Bunda Dorce. Hehehe.. Gue jadi inget sama kakek gue, meski umurnya masih dibawah 'Kong Icang.

Gak beda jauh dengan Nyi Ani yang berusia 125 tahun. Bunda Dorce juga agak kesulitan berkomunikasi dengan beliau. Maklum lah. Semakin tua umur seseorang, semakin menurunlah fungsi organ tubuh yang dimilikinya. Terutama pendengarannya. Nyi Ani hanya menyisakan satu gigi di mulutnya. Dia terpaksa tetap duduk di kursi rodanya yang biasa ia gunakan sehari-hari.

Yang agak 'aneh' menurut gue malah nenek yang satu lagi. Umurnya 135 tahun. Tapi dia masih bisa menangkap pembicaraan yang sedang berjalan dan menjawab pertanyaan yang di ajukan jauh lebih baik dari kedua temannya yang ada di situ. Seingat gue, giginya malah masih jauh lebih banyak dari yang lainnya. Mmm.. What's wrong?
Rasa penasaran gue sedikit terobati ketika gue menanyakan 'keanehan' itu kepada seorang Dokter yang juga diundang dalam acara itu. Dia cuma bilang, kalo dia malah gak yakin dengan kebenaran umur mereka. Karena menurut dia gak ada data otentik yang bisa mendukung semua itu. Masuk akal. sama dengan pemikiran gue juga, kalo memang susah mencari data yang sah tentang umur seseorang yang lahir jaman dulu, ketika masalah bukti identitas dan pengarsipannya gak sehebat masa kini. Orang dulu kalo ditanya kapan lahirnya aja mungkin banyak yang gak tau kapan persisnya. Jawaban klisenya cuma satu.. "Kayanya sih bareng pohon nangka di depan rumah di tanem!". Nah, masalahnya pohon nangka gak punya KTP alias Kartu Tanda Pohon yang menjelaskan kapan tanggal lahirnya doi.

Ya sudah lah yaw.. Intinya gue cuma mau bilang juga. Kalo gue pada saat itu jadi ngebayangin, gimana rasanya kalo gue sudah memasuki usia mereka. Apa jadinya gue? Apa gue setangguh mereka dalam menjalani hidup? Apa gue akan sehebat mereka dalam mengarungi pahit getirnya kehidupan? Dan pertanyaan yang paling mendasar adalah, apakah Allah SWT mau memberikan umur yang panjang buat gue supaya gue bisa merasakan masa-masa seperti mereka?

Mmm.. Cuma waktu yang bisa jawab!

Last but not least..
Kita semua mungkin pernah denger ungkapan ini :
Ingat lima perkara, sebelum lima perkara..
•SEHAT sebelum SAKIT..
•MUDA sebelum TUA..
•KAYA sebelum MISKIN..
•LAPANG sebelum SEMPIT..
•HIDUP sebelum MATI..

Gak perlu dijelasin. Karena kita semua pasti orang pintar, meski gak minum Tolak Angin.

Selamat menempuh hidup. Selamat berjalan perlahan menuju senja.

Dan..

Selamat adalah nama merk biskuit di negara kita tercinta. Indonesia.

Merdekaaaa..



East Jakarta. 09.04.07. 19:43 wlg.

Waktu Bukan Batu

What time is it?

Mmm.. nanyain waktu yah? Gak kerasa yah, ngomongin masalah waktu aja pasti udah makan waktu juga.

Waktu emang gak bisa diputar balik. Apa yang kita jalani mungkin udah jadi bagian proses hidup kita. Sama halnya dengan tiap kemenangan dan kekalahan kita dalam tiap kompetisi yang ada dalam rangkaian semu hidup kita.

Waktu bukan batu, yang cuma bisa diam. Yang hanya bisa melihat tanpa melakukan apapun. Waktu adalah sebuah benda tak nyata yang bisa membuat semua hal nyata menjadi tak nyata, begitupun sebaliknya. Jangan pernah salahkan waktu, ketika waktu mempermainkanmu. Karena waktu sendiri tak pernah menyalahkanmu yang sering kali mempermainkannya..

Kita hidup dengan waktu, sementara waktu tak pernah membutuhkan siapapun untuk tetap melanjutkan kearoganannya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.
Kadang kita lengah dengan semua yang kita jalani. Kita lebih asyik bermain dengan semua angan yang seringkali tak tercapai. Bukan karena kita tak mampu. Terlebih semuanya karena kita hanya mengacuhkan sang waktu. Kita lebih memilih untuk berleha-leha, bersantai dengan apa yang ada di depan kita. Lebih senang untuk bilang nanti saja, ketimbang sekarang. Sistem kebut semalam. Mengumpulkan semua yang mestinya bisa dikerjakan satu persatu. Jadi orang yang senang mengkoleksi kesulitan. Jadi orang yang lebih senang menjauhkan diri dari kemudahan.

Waktu berjalan terus. Tak kan pernah berhenti karena ingin kita. Waktu bisa menjadi sahabat, bisa jadi sesuatu yang sangat jahat. Semuanya tergantung dari cara kita bergulat dengannya. Waktu bisa membunuh kita secara perlahan. Waktu pula yang bisa menyelamatkan kita dari keterpurukan.

It's all about time.

Kita butuh waktu untuk memikirkan arah hidup kita.
Kita butuh waktu untuk meluapkan semua kegembiraan kita.
Kita butuh waktu untuk melupakan kesedihan kita.
Bahkan kita butuh waktu untuk menyadari apa arti hidup kita.

Jangan pernah menyerah dengan apa yang ada di depan mata kita. Masalah cuma menjadi masalah, ketika kita menganggapnya sebagai suatu masalah. Teori memang kadang lebih mudah dari praktek. Tapi waktu juga yang akhirnya mengajarkan kita untuk selalu bisa survive mengatasi kepahitan dan kegetiran hidup. Waktu pula yang membuat kita menjadi orang yang lebih dewasa dan mengerti akan arti sang waktu itu sendiri.
Semua orang butuh waktu. Untuk menjadi sesuatu. Untuk mendapatkan sesuatu. Bahkan ketika ia kehilangan sesuatu..

Waktu memang bukan batu.
Waktu adalah sang penentu...!